Kamis, 31 Januari 2013

Nil ku keruh.
























Janjimu bagai kabut hitam
Yang mengambang di pelupuk mata
Hingga menutup semua cahaya
Menghalangi jalanku menuju cinta

Janjimu bagai kabut hitam
Yang seolah melarang perjalananku menuju Mesirku
Kata-katamu kini gersang
Membuat Mesir terpanggang

Dan nilku kering
Bersama cahaya nan terik
Apa yang dapat kau rasa ?
Dari setitik salsabila
Dan kini ainul mardhiah terluka

Demi air mata!
Ketika  Nil keruh
Ketika hati bergemuruh
Dan pasir di padang runtuh
Adakah jiwamu merasa?
Betapa hatiku luka 
Namun ku harus rela…

setelah aku berada dalam lingkaran ini


Setelah Aku Berada Dalam Lingkaran Ini
Genap sudah 2 tahun aku berada dalam lingkaran ini, lingkaran yang kian mendamaikan hati, yang telah melahirkan ku kembali sebagai sosok yang baru, seorang insan yang sebelumnya berlumuran dosa menari-nari di atas fatamorgana dunia. Aduhai betapa tak dapat ku bayangkan bejatnya diriku yang dulu, namun sungguh Allah maha pengasih telah menunjukkan ku cahayaNya , cahaya yang kian berkilau ketika ku pandang. Ia memberikanku petunjuk , Ia ulurkan tanganNya yang maha agung menyelamatkanku yang hampir saja jatuh ke jurang yang dalam itu. Kini jika ku bersenandung maka lagu Maherzein sangat cocok untukku,
 “ kini ku tau rasanya hidup dalam cahaya kasihmu, kini ku tau rasanya menemukan damai di hati .. Seandainya semua tau indahnya mengabdi padaMu, seandainya semua tau kasihMu lepaskan belenggu, bebaskanku, kuatkanku.....”
Awalnya, aku mengenal tarbiyah ini ketika aku kelas 3 aliyah. Seorang guru mengajakku untuk belajar agama rutin perminggu,dia memberikan kami seorang kakak mentor yang juga berprofesi sebagai guru . saat itu aku tidak begitu serius menanggapinya, aku hanya ikut karena tidak enak dengan guruku, namun setelah satu bulan aku mulai tertarik dengan lingkaran ini, betapa banyak ilmu yang ku dapatkan di sana, aku yang memang bukan anak seorang ustad berasal dari keluarga yang bisa di bilang sederhana dalam agama justru semakin tertarik tentang agama, apalagi aku sekolah di madrasah dan jurusan agama lagi, tentu sangat mendukung. Perubahan demi perubahanpun terjadi padaku, ibarat nya sang kupu-kupu tak mungkin ia langsung jadi kupu-kupu yang cantik tentu membutuhkan proses yang panjang, mulai dari menjadi kepompong, ulat, hingga akhirnya jadilah kupu-kupu yang cantik, begitu juga denganku. Perubahan itu di mulai dari pakaianku, ya hijab. Di mulai dari situ, aku ingat persis ketika aku pertama mengenakan pakain muslimah sesungguhnya. memakai baju panjang yang tidak ketat, rok dan jilbab itu sudah biasa bagiku, namun kaus kaki dan jilbab yang tebal apalagi lebar itulah yang jadi masalah pertamaku dalam hijrah. Godaan pertama saat aku mulai memakai kaus kaki, kawanku berkata :
“aduh , ribet banget sih mul, mau ke kios depan aja mesti pake kaus kaki, hujan ne lagi yang ada kena becek nanti kaus kakimu..”
Jujur aja, karena aku baru memulainya tentunya aku jadi galau sendiri,
“kalau di pikir-pikir betul juga kata nuna itu, ini kan hujan bisa-bisa kaus kakiku kena becek, capekkan nyuci, nanti kalau kotor yang ini mesti pakai yang lain lagi, lagian Cuma kedepan kan gak jauh-jauh kali, pun cowok manada perhatian kali ke kakiku, paling Cuma nampak sekilas”
