Setelah Aku Berada
Dalam Lingkaran Ini
Genap sudah 2
tahun aku berada dalam lingkaran ini, lingkaran yang kian mendamaikan hati,
yang telah melahirkan ku kembali sebagai sosok yang baru, seorang insan yang
sebelumnya berlumuran dosa menari-nari di atas fatamorgana dunia. Aduhai betapa
tak dapat ku bayangkan bejatnya diriku yang dulu, namun sungguh Allah maha
pengasih telah menunjukkan ku cahayaNya , cahaya yang kian berkilau ketika ku
pandang. Ia memberikanku petunjuk , Ia ulurkan tanganNya yang maha agung
menyelamatkanku yang hampir saja jatuh ke jurang yang dalam itu. Kini jika ku
bersenandung maka lagu Maherzein sangat cocok untukku,
“ kini ku tau rasanya hidup dalam cahaya
kasihmu, kini ku tau rasanya menemukan damai di hati .. Seandainya semua tau indahnya
mengabdi padaMu, seandainya semua tau kasihMu lepaskan belenggu, bebaskanku,
kuatkanku.....”
Awalnya, aku
mengenal tarbiyah ini ketika aku kelas 3 aliyah. Seorang guru mengajakku untuk
belajar agama rutin perminggu,dia memberikan kami seorang kakak mentor yang
juga berprofesi sebagai guru . saat itu aku tidak begitu serius menanggapinya,
aku hanya ikut karena tidak enak dengan guruku, namun setelah satu bulan aku
mulai tertarik dengan lingkaran ini, betapa banyak ilmu yang ku dapatkan di
sana, aku yang memang bukan anak seorang ustad berasal dari keluarga yang bisa
di bilang sederhana dalam agama justru semakin tertarik tentang agama, apalagi
aku sekolah di madrasah dan jurusan agama lagi, tentu sangat mendukung.
Perubahan demi perubahanpun terjadi padaku, ibarat nya sang kupu-kupu tak
mungkin ia langsung jadi kupu-kupu yang cantik tentu membutuhkan proses yang
panjang, mulai dari menjadi kepompong, ulat, hingga akhirnya jadilah kupu-kupu
yang cantik, begitu juga denganku. Perubahan itu di mulai dari pakaianku, ya
hijab. Di mulai dari situ, aku ingat persis ketika aku pertama mengenakan
pakain muslimah sesungguhnya. memakai baju panjang yang tidak ketat, rok dan
jilbab itu sudah biasa bagiku, namun kaus kaki dan jilbab yang tebal apalagi
lebar itulah yang jadi masalah pertamaku dalam hijrah. Godaan pertama saat aku
mulai memakai kaus kaki, kawanku berkata :
“aduh , ribet banget sih mul, mau
ke kios depan aja mesti pake kaus kaki, hujan ne lagi yang ada kena becek nanti
kaus kakimu..”
Jujur aja, karena aku baru
memulainya tentunya aku jadi galau sendiri,
“kalau di pikir-pikir betul juga
kata nuna itu, ini kan hujan bisa-bisa kaus kakiku kena becek, capekkan nyuci,
nanti kalau kotor yang ini mesti pakai yang lain lagi, lagian Cuma kedepan kan
gak jauh-jauh kali, pun cowok manada perhatian kali ke kakiku, paling Cuma
nampak sekilas”
Pikiran
jelekku membenarkan perkataan nuna, sang musuh (iblis) tertawa menang,akhirnya
dengan berat hati dan ragu-ragu aku lepaskan kaus kakiku. Keesokan harinyapun
seperti itu lagi, ada-ada saja alasan untuk tidak memakai kaus kaki. Hingga
pada suatu hari kakak mentorku menegurku dan beliau menceritakan ada seorang
cewek yang di perkosa hanya gara-gara sang laki-laki melihat kaki cewek
tersebut yang memang putih mulus. Cerita itu membuatku ngeri sendiri, hingga
setelah itu aku istiqomah dengan kaus kakiku.Alhamdulillah..
