Rabu, 05 November 2014

Catatan Seorang Pendamping :D

Berawal dari sebuah amanah mengantarkanku mengenali kalian lebih jauh.  pada individu-individu yang masing-masingnya memiliki keunikan-keunikan luar biasa. Pada jiwa-jiwa yang begitu tegar menghadapi sosok yang bernama dunia. Kadang aku terpaku hingga menerawang pikirku tentang berkumpulnya anak-anak bangsa yang mempunyai cita tinggi untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Keterbatasan materi yang mencekik cita seseorang untuk mengenyam pendidikan tak menyurutkan langkah kalian untuk terus berusaha merajut mimpi disini. Namun di antara semangat-semangat dan kelebihan-kelebihan itu tentu disana-sini, terdapat kekurangan yang tak dapat dipungkiri.
Disini (Beastudi Etos ) bukan hanya sekedar beastudi biasa, yang selesai dapat uang ya sudah tidak ada follow up nya. Itulah yang membedakan rumah kita ini dengan yang lain. Ini adalah beastudi yang membina generasi-generasi cemerlang, generasi-generasi gemilang yang siap “belajar merawat indonesia” . lembaga ini bukan hanya menonjolkan prestasi duniawi namun juga ukhrawi. Bahkan akhlak lah yang sangat di pentingkan disini. Beranjak dari situ, aku ingin mengatakan pada kalian “ sungguh, tidak lah rugi segala peraturan yang diterapkan disini, karena disini kalian bukan hanya menjadi penerima manfaat tapi kalian di didik untuk bisa memberikan manfaat”. Sejauh mana  kita sudah memberikan manfaat kepada orang lain? Coba kita tanya lagi pada diri kita sendiri, atau jangan-jangan untuk diri sendiripun kita belum bermanfaat. Alangkah merugi jika demikian kiranya, semoga tidak. Kita berharap mesti belum bisa memberi banyak manfaat setidaknya kita sedang belajar memberi manfaat.
Memang terkadang tidaklah mudah untuk merubah diri, pelan-pelan dinda. Tidak perlu langsung berlari atau malah ngebut. Memang semua butuh usaha untuk hijrah ke arah yang lebih baik. Ku lihat ada usaha keras dari kalian adik-adikku untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tak jarang aku menemukan kadang ada keluhan kecil dari kalian, teruslah bersemangat merubah diri adik-adikku, kelak usaha-usaha kalian itu akan ada buahnya.  Teruslah kita memperbaiki diri bersama, mengingatkan bersama dan tumbuh bersama.
Tahukah kalian? Jika boleh aku memilih, aku akan lebih memilih menjadi etoser dibandingkan menjadi pendamping. Bukan aku mengingkari takdir atau iri kepada kalian. Aku juga ingin dibina dan disupport seperti kalian. Namun ternyata jalan hidup kita berbeda, Aku memang bukanlah dari keluarga yang kaya dan juga bukan pula dari keluarga yang kurang mampu, kehidupan keluargaku termasuk kedalam kategori cukup, meski untuk biaya awal kuliah ayahku harus morat-marit mencari pinjaman, bahkan ambil kredit dan menggadaikan sawah kami, namun karena Ayah dan ibu PNS sehingga itu membuat ayahku merasa cukup dan beliau tidak pernah mau mengurus beasiswa yang bersyaratkan dengan surat kurang mampu, beliau selalu berkata kepadaku “ masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan itu dari kita” berangkat dari situlah aku tak pernah mengurus beasiswa yang bersyaratkan surat kurang mampu sekalipun itu adalah beasiswa berprestasi. Namun ternyata Allah mempunyai skenario yang indah, beliau tau apa yang hambaNya butuhkan. Ia beri kan yang aku mau dengan cara yang berbeda, di semester2 tuaku di kampus, Allah meringankan beban ayahku dengan menjadikanku pendamping adik-adik etos, aku mendapatkan tempat tinggal gratis di asrama beserta juga dengan uang saku, sungguh tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Namun dari itu semua, bukan itu yang menjadi targetku, tapi aku