Pikiran jelekku membenarkan perkataan nuna, sang musuh (iblis) tertawa menang,akhirnya dengan berat hati dan ragu-ragu aku lepaskan kaus kakiku. Keesokan harinyapun seperti itu lagi, ada-ada saja alasan untuk tidak memakai kaus kaki. Hingga pada suatu hari kakak mentorku menegurku dan beliau menceritakan ada seorang cewek yang di perkosa hanya gara-gara sang laki-laki melihat kaki cewek tersebut yang memang putih mulus. Cerita itu membuatku ngeri sendiri, hingga setelah itu aku istiqomah dengan kaus kakiku.Alhamdulillah..
Setelah berhasil bertahan memakai kaus kaki, akhirnya aku memutuskan untuk memakai jilbab yang tebal dan tidak menerawang lagi, tentu saja hambatannya uang, ya .. aku harus membeli jilbab baru yang tebal, tapi bagaimana caranya aku tidak punya uang banyak, paling ayah hanya memberi uang jajan bulanan buatku yang masih SMA dan memang tidak terlalu membutuhkan banyak uang pada saat itu. Satu-satunya cara yang hemat dan kreatif yaitu melapisi jilbab tipisku itu menjadi dua sehingga tidak tipis lagi. Alhamdulillah cara itu bertahan, ya walaupun jilbab ku tidak selebar kakak mentorku tapi lumayanlah sudah menutupi dada dan tidak menerawang. Lengkaplah sudah atributku sebagai muslimah. Hijrah versi pakaian telah berhasil ku lalui, selanjutnya ku memasuki hijrah tahap pergaulanku dengan teman-teman laki-lakiku. Untuk bagian ini adalah tahap yang sangat membutuhkan perjuangan extra dariku yang dulu memang cepat akrab dengan kaum adam itu. Namun berkat perjuangan ku, jatuh bangun hingga akhirnya aku berhasil melalui tahap ini. Alhamdulillah..
Tiga bulan berlalu dalam kenikmatan ukhuwah dan halawatul iman. Namun seiring berjalan waktu, entah kemana jilbab tebal ku itu, entah kemana kaus kakiku, wallahu’alam. Setelah UAN dan lulus dari madrasah semua jadi kacau kembali. Pergaulanku kembali bebas, busana muslimahku terbang melayang, ah lagi-lagi sang musuh tidak begitu mudah mengundurkan dirinya. Setelah lulus madrasah aku pulang kampung dan tentu saja tarbiyahku terputus karena tidak menatap wajah sang mentor (aduhai...betapa bejatnya aku). Beberapa kali sang mentor menghubungiku namun aku tidak mengangkatnya. Tidak cukup dengan telpon,beliau juga sering mengirimkan sms tausiah dan menanyakan kabar,namun itu tak membuat hatiku tergerak untuk membalas smsnya. Hatiku betul-betul sudah keras.setan telah berhasil menguasaiku.
Tibalah saatnya aku mengikuti tes memasuki perguruan tinggi di provinsi, aku yang memang alumni madrasah tentu aku sangat tergila-gila dengan IAIN AR RANIRY , sejak dari Mtsn aku memang berniat melanjutkan kuliahku di IAIN dan mengambil jurusan favorite ku bahasa inggris. Namun walau aku memang berniat melanjutkan studyku di IAIN , ayahku juga menyuruhku mengambil formulir di UNSYIAH untuk berjaga-jaga. Sama halnya di IAIN , di UNSYIAH aku juga mengambil jurusan bahasa inggris. Setelah mengikuti tes di kedua universitas ternama di Aceh tersebut akhirnya aku lulus di UNSYIAH. Betapa sedihnya aku saat itu, ternyata apa yang aku impikan tidak tercapai. Aku menangis sejadi-jadinya, itu menjadi pukulan terdahsyat bagiku.belum pernah sebelumnya aku di nyatakan tidak lulus dalam suatu tes, mungkin itulah teguran Allah buatku. Namun teguran itu tak berarti apa-apa bagiku, aku semakin jauh denganNya, tingkahku semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya aku mulai kuliah di UNSYIAH.
Hari-hari pertama ku di kampus “jantoeng hatee rakyat Aceh itu” ku lalui seperti biasa, berkawan dengan siapa saja dan pergi kemana saja sesukaku. Aku sudah bisa menerima kenyataan tidak lulus di AR RANIRY. Awal semester 1 aku sangat santai, seperti mahasiswa umumnya, aku ikut OSPEK yang di buat di fakultas dan di jurusan. Setelah tradisi penerimaan mahasiswa baru selesai, mulai dari tingkat universitas,fakultas hingga jurusan. Maka,jadilah aku seekor kupu-kupu alias mahasiswa KULIAH PULANG-KULIAH PULANG. Itulah kerjaan ku di semester pertama. Hingga tiba-tiba pada suatu hari, aku berjalan menuju ke kelasku di kampus, entah mengapa mataku tertuju pada salah satu mading , aku penasaran dan mendekat,ku lihat setiap kertas yang di tempel tiba-tiba ada yang menarikku, ada kegiatan outbond, aku tertarik sekali dan akhirnya aku mendaftar. Aku mengikuti kegiatan ini dengan terheran-heran, masak outbond pakai rok,aduh ribet banget pikirku. Dan ternyata disini aku kembali bersua dengan kakak-kakak yang kerudungnya lebar seperti mentorku waktu aliyah dulu. Memang ternyata Allah telah menggariskan takdirku .
Aku mulai aktif lagi tarbiyah, minggu-minggu pertama memang sangat membosankan,tapi alhamdulillah mentorku itu sangat baik, perhatian, lemah lembut dan cantik. Tentu saja itu membuatku kagum padanya, ternyata masih ada wanita secantik dia yang terbalut rapi dalan jilbab lebar dan gamis longgar. Sungguh,senyumnya dan kata-katanya begitu menghujam hati, seolah-olah kata-katanya itu telah ia susun rapi dalam syair-syair yang indah hingga membuat kami adik-adiknya kagum dengan anugrah lisan yang indah yang Allah berikan padanya. Ia juga tidak kaku, kadang-kadang ia membawakan kami makanan yang memang sangat cocok buat anak kos seperti kami. Ah rindu rasanya padanya. Melalui perantara lisannya lah aku terlahirkan kembali seperti sekarang, Allah mengirimnya untuk kembali menunjukkan jalan yang lurus padaku. Aku kembali memperbaiki diri dari nol, seperti saat pertama aku hijrah di aliyah. Sedikit demi sedikit akhirnya aku berhasil memperbaiki kembali lagi busana muslimahku, alhamdulillah jilbabku sudah lebih bagus dari pada saat aliyah dulu, begitu juga dengan pergaulanku. Tentu saja mentorku sangat senang dengan perubahanku, ia selalu memberikan motivasi dan dukungan agar aku istiqomah. Ia juga selalu berpesan agar tampilan luar sama dengan tampilan dalam, maksudnya bukan hanya luar yang dihijab tapi hati juga. Aku mulai mengerti dan mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kenikmatan yang kurasakan dalam lingkaran itu kian bertambah ketika aku berhasil mengajak sahabat karibku ikut berhijrah denganku, aku sangat senang dan bersyukur kepada Allah atas hidayah yang ia berikan padaku.
Hari-hari ku lalui dengan memperbanyak amal shalih dan belajar dengan rajin, alhamdulillah semester dua ipk ku naik jadi 3, betapa bersyukurnya aku terhadap nikmat Allah yang semakin melimpah padaku. Semester satu yang hanya mempunyai ip 2,6 langsung Allah naikkan ke 3,4 , sungguh nikmatNya tiada tara. Aku semakin percaya bahwa “jika kita mendekatiNya sejengkal maka Allah akan mendekati kita sehasta,jika kita mendekatiNya sambil berjalan maka Allah akan menghampiri kita sambil berlari “ . “maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahman). Tidak hanya itu, semenjak aku berada dalam lingkaran cinta ini ,aku juga merasakan lezatnya beribadah kepadanya, nikmatnya tahajud cinta, sejuknya dhuha, tenangnya tilawahku,al ma’tsuratpun menemani di pagi dan petangku,belum lagi nikmat atas di berikannya saudara-saudara yang sholihah yang mengingatkanku kepada Allah,sungguh dalam lingkaran ini kami di persaudarakan layaknya saudara kandung bahkan lebih dari itu, ukhuwah yang kian manis di antara kami hingga hati ini kian rindu selalu ingin menatap satu persatu wajah teduh itu. Subhanallah seolah dunia itu kian tiada apa-apanya jika di bandingkan dengan halawatul iman dan ukhuwah yang kurasa.
Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa,aku mulai aktif di beberapa organisasi bidang agama di kampus,kini aku bukan lagi si kupu-kupu,aku senang bisa menghabiskan waktuku dalam kebaikan dan hal-hal bermanfaat, lagi-lagi nikmat Allah bertambah. Ayah memberiku mio biru cantik yang siap menemaniku ke jalan kebaikan. Ternyata buah dari shalat dhuhaku itu menambah rejeki kedua orang tuaku, alhamdulillah. Adikku yang bungsupun berangsur sembuh dari penyakit sesaknya, ia yang sudah sakit sejak ia berumur 3 tahun hingga di umurnya yang ke 5 tahun saat ini, ia kembali sembuh dan bisa menikmati masa kecilnya dengan bebas layaknya anak-anak yang sehat lainnya.lagi-lagi aku bertanya pada diri “duhai diri yang hina , maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?”.
Tidak hanya itu,yang lebih membuat hatiku semakin bersyukur padaNya adalah keluargaku pun sedikit demi sedikit mulai hijrah menjadi muslim yang taat dan lebih baik, itu semua berawal ketika aku hijrah, memang aku tidak pernah berdakwah secara langsung dengan kata-kata, namun ternyata sikapku,dan penampilanku yang baru membuat keluargakupun ikut berubah. Di mulai dari adikku yang alhamdulillah kini telah berhasil hijrah dalam pakaian  , Alhamdulillah kini ia menjadi semakin cantik dalam balutan kerudung nya.lalu ayah dan ibuku yang kian hari kian memperbanyak shalat sunnahnya dan memperluas wawasan keislamannya, itu terlihat dari banyaknya buku-buku baru islam yang ayah beli. Kini jika aku pulang kerumah, aku merasakan keluargaku semakin penuh cinta, ketika kami berkumpul ayah suka memulai dengan diskusi-diskusi tentang islam, begitu juga ibu. Jika sudah waktu shalat alhamdulillah kini keluargaku shalat berjamaah,maka saat sujud-sujud itulah air mataku menetes, bukan sedih, namun air mata haru dan bahagia, seolah aku merasakan ini baru keluarga namanya. Terlebih ketika ku dengar suara tilawah ayahandaku di sayup-sayup subuh yang dingin, ya Allah, kian lama aku merindukan suara itu, dan kini ku mendengarkannya lagi setelah bertahun aku tak mendengarnya. Alhamdulillah, syukurku tak henti-hentinya padaMu Rab.
Kini aku sadar, nikmat yang kian bertambah di keluargaku itu memang bukan karena ibadah-ibadahku tapi karena rahman dan rahimnya Allah, tapi itu semua tak lepas dari CintaNya, dan Ia mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan selalu berusaha mendekat padaNya.
 Maka aku berkata “inilah hasil dari tarbiyah, bukan hanya berefek pada yang di dakwahi tapi juga pada orang terdekat dengan orang yang di dakwahi”. Kini di setiap hembusan nafas ini, ku berdo’a pada Rabbi agar Ia mengistiqomahkan hati ini di jalan yang Ia ridhoi, kepada saudara-saudaraku syukran atas do’anya, dan ku selalu menanti nasehat-nasehat darimu, aku percaya salah satu obat hati dan penyebab keistiqomahan itu adalah karena kita berkumpul dengan orang-orang sholeh, jika sendiri kita akan mudah futur dan jatuh. Oleh karena itu ku berharap lingkaran cinta ini kan terus melingkar hingga akhir hayat nanti dan kita menemui husnul khotimah, dan semoga seperti kita duduk melingkar di dunia mengkaji agamaNya, semoga kelak di syurga kita juga bersua kembali dan duduk di atas dipan-dipan yang berwangi kesturi mendengar sang nabi berbicara , amin.