Setelah
berhasil bertahan memakai kaus kaki, akhirnya aku memutuskan untuk memakai
jilbab yang tebal dan tidak menerawang lagi, tentu saja hambatannya uang, ya ..
aku harus membeli jilbab baru yang tebal, tapi bagaimana caranya aku tidak
punya uang banyak, paling ayah hanya memberi uang jajan bulanan buatku yang
masih SMA dan memang tidak terlalu membutuhkan banyak uang pada saat itu.
Satu-satunya cara yang hemat dan kreatif yaitu melapisi jilbab tipisku itu
menjadi dua sehingga tidak tipis lagi. Alhamdulillah cara itu bertahan, ya
walaupun jilbab ku tidak selebar kakak mentorku tapi lumayanlah sudah menutupi
dada dan tidak menerawang. Lengkaplah sudah atributku sebagai muslimah. Hijrah
versi pakaian telah berhasil ku lalui, selanjutnya ku memasuki hijrah tahap
pergaulanku dengan teman-teman laki-lakiku. Untuk bagian ini adalah tahap yang
sangat membutuhkan perjuangan extra dariku yang dulu memang cepat akrab dengan
kaum adam itu. Namun berkat perjuangan ku, jatuh bangun hingga akhirnya aku
berhasil melalui tahap ini. Alhamdulillah..
Tiga bulan
berlalu dalam kenikmatan ukhuwah dan halawatul iman. Namun seiring berjalan
waktu, entah kemana jilbab tebal ku itu, entah kemana kaus kakiku,
wallahu’alam. Setelah UAN dan lulus dari madrasah semua jadi kacau kembali.
Pergaulanku kembali bebas, busana muslimahku terbang melayang, ah lagi-lagi
sang musuh tidak begitu mudah mengundurkan dirinya. Setelah lulus madrasah aku
pulang kampung dan tentu saja tarbiyahku terputus karena tidak menatap wajah
sang mentor (aduhai...betapa bejatnya aku). Beberapa kali sang mentor
menghubungiku namun aku tidak mengangkatnya. Tidak cukup dengan telpon,beliau
juga sering mengirimkan sms tausiah dan menanyakan kabar,namun itu tak membuat
hatiku tergerak untuk membalas smsnya. Hatiku betul-betul sudah keras.setan
telah berhasil menguasaiku.
Tibalah
saatnya aku mengikuti tes memasuki perguruan tinggi di provinsi, aku yang
memang alumni madrasah tentu aku sangat tergila-gila dengan IAIN AR RANIRY ,
sejak dari Mtsn aku memang berniat melanjutkan kuliahku di IAIN dan mengambil
jurusan favorite ku bahasa inggris. Namun walau aku memang berniat melanjutkan
studyku di IAIN , ayahku juga menyuruhku mengambil formulir di UNSYIAH untuk
berjaga-jaga. Sama halnya di IAIN , di UNSYIAH aku juga mengambil jurusan
bahasa inggris. Setelah mengikuti tes di kedua universitas ternama di Aceh
tersebut akhirnya aku lulus di UNSYIAH. Betapa sedihnya aku saat itu, ternyata apa
yang aku impikan tidak tercapai. Aku menangis sejadi-jadinya, itu menjadi
pukulan terdahsyat bagiku.belum pernah sebelumnya aku di nyatakan tidak lulus
dalam suatu tes, mungkin itulah teguran Allah buatku. Namun teguran itu tak
berarti apa-apa bagiku, aku semakin jauh denganNya, tingkahku semakin
menjadi-jadi. Hingga akhirnya aku mulai kuliah di UNSYIAH.
Hari-hari
pertama ku di kampus “jantoeng hatee rakyat Aceh itu” ku lalui seperti biasa,
berkawan dengan siapa saja dan pergi kemana saja sesukaku. Aku sudah bisa
menerima kenyataan tidak lulus di AR RANIRY. Awal semester 1 aku sangat santai,
seperti mahasiswa umumnya, aku ikut OSPEK yang di buat di fakultas dan di
jurusan. Setelah tradisi penerimaan mahasiswa baru selesai, mulai dari tingkat
universitas,fakultas hingga jurusan. Maka,jadilah aku seekor kupu-kupu alias
mahasiswa KULIAH PULANG-KULIAH PULANG. Itulah kerjaan ku di semester pertama.
