Sabtu, 18 Januari 2014

Rumah Ukhuwah



“Sebab cinta yang tumbuh itu karena ruh-ruh kita yang menyatu dalam sebuah bingkai yang bernama ukhuwah, dalam rangkulan iman dan mahabbah, maka ketika iman kita turun, ukhuwah pun terasa longgar, kenapa? Bisa jadi karena frekuensi iman kita beda, mungkinkah imanku yang tinggi dan imanmu yang lagi turun atau sebaliknya imanku yang lagi turun dan imanmu yang lagi naik” kata seorang ukhty lantang pada konsolidasi akhwat hari itu. Aku tercengang menatap matanya yang berbinar-binar, semangatnya menyala bagai api yang terus berkobar. Lembut, tapi menembus ke palung hati yang terdalam.
Aku jadi teringat semua kejadian-kejadian yang terjadi disini, semenjak aku  ini di amanahkan di sini, di rumah dakwah yang kian harum namanya, yang menggetarkan hati siapa yang mendengarnya, yang membuat mereka yang pernah berada di sini dengan bangga dan haru menceritakan momentum-momentum sejarah yang telah mereka cetak di ranah yang bernama dakwah kampus. Lalu aku berpikir sejenak, “benarkah aku di amanahkan disini?”...”sanggupkah aku...”...”mampu kah aku? “ dan berbagai pertanyaan lain terus muncul dalam benakku. Tepatnya hari itu, ketika musyawarah  pergantian pengurus di laksanakan di auditorium fkip lama, keringatku menetes kian deras, seluruh tubuhku dingin, akhirnya tak dapat ku bendung lagi dengan seketika air mata ini tumpah ruah, tak peduli di depan ikhwan dan akhwat disitu. Aku bertanya pada diri ini, “ akankah kuat pundak ini mengemban semua ini” , lagi batinku berkata “ bukankah masih ada si A yang lebih bagus amalan yaumiyahnya, lebih bagus hafalannya, lebih bagus interaksi sosialnya, lebih bagus organisasinya, pada intinya lebih unggul dariku”..oleh karena keawamanku, batinku terus saja bertanya-tanya, namun saat itu karena kehadiran sesosok yang bermata teduh dari jauh menatapku, seorang kakak yang selama ini berbuih-buih mengajarkanku tentang tarbiyah, amanah dan lain2. Aku terdiam. Aku menunduk dalam-dalam, “tsiqoh” ya kata-kata itu yang aku ingat, walaupun mungkin pengetahuanku sendiri masih sangat awam saat itu untuk mengerti makna kata itu yang sebenarnya.
Tak hanya sampai disitu, pikiranku terus menerawang jauh kedepan hingga aku tiba di rumah, aku bergegas menuju kamar dan membenamkan diri dalam-dalam dalam lautan si empuk kasur dan bantal, menangis sejadi-jadinya, gak tau menangis karena apa. Hingga aku mendapatkan sms :
“Jika hasil syuro telah menetapkan kita untuk mengemban suatu amanah, maka sebagai kader yang tertarbiyah taat bukanlah suatu pilihan melainkan suatu keharusan. Kepada adinda ........... dan...... selamat mengemban amanah ini . Allahlah yang telah memilih kalian . berusahalah seoptimal mungkin untuk membawa Almudarris semakin lebih baik. Sertakan Almudarris dalam setiap derap langkah kaki kalian, amirah demisioner”
Mataku berkaca-kaca membaca sms ini, sungguh pesan yang sangat dalam, tulus , ikhlas terpancar dari isi nasehat tersebut, ini adalah pesan dari hati seseorang yang sangat mencintai dan menjadikan Almudarris bagian dari hidupnya. Lagi, pukulan itu mngenai hatiku “bisakah aku menunaikan amanah ini?”...............
Aku mengalihkan pikiranku, berhenti berpikir seperti itu!!!, berusahalah seoptimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Jangan bertanya mengapa dan mengapa. Tapi tanyakan pada dirimu apa dan apa yang bisa aku lakukan dan aku berikan untuk dakwah ini. karena ada dan tanpanya aku disini , toh dakwah gak akan mati, ia tetap melaju dengan generasi-generasi yang mulia. Toh aku lah yang membutuhkan dakwah bukan sebaliknya. Karena Allah tidak melihat hasil tapi Allah melihat proses, terus dan teruslah berkontribusi disini, tak ada kata tidak bisa, tak ada kata tak mampu, bi iznillah, mulai lah bekerja dan Allah, Rasulmu dan orang-orang mukmin yang akan melihat kerjamu itu.
                                                                                      ###
Hari-hari terus berganti, ada banyak hikmah yang kutemui disini. Ada banyak kepala disini, tentu juga banyak macam ragam pemikirannya, layaknya para sahabat dulu. Ada yang tegas dan gagah seperti Umar bin Khattab, ada yang lembut seperti Abu bakar, ada yang dermawan dan bijak seperti Usman dan ada yang cerdas seperti Ali. Karena keberagaman ini membuatku begitu merindukan saudara-saudaraku tiap kali aku tak menatp wajahnya. Disinilah aku menemukan makna ukhuwah yang tak tergantikan, menemukan orang-orang luarbiasa yang tersisa di zaman ini. yang rajin menghadiri majlis-majlis zikir mesi tak jarang bermacam rintangan mereka hadapi. Disini aku menemukan sesosok manusia yang itsar nya luar biasa, yang kelembutannya mampu meluluhkan siapa saja, disini pula aku menemukan orang-orang yang begitu sibuk dengan agenda dakwahnya namun prestasiny di bidang akademik juga luar biasa. Tidak hanya itu, yang terpenting bagiku, disini aku seperti menemukan alarm, ya alarm hati yamg senantiasa siap mengingatkan aku krtika langkah-langku mulai goyah dan semangatku melemah. Cukup hanya bertemu dan menatap wajah mereka yang bercahaya, lalu akupun bersemangat kembali.
Tentang ukhuwah ini, sungguh tak dapat aku definisikan dengan kata-kata. Ingin sekali aku mengabadikan setiap moment indahku bersama mereka dam tulisan ini, namun karena kisah ini terlalu indah sulit bagiku untuk menemukan kata-kata yang cocok untuk melukiskan kebahagiaanku berjumpa dengan orang-orang seperti mereka. Tentang cinta ini, hingga terkadang orang-orang di luar sana heran dengan kita dan bertanya “ tidakkah kalian capek, pergi pagi pulang di magrib hari” lalu sebuah senyum simpul muncul di guratan wajah kusam kita. Sungguh, aku berbahagia. Allah mempertemukan kita di jalan ini ikhwatifillah. Aku bahagia, ketika pemuda-pemudi lain di luar sana sibuk dengan dirinya sendiri, namun disini masih ada pemuda-pemudi yang memikirkan orang lain, yang memikirkan saudara-saudaranya di belahan duni islam lain, sungguh aku berbahagia di pertemukan dengan saudara-saudari seperti kalian, dimana ketika mereka diluar sana sibuk memasang pp dengan kekasih haramnya sementara kita kompak memasang pp rab’ah, free palestine, dan gambar-gambar kegiatan dakwah kampus kita. Sungguh aku berbahagia ketika diluar sana, sang teman dengan semangatnya mencomblangi temannya untuk pacaran sementara disini kita saling menegur dan mengingatkan jika sudah ada yang mulai futur dan terkena VMJ. Sungguh aku berbahagia, ketika mereka diluar sana berbangga-bangga dengan cinta lokasi sementara kita tetap bersikeukeuh menjaga hijab diri dan hati. Aku tidak bermaksud memuji ikhwah, aku hanya ingin bersyukur betapa nikmat Allah mengaruniai saudara-saudari yang sholih adalah kenikmatan yang tiada tara.
Dan ikhwah,darimanakah ini bermula? ...,dari rumah ini, ya, tentang rumah ini. rumah kita, rumah ukhuwah, rumah dakwah, yang kita sebut mushalla Almudarris. Meski kini terlihat sering kosong, tak ada yang berhadir. Dan sesampah berserakan disana, debu-debu menempel didindingnya, jauh dari hiruk pikuk mahasiswa  tetap saja aku cinta. Kerab aku membayangkan suatu saat rumah ini kan dipenuhi gelak tawa lagi, oleh orang-orang yang melingkar dalam ukhuwah dan tarbiyah ini, tetap saja ada kenikmatan yang berbeda ketika kita berkumpul disana, karena sejarah telah mencatat ia lah rumah pertama d jantong hate rakyat Aceh yang menggemakan tarbiyah di seantero unsyiah. Namun spertinya ia lebih memilih menyendiri disana, bertafakkur, berzikir pada yang maha kuasa. Ikhwah, sesekali pulanglah... jenguklah ia. Aku melihatnya merindukan kita. Meski terkadang aku sendiri bingung, apakah kita sudah terlalu sibuk sehingga tak ada waktu untuk pulang kerumah hanya sekedar duduk dan bertilawah disana, atau membaca buku-buku dalam lemari yang sudah mulai usang, atau hanya cukup melihatnya sebentar saja untuk memastikan bahwa  ia baik-baik saja. Atau mungkin kita berkata “ ngapain kesana kalau gak ada acara” atau sebagian dari kita mengatakan “ jangan buat acara disana, jauh kali perginya” atau kita sering mebanding-bandingakan antara kini dan dulu? Apa karena rumah kita tak sebagus dulu kita tak mau pulang ? atau apa memang kita sudah tak peduli? ...
Ikhwah... bagus tidak nya rumah ini, adalah tergantung pada kita yang merawatnya. Dan sungguh, ini tak akan mampu di lakukan oleh seseorang, tapi butuh beberapa orang. Entahlah ikhwah, bagaimanapun itu pulanglah ke rumah ukhuwah, ada banyak yang ingin dia ceritakan pada kita, ada banyak cinta disana yang mana sesepuh-sesepuh kita telah duluan mereguknya, dan insya Allah kelak kita juga akan merasakan manisnya bersama di rumah ukhuwah ini. J
Dan bagaimanapun ceritanya, meski di penghujung masa-masa kita di kampus yang sebagian dari kita mulai di sibukkan oleh tugas akhir, aku ingin berterimakasih kepada kalian saudara-saudariku semua yang telah Allah pertemukan kita di jalan dakwah ini, di rumah ukhuwah ini. aku berbahagia menjadi bagian dari rumah ini, kelak cerita ini akn menjadi kisah terindah kita bersama, dimana kita berjuang bersama-sama menyebarkan nilai-nilai kebaikan di kampus tercinta mesti terkadang tak semua senang dengan kita, namun karena kita bersama kita menjdi kuat dan saling menguati. Semoga kelak d syurga Allah pertemukan kita kembali dan kita akan bernostalgia tentang perjuangan ini di atas dipan-dipan yang berwangi kesturi. Semoga ukhuwah tetap terpatri, semoga rabithah di dalam hati, semoga istiqomah hingga ajal menghampiri. Uhibbukum fillah ikhwatifillah ..

2 komentar: