“Sebab cinta yang tumbuh itu karena ruh-ruh kita yang
menyatu dalam sebuah bingkai yang bernama ukhuwah, dalam rangkulan iman dan
mahabbah, maka ketika iman kita turun, ukhuwah pun terasa longgar, kenapa? Bisa
jadi karena frekuensi iman kita beda, mungkinkah imanku yang tinggi dan imanmu
yang lagi turun atau sebaliknya imanku yang lagi turun dan imanmu yang lagi
naik” kata seorang ukhty lantang pada konsolidasi akhwat hari itu. Aku
tercengang menatap matanya yang berbinar-binar, semangatnya menyala bagai api
yang terus berkobar. Lembut, tapi menembus ke palung hati yang terdalam.
Aku jadi teringat semua kejadian-kejadian yang terjadi
disini, semenjak aku ini di amanahkan di
sini, di rumah dakwah yang kian harum namanya, yang menggetarkan hati siapa
yang mendengarnya, yang membuat mereka yang pernah berada di sini dengan bangga
dan haru menceritakan momentum-momentum sejarah yang telah mereka cetak di
ranah yang bernama dakwah kampus. Lalu aku berpikir sejenak, “benarkah aku di
amanahkan disini?”...”sanggupkah aku...”...”mampu kah aku? “ dan berbagai
pertanyaan lain terus muncul dalam benakku. Tepatnya hari itu, ketika
musyawarah pergantian pengurus di
laksanakan di auditorium fkip lama, keringatku menetes kian deras, seluruh
tubuhku dingin, akhirnya tak dapat ku bendung lagi dengan seketika air mata ini
tumpah ruah, tak peduli di depan ikhwan dan akhwat disitu. Aku bertanya pada
diri ini, “ akankah kuat pundak ini mengemban semua ini” , lagi batinku berkata
“ bukankah masih ada si A yang lebih bagus amalan yaumiyahnya, lebih bagus
hafalannya, lebih bagus interaksi sosialnya, lebih bagus organisasinya, pada
intinya lebih unggul dariku”..oleh karena keawamanku, batinku terus saja
bertanya-tanya, namun saat itu karena kehadiran sesosok yang bermata teduh dari
jauh menatapku, seorang kakak yang selama ini berbuih-buih mengajarkanku
tentang tarbiyah, amanah dan lain2. Aku terdiam. Aku menunduk dalam-dalam,
“tsiqoh” ya kata-kata itu yang aku ingat, walaupun mungkin pengetahuanku
sendiri masih sangat awam saat itu untuk mengerti makna kata itu yang
sebenarnya.
Tak hanya sampai disitu, pikiranku terus menerawang jauh
kedepan hingga aku tiba di rumah, aku bergegas menuju kamar dan membenamkan
diri dalam-dalam dalam lautan si empuk kasur dan bantal, menangis
sejadi-jadinya, gak tau menangis karena apa. Hingga aku mendapatkan sms :
“Jika hasil syuro telah menetapkan kita untuk mengemban
suatu amanah, maka sebagai kader yang tertarbiyah taat bukanlah suatu pilihan
melainkan suatu keharusan. Kepada adinda ........... dan...... selamat
mengemban amanah ini . Allahlah yang telah memilih kalian . berusahalah
seoptimal mungkin untuk membawa Almudarris semakin lebih baik. Sertakan
Almudarris dalam setiap derap langkah kaki kalian, amirah demisioner”
Mataku berkaca-kaca membaca sms ini, sungguh pesan yang
sangat dalam, tulus , ikhlas terpancar dari isi nasehat tersebut, ini adalah
pesan dari hati seseorang yang sangat mencintai dan menjadikan Almudarris
bagian dari hidupnya. Lagi, pukulan itu mngenai hatiku “bisakah aku menunaikan
amanah ini?”...............
Aku mengalihkan pikiranku, berhenti berpikir seperti itu!!!,
berusahalah seoptimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Jangan bertanya
mengapa dan mengapa. Tapi tanyakan pada dirimu apa dan apa yang bisa aku lakukan
dan aku berikan untuk dakwah ini. karena ada dan tanpanya aku disini , toh
dakwah gak akan mati, ia tetap melaju dengan generasi-generasi yang mulia. Toh
aku lah yang membutuhkan dakwah bukan sebaliknya. Karena Allah tidak melihat
hasil tapi Allah melihat proses, terus dan teruslah berkontribusi disini, tak
ada kata tidak bisa, tak ada kata tak mampu, bi iznillah, mulai lah bekerja dan
Allah, Rasulmu dan orang-orang mukmin yang akan melihat kerjamu itu.
###
Hari-hari terus berganti, ada banyak hikmah yang kutemui
disini. Ada banyak kepala disini, tentu juga banyak macam ragam pemikirannya,
layaknya para sahabat dulu. Ada yang tegas dan gagah seperti Umar bin Khattab,
ada yang lembut seperti Abu bakar, ada yang dermawan dan bijak seperti Usman
dan ada yang cerdas seperti Ali. Karena keberagaman ini membuatku begitu
merindukan saudara-saudaraku tiap kali aku tak menatp wajahnya. Disinilah aku
menemukan makna ukhuwah yang tak tergantikan, menemukan orang-orang luarbiasa
yang tersisa di zaman ini. yang rajin menghadiri majlis-majlis zikir mesi tak
jarang bermacam rintangan mereka hadapi. Disini aku menemukan sesosok manusia
yang itsar nya luar biasa, yang kelembutannya mampu meluluhkan siapa saja,
disini pula aku menemukan orang-orang yang begitu sibuk dengan agenda dakwahnya
namun prestasiny di bidang akademik juga luar biasa. Tidak hanya itu, yang
terpenting bagiku, disini aku seperti menemukan alarm, ya alarm hati yamg senantiasa
siap mengingatkan aku krtika langkah-langku mulai goyah dan semangatku melemah.
Cukup hanya bertemu dan menatap wajah mereka yang bercahaya, lalu akupun
bersemangat kembali.
Tentang ukhuwah ini, sungguh tak dapat aku definisikan
dengan kata-kata. Ingin sekali aku mengabadikan setiap moment indahku bersama
mereka dam tulisan ini, namun karena kisah ini terlalu indah sulit bagiku untuk
menemukan kata-kata yang cocok untuk melukiskan kebahagiaanku berjumpa dengan
orang-orang seperti mereka. Tentang cinta ini, hingga terkadang orang-orang di
luar sana heran dengan kita dan bertanya “ tidakkah kalian capek, pergi pagi
pulang di magrib hari” lalu sebuah senyum simpul muncul di guratan wajah kusam
kita. Sungguh, aku berbahagia. Allah mempertemukan kita di jalan ini
ikhwatifillah. Aku bahagia, ketika pemuda-pemudi lain di luar sana sibuk dengan
dirinya sendiri, namun disini masih ada pemuda-pemudi yang memikirkan orang
lain, yang memikirkan saudara-saudaranya di belahan duni islam lain, sungguh
aku berbahagia di pertemukan dengan saudara-saudari seperti kalian, dimana
ketika mereka diluar sana sibuk memasang pp dengan kekasih haramnya sementara
kita kompak memasang pp rab’ah, free palestine, dan gambar-gambar kegiatan
dakwah kampus kita. Sungguh aku berbahagia ketika diluar sana, sang teman
dengan semangatnya mencomblangi temannya untuk pacaran sementara disini kita
saling menegur dan mengingatkan jika sudah ada yang mulai futur dan terkena
VMJ. Sungguh aku berbahagia, ketika mereka diluar sana berbangga-bangga dengan
cinta lokasi sementara kita tetap bersikeukeuh menjaga hijab diri dan hati. Aku
tidak bermaksud memuji ikhwah, aku hanya ingin bersyukur betapa nikmat Allah
mengaruniai saudara-saudari yang sholih adalah kenikmatan yang tiada tara.
Dan ikhwah,darimanakah ini bermula? ...,dari rumah ini, ya,
tentang rumah ini. rumah kita, rumah ukhuwah, rumah dakwah, yang kita sebut
mushalla Almudarris. Meski kini terlihat sering kosong, tak ada yang berhadir.
Dan sesampah berserakan disana, debu-debu menempel didindingnya, jauh dari
hiruk pikuk mahasiswa tetap saja aku
cinta. Kerab aku membayangkan suatu saat rumah ini kan dipenuhi gelak tawa
lagi, oleh orang-orang yang melingkar dalam ukhuwah dan tarbiyah ini, tetap
saja ada kenikmatan yang berbeda ketika kita berkumpul disana, karena sejarah
telah mencatat ia lah rumah pertama d jantong hate rakyat Aceh yang menggemakan
tarbiyah di seantero unsyiah. Namun spertinya ia lebih memilih menyendiri
disana, bertafakkur, berzikir pada yang maha kuasa. Ikhwah, sesekali pulanglah...
jenguklah ia. Aku melihatnya merindukan kita. Meski terkadang aku sendiri
bingung, apakah kita sudah terlalu sibuk sehingga tak ada waktu untuk pulang
kerumah hanya sekedar duduk dan bertilawah disana, atau membaca buku-buku dalam
lemari yang sudah mulai usang, atau hanya cukup melihatnya sebentar saja untuk
memastikan bahwa ia baik-baik saja. Atau
mungkin kita berkata “ ngapain kesana kalau gak ada acara” atau sebagian dari
kita mengatakan “ jangan buat acara disana, jauh kali perginya” atau kita
sering mebanding-bandingakan antara kini dan dulu? Apa karena rumah kita tak
sebagus dulu kita tak mau pulang ? atau apa memang kita sudah tak peduli? ...
Ikhwah... bagus tidak nya rumah ini, adalah tergantung pada
kita yang merawatnya. Dan sungguh, ini tak akan mampu di lakukan oleh
seseorang, tapi butuh beberapa orang. Entahlah ikhwah, bagaimanapun itu
pulanglah ke rumah ukhuwah, ada banyak yang ingin dia ceritakan pada kita, ada
banyak cinta disana yang mana sesepuh-sesepuh kita telah duluan mereguknya, dan
insya Allah kelak kita juga akan merasakan manisnya bersama di rumah ukhuwah
ini. J
Dan bagaimanapun ceritanya, meski di penghujung masa-masa
kita di kampus yang sebagian dari kita mulai di sibukkan oleh tugas akhir, aku
ingin berterimakasih kepada kalian saudara-saudariku semua yang telah Allah
pertemukan kita di jalan dakwah ini, di rumah ukhuwah ini. aku berbahagia
menjadi bagian dari rumah ini, kelak cerita ini akn menjadi kisah terindah kita
bersama, dimana kita berjuang bersama-sama menyebarkan nilai-nilai kebaikan di
kampus tercinta mesti terkadang tak semua senang dengan kita, namun karena kita
bersama kita menjdi kuat dan saling menguati. Semoga kelak d syurga Allah
pertemukan kita kembali dan kita akan bernostalgia tentang perjuangan ini di atas
dipan-dipan yang berwangi kesturi. Semoga ukhuwah tetap terpatri, semoga
rabithah di dalam hati, semoga istiqomah hingga ajal menghampiri. Uhibbukum
fillah ikhwatifillah ..


subhanallah kisahnya kak :), sangat menginspirasi
BalasHapusterimaksih...:)
BalasHapus