Hingga tiba-tiba pada suatu hari, aku berjalan menuju ke kelasku di kampus,
entah mengapa mataku tertuju pada salah satu mading , aku penasaran dan
mendekat,ku lihat setiap kertas yang di tempel tiba-tiba ada yang menarikku,
ada kegiatan outbond, aku tertarik sekali dan akhirnya aku mendaftar. Aku
mengikuti kegiatan ini dengan terheran-heran, masak outbond pakai rok,aduh
ribet banget pikirku. Dan ternyata disini aku kembali bersua dengan kakak-kakak
yang kerudungnya lebar seperti mentorku waktu aliyah dulu. Memang ternyata
Allah telah menggariskan takdirku .
Aku mulai aktif
lagi tarbiyah, minggu-minggu pertama memang sangat membosankan,tapi
alhamdulillah mentorku itu sangat baik, perhatian, lemah lembut dan cantik.
Tentu saja itu membuatku kagum padanya, ternyata masih ada wanita secantik dia
yang terbalut rapi dalan jilbab lebar dan gamis longgar. Sungguh,senyumnya dan
kata-katanya begitu menghujam hati, seolah-olah kata-katanya itu telah ia susun
rapi dalam syair-syair yang indah hingga membuat kami adik-adiknya kagum dengan
anugrah lisan yang indah yang Allah berikan padanya. Ia juga tidak kaku,
kadang-kadang ia membawakan kami makanan yang memang sangat cocok buat anak kos
seperti kami. Ah rindu rasanya padanya. Melalui perantara lisannya lah aku
terlahirkan kembali seperti sekarang, Allah mengirimnya untuk kembali
menunjukkan jalan yang lurus padaku. Aku kembali memperbaiki diri dari nol,
seperti saat pertama aku hijrah di aliyah. Sedikit demi sedikit akhirnya aku
berhasil memperbaiki kembali lagi busana muslimahku, alhamdulillah jilbabku
sudah lebih bagus dari pada saat aliyah dulu, begitu juga dengan pergaulanku. Tentu
saja mentorku sangat senang dengan perubahanku, ia selalu memberikan motivasi
dan dukungan agar aku istiqomah. Ia juga selalu berpesan agar tampilan luar
sama dengan tampilan dalam, maksudnya bukan hanya luar yang dihijab tapi hati
juga. Aku mulai mengerti dan mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari. Kenikmatan yang kurasakan dalam lingkaran itu kian bertambah
ketika aku berhasil mengajak sahabat karibku ikut berhijrah denganku, aku
sangat senang dan bersyukur kepada Allah atas hidayah yang ia berikan padaku.
Hari-hari ku
lalui dengan memperbanyak amal shalih dan belajar dengan rajin, alhamdulillah
semester dua ipk ku naik jadi 3, betapa bersyukurnya aku terhadap nikmat Allah
yang semakin melimpah padaku. Semester satu yang hanya mempunyai ip 2,6
langsung Allah naikkan ke 3,4 , sungguh nikmatNya tiada tara. Aku semakin
percaya bahwa “jika kita mendekatiNya sejengkal maka Allah akan mendekati kita
sehasta,jika kita mendekatiNya sambil berjalan maka Allah akan menghampiri kita
sambil berlari “ . “maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar
Rahman). Tidak hanya itu, semenjak aku berada dalam lingkaran cinta ini ,aku
juga merasakan lezatnya beribadah kepadanya, nikmatnya tahajud cinta, sejuknya
dhuha, tenangnya tilawahku,al ma’tsuratpun menemani di pagi dan petangku,belum
lagi nikmat atas di berikannya saudara-saudara yang sholihah yang
mengingatkanku kepada Allah,sungguh dalam lingkaran ini kami di persaudarakan
layaknya saudara kandung bahkan lebih dari itu, ukhuwah yang kian manis di
antara kami hingga hati ini kian rindu selalu ingin menatap satu persatu wajah
teduh itu. Subhanallah seolah dunia itu kian tiada apa-apanya jika di
bandingkan dengan halawatul iman dan ukhuwah yang kurasa.
Bulan demi
bulan berlalu tanpa terasa,aku mulai aktif di beberapa organisasi bidang agama
di kampus,kini aku bukan lagi si kupu-kupu,aku senang bisa menghabiskan waktuku
dalam kebaikan dan hal-hal bermanfaat, lagi-lagi nikmat Allah bertambah. Ayah
memberiku mio biru cantik yang siap menemaniku ke jalan kebaikan. Ternyata buah
dari shalat dhuhaku itu menambah rejeki kedua orang tuaku, alhamdulillah.
Adikku yang bungsupun berangsur sembuh dari penyakit sesaknya, ia yang sudah
sakit sejak ia berumur 3 tahun hingga di umurnya yang ke 5 tahun saat ini, ia
kembali sembuh dan bisa menikmati masa kecilnya dengan bebas layaknya anak-anak
yang sehat lainnya.lagi-lagi aku bertanya pada diri “duhai diri yang hina ,
maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?”.
Tidak hanya itu,yang lebih
membuat hatiku semakin bersyukur padaNya adalah keluargaku pun sedikit demi
sedikit mulai hijrah menjadi muslim yang taat dan lebih baik, itu semua berawal
ketika aku hijrah, memang aku tidak pernah berdakwah secara langsung dengan
kata-kata, namun ternyata sikapku,dan penampilanku yang baru membuat
keluargakupun ikut berubah. Di mulai dari adikku yang alhamdulillah kini telah
berhasil hijrah dalam pakaian ,
Alhamdulillah kini ia menjadi semakin cantik dalam balutan kerudung nya.lalu
ayah dan ibuku yang kian hari kian memperbanyak shalat sunnahnya dan memperluas
wawasan keislamannya, itu terlihat dari banyaknya buku-buku baru islam yang
ayah beli. Kini jika aku pulang kerumah, aku merasakan keluargaku semakin penuh
cinta, ketika kami berkumpul ayah suka memulai dengan diskusi-diskusi tentang
islam, begitu juga ibu. Jika sudah waktu shalat alhamdulillah kini keluargaku
shalat berjamaah,maka saat sujud-sujud itulah air mataku menetes, bukan sedih,
namun air mata haru dan bahagia, seolah aku merasakan ini baru keluarga namanya.
Terlebih ketika ku dengar suara tilawah ayahandaku di sayup-sayup subuh yang
dingin, ya Allah, kian lama aku merindukan suara itu, dan kini ku
mendengarkannya lagi setelah bertahun aku tak mendengarnya. Alhamdulillah,
syukurku tak henti-hentinya padaMu Rab.
Kini aku
sadar, nikmat yang kian bertambah di keluargaku itu memang bukan karena
ibadah-ibadahku tapi karena rahman dan rahimnya Allah, tapi itu semua tak lepas
dari CintaNya, dan Ia mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan selalu
berusaha mendekat padaNya.
Maka aku berkata “inilah hasil dari tarbiyah,
bukan hanya berefek pada yang di dakwahi tapi juga pada orang terdekat dengan
orang yang di dakwahi”. Kini di setiap hembusan nafas ini, ku berdo’a pada
Rabbi agar Ia mengistiqomahkan hati ini di jalan yang Ia ridhoi, kepada
saudara-saudaraku syukran atas do’anya, dan ku selalu menanti nasehat-nasehat
darimu, aku percaya salah satu obat hati dan penyebab keistiqomahan itu adalah
karena kita berkumpul dengan orang-orang sholeh, jika sendiri kita akan mudah
futur dan jatuh. Oleh karena itu ku berharap lingkaran cinta ini kan terus
melingkar hingga akhir hayat nanti dan kita menemui husnul khotimah, dan semoga
seperti kita duduk melingkar di dunia mengkaji agamaNya, semoga kelak di syurga
kita juga bersua kembali dan duduk di atas dipan-dipan yang berwangi kesturi
mendengar sang nabi berbicara , amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar