Sepucuk Surat
Untuk Negeriku, Indonesia
Oleh: Rizka Mulya Phonna
Selamat pagi Indonesia!
Aku
ingin selalu menyapamu begitu. Meski usiamu kini orang bilang sudah tak pagi
lagi. Angka 72 bagi sebagian mereka adalah bagai matahari yang mulai memasuki saat-saat
menjelang malam. Namun, bukankah bagi sebuah bangsa, entah pada umur
keberapapun kita selalu menginginkan suasana pagi di negeri kita. Menghirup
udara segarnya dalam-dalam, menikmati dinginnya diam-diam, merasai damainya
dengan senang, memandang hijaunya dengan tenang, dan mereguk segar tehnya
bersama embunan. Ya, kita harusnya selalu begitu, menginginkan semangat pagi
pada anak-anak bangsa kita. Ah, Indonesia, begitulah aku ingin dirimu selalu.
Pagi, segar, penuh pesona yang membuat mata siapa saja betah untuk berlama-lama
di tanahmu.
Tanahku,
Indonesia.
Aku
ucapkan selamat ulang tahun yang ke 72. Layaknya sebuah bangsa, aku
menginginkanmu selalu aman, semakin maju, jua berbenah tanpa henti. Kau tahu?
Sejak dulu aku selalu bangga menjadi salah satu pewaris tanah ini. Tanah yang
kata orang adalah tanah surga, tanah yang kata orang apapun yang dilemparkan ke
tanah akan tumbuh dengan suburnya, dimanapun orang menyelam lautnya akan pulang
dengan gembira dan penuh syukur atas hasil yang didapatkannya, juga mereka
berkata pada setiap jengkal tanah kita adalah emas, tembaga, batu bara, dan
banyak lagi hasil alamnya.
Indonesia,
terimakasih untuk telah begitu mempesona.
Negeriku
Indonesia….
Kepadamu,
kami selalu mencinta, merayu ingatan kami untuk tak pernah lupa bahwa disini
kami dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimanapun indah tawaran untuk keluar, kami
tetap memilihmu untuk menyandarkan badan. Ketika kami pergi, kami selalu
menyadarkan pikir untuk segera pulang. Sebab pulau-pulaumu terlalu memikat
untuk dipandang, gunung-gunungmu terlalu mempesona untuk terus di abadikan,
pesona rakyatmu yang penuh keragaman dan keramahan selalu membuat mereka yang
dari luar terus ramai berdatangan.
Indonesia…
Teruslah
menjadi tanah yang subur untuk kami tumbuhkan beragam cinta. Teruslah menjadi
damai untuk kami semai banyak karya. Teruslah menjadi kuat untuk kami semat
bermacam cita. Teruslah menjadi satu-satunya tanah tempat kami kembali untuk
kami berbagi cerita. Aku benar-benar menginginkanmu selalu syahdu menatap
keragaman cinta yang tumbuh di bumimu tanpa ada resah yang menghantu.
Duhai,
kepadamu tanah airku!
Aku
ingin diam-diam berbisik, “aku mencintaimu seperti mata mencintai cahaya, ianya
tak dapat memandang tanpa salah satu darinya. Tanpa cahaya apalah arti mata,
yang ada hanya gelap pekat dan suara-suara, begitupun cahaya tanpa mata adalah
pemandangan kosong tanpa warna. Begitu aku padamu, Indonesia, engkau adalah
mata kami memandang dunia, jika engkau indah duniapun terlihat indah, jika
engkau aman dan nyaman, dunia kami pun terasa aman, jika engkau maju, makmur,
hidup kamipu begitu”. Ya, engkau negeri ku adalah mata kami memandang dunia.
Maka teruslah menjadi mata kami yang sempurna tanpa perlu kaca apalagi lensa.
Negeriku
tercinta!
Terimakasih
telah membaca suratku. Menerima sepucuk cinta dari gadismu di pelosok
nusantara. Sekali lagi, ku ucapkan “ Dirgahayu Indonesiaku, semoga rakyatmu
selalu bergotong royong saling bahu-membahu untuk terus memajukanmu, aku
mencintaimu”