menemukan jiwaku disini, selain aku ingin mendapatkan hadiah unta merah dari Allah dengan berharap adanya diantara kalian mendapatkan hidayah dari Allah melalui perantara perkataan atau perbuatanku, aku juga merasa menjadi kalian, ya .. menjadi etoser, ketika kalian mengikuti pembinaan, akupun mendapatkan ilmu disitu, aku duduk dengan kalian mendengarkan pemateri berbicara. Ketika kalian Alma’tsurotan pagi, aku ikut bersama, ketika kalian bersemangat belajar menulis, akupun tak ingin ketinggalan, ketika kalian bersemangat meningkatkan amalan yaumiyah kalian, aku tak akan pernah diam bermalasan sementara kalian begitu syahdu dengan sujud panjang, lantunan qur’an dan hafalan kalian, ketika kalian bersemangat berorganisasi, aku sering membangunkan diri ketika ghirah mulai lemah. Ketika kalian bersemangat menulis mimpi-mimpi kalian dan mencoret satu-satu mimpi kalian yang telah terwujud, aku adalah orang yang paling malu jika aku masih berdiam diri. Dan yang paling sering aku lakukan adalah, mencuri ilmu, ya.. ketika orang-orang dari pusat datang pada tiap semesternya, akupun ikut nimbrung di belakang bersama kalian, sama seperti Career Plan kemarin yang diisi oleh Mas Aris. Meski aku duduk dibelakang bukan sebagai peserta tapi sebagai pendamping, namu aku merasakan diri jadi peserta, aku rasakan setiap sensasi dan mutiara hikmah dari setiap kata motivasi yang diberikan kepada kalian, aku serap hingga kedalalam palung hati. Ketika kalian tersedu menangis karena dahsyatnya doa dan muhasabah hari itu, dari sudut belakang akupun tak bisa membendungkan air mataku, aku teringat akan diri sendiri yang hingga detik ini belum bisa menyelesaikan amanah orang tua.
Begitulah aku, mencari kesempatan dalam kesempitan, sambil menyelam minum susu. Entahlah apa kata kalian, yang pasti aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang Allah beri untuk menimba ilmu di rumah peradaban ini bersama kalian. Posisiku memang pendamping, tapi disatu sisi aku mengannggap aku ini etoser, umurku pun tak terpaut jauh dengan kalian, bahkan jika dibandingkan dengan etoser angkatan 2011 masih banyak yang lebih tua merekanya :D, jadi maklum-maklum saja jika sesekali aku mendadak seperti anak kecil lalu tiba-tiba juga mendadak dewasa. Mungkin ini namanya tuntutan profesi . Sungguh, di rumah ini aku tumbuh dan berkembang bersama kalian, membina dan dibina, mengingatkan dan diingatkan. Sudahlah, yang terpenting dalam hidup ini adalah mensyukuri setiap nikmat yang di berikan. Allah itu maha adil, memberikan nikmat yang sama dengan jalan yang berbeda. Aku bersyukur atas anugrah ini, dan sangat berterimaksih kepada kalian semua yang telah mau membagi banyak inspirasi untukku. Luv yaa..

Disana Ada Cahaya

Deru hujan sore itu menemani kepergianku meninggalkan sesosok manusia yang selama 3 tahun ini menjadi pengisi ruang hati yang ternodai. Aku masih merasakan detak jantung kian tak menentu sambil mengayunkan langkah beratku meninggalkan pandangan kosong laki-laki yang ku kenal lembut dan penyayang itu. Aku tak ingin menoleh sedikitpun pada wajahnya yang sayu,sebab 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk kami saling mengenal dan memahami, ada banyak cerita yang telah terlewati. Pikiranku berkecamuk saat itu, aku membayangkan segenap kenangan 3 tahun lalu dan juga membayangkan pertemuanku beberapa hari kemarin dengan seorang kakak di kajian Rohis. Betapa pertemuan satu jam itu telah mengubah pendirianku, entah mengapa hatiku teduh dan tentram melihatnya dalam balutan kerudung panjangnya, kata-katanya masuk ke palung hatiku dan membuatku berpikir semalaman keras tentang perkataannya itu.
“ Islam tidak melarang pacaran, tapi pacaran yang bagaimana, ya pacaran sesudah menikah dengan suami/istri,malah pacaran yang demikian ini akan mendatangkan pahala bagi kedua pihak, namun jika pacaran yang diluar nikah, maka itu akan mendatangkan dosa dari Allah. Memang dalam Al qur’an Allah tidak mengatakan dilarang pacaran atau sejenisnya, tapi Allah menegur dengan lembut para hambanya dengan berfirman : “ dan janganlah kalian mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al isra’;32), adik-adik yang dirahmati Allah, apakah aktivitas pacaran itu terlepas dari berduaan? Smsan mesra? Boncengan?pegangan tangan?dll?”
Beliau bertanya kepada kami semua. Serta merta kami semua menjawab
“tidak kak..”
“nah, berarti dapat kita simpulkan pacaran itu mendekati zina.........”
Demikian seterusnya penjelasan beliau panjang lebar yang terngiang-ngiang di telingaku, mengusik tidurku dan membuatku tak konsen belajar di kelas seharian karna mengingat-ingat kata beliau. Pikirku mencoba menolak, namun hati kecilku tak dapat memungkiri bahwa apa yang dikatakan kakak ini adalah benar adanya. Yang paling menembus hatiku adalah ketika beliau mengatakan:
 “ Ingatlah saudariku, sesuai janji Allah, perempuan yang baik-baik itu untuk laki-laki yang baik, demikian sebaliknya. Kita akan mendapatkan sesuai apa yang kita tanam. Jika hari ini kita masih berpacaran ria, maka bersiap-siaplah nanti kita juga mendapatkan suami yang masa mudanya mungkin sudah berpacaran beberapa kali dengan wanita, lalu bagaimana perasaan kita? Apakah kita rela hak kita sudah bekas dari orang?”
Ah aku sungguh tertohok dengan kalimat ini, oleh karena itu kumantapkan hati untuk meninggalkan semua cendera dosa itu, aku ingin hidup dengan tenang, menjadi seorang wanita yang taat kepada Allah. Meski berat, aku yakin aku bisa, tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini. Sebelum terlambat, aku megakhiri hubungan haram itu dengan segala konsekuensi. Aku tau, setan tak akan pernah menyerah untuk merayu dan membawa manusia ke lembah dosa, semakin kuat benteng pertahanan kita semakin kuat pula usahanya, aku tak boleh kalah dengan setan, aku takkan membiarkannya menang, TIDAK AKAN!!. Demikian tekad awalku berhijrah menuju cahaya.
Satu minggu kemudian, aku menjadi lebih giat mengikuti pengajian rohis di sekolah, tak ada jum’at tanpa menghadiri majelis zikir itu, aku bahkan menjadi orang yang pertama datang menunggu kak Dira berhadir, ya nama kakak itu Dira, yang telah menyentuh lembut hatiku untuk berhijrah. Dari minggu ke minggu kak Dira memberikan materi bermacam ragam, gaya nya yang santun dan lembut membuatku ingin sekali menjadi seperti dia, aku semakin dekat dengannya, bahkan aku sering smsan dan telponan dengan beliau. Aku sering bertanya seputar islam dan tentang auratnya perempuan. Beliau menjelaskan dengan sabar jika ada pertanyaanku yang kadang-kadang tidak masuk akal.
Sebulan kemudian, aku berhasil merubah penampilanku. Taraaaaaaaaaaa, aku datang ke sekolah dengan kerudung terjuntai panjang dan menutup dada, lengkap dengan manset dan kaos kaki ku. Semua orang terkesima melihat perubahanku, seisi kelas bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sang Rahil Qatrun Nida’ ini. Teman-teman perempuanku datang dan mengerumuni ku dengan segudang pertanyaan.
“ gak panas hil?”
“kamu gak sedang demam kan hil?”
“kamu mimpi apa semalam hil?”
Dan bermacam pertanyaan lainnya, aku hanya tersenyum dan menjawab satu persatu pertanyaan mereka dengan santai. Hari ke hari, penampilanku itu menjadi biasa di sekolah, teman-teman dan guru mulai tak menanyakan lagi tentang itu. Namun ternyata ketika aku pulang kampung, justru ibuku yang syok melihat penampilanku itu. Beliau takut kalau aku sudah masuk aliran sesat atau apalah sejenisnya. Aku menjelaskan dengan sabar hingga ibu mengerti. Ketika semua orang disekelilingku sudah menerima perubahanku itu, ternyata masih ada banyak cobaan di depan mataku. Benar adanya, setan tak akan pernah membiarkan manusia itu tentram dan tenang dalam ibadahnya. Ia akan terus mencari cara untuk menggagalkan apa yang sudah kita bangun dengan susah payah.
Tepatnya, ketika acara perpisahan sekolah. Aku bertemu dengan sosok yang sudah aku delete namanya dalam setahun itu dalam hatiku. Ia hadir dengan manisnya , sopan dan lebih memesona. Ya ternyata ia sudah berubah jua, ia sebagai alumni disekolah itu sengaja di undang oleh pihak OSIS untuk memberikan sambutan dan motivasi dari perwakilan alumni untuk membagikan pengalaman di kampus dan memperkenalkan berbagai macam organisasi mahasiswa. Aku berusaha mengontrol diri, aku yang saat itu menjadi perwakilan dari kelasku untuk menyampaikan kata-kata perpisahan kepada adik-adik dan guru berada dikursi depan tepatnya disamping dia. Aku gemetar dan terus berdoa “ Allah jangan Engkau cabut nikmat mencintaiMu selama ini dengan Engkau hadirkan sosok ini kembali dalam hidupku, kuatkan aku ya Allah”. Aku diam tak bergeming, berpura-pura serius mendengar bapak kepala sekolah yang sedang memberikan sambutannya. Tiba-tiba sosok itu memulai pembicaraan ..
“ Apa kabar Rahil? Tidak terasa ya sudah lulus Aliyah”
Ia menoleh ke arahku sambil tersenyum, aku berusaha bersikap sebiasa mungkin.
“ Baik, alhamdulillah”
Hening kembali, masing-masing kami sibuk dengan pikiran sendiri.
“ mau melanjutkan kuliah kemana?” tanya nya.
“Belum tau “ jawabku ketus.
Tiba-tiba namaku dipanggil untuk menaiki pentas, yess.. aku langsung bangkit dan menuju kepanggung.aku bersyukur sekali Allah menghindariku untuk banyak bercakap dengan pria itu. Setelah aku turun dari panggung, aku langsung ke belakang, aku tidak mau duduk kembali di situ yang bisa menggoyahkan kembali imanku.
Setelah acara ceremonial dan pentas seni perpisahan selesai, seluruh siswa dan guru menikmati jamuan makan siang bersama. Aku tidak berniat lagi mengikuti acara itu, aku ingin segera pulang saja, aku tak ingin berlama-lama disitu karna aku mulai merasakan kekacauan dihatiku, aku beristighfar banyak-banyak dan berniat pulang segera. Namun sayang ternyata ban sepeda motorku kempes dan dengan terpaksa aku harus mendorongnya. Saat aku sedang bersusah payah mengeluarkan motor itu, ia datang menghampiriku.
“mau pulang ya?”
Aku tersentak, ya Allah apa lagi ini.
“ iya “ jawabku.
“mengapa takut sekali melihatku? Aku gak menggigit kok” ia mulai mencairkan suasana
“ Siapa yang takut? Orang Cuma mau pulang” jawabku
“hehe, kamu cantik sekarang dengan kerudung panjangmu”
 Glekkk, aku ingin kabur dari tempat ini. Ya Allah , tolong aku, setan macam apa ini yang datang menghampiriku. Aku mendorong hondaku kembali sambil berlalu tanpa berkata apa-apa.
“ mau dibantu di cariin bengkel?” teriaknya di belakangku.
Aku tak menghiraukannya, aku mendorong motorku secepatnya sambil menangis, beristighfar, dan perasaan tak karuan lainnya, hatiku kacau, aku betul-betul tak tahan lagi. Ia mengejarku dari belakang, aku bisa mendengar derap langkahnya.
“ Rahil, berhenti dulu, bengkelnya jauh dari sekolah, kamu mau dorong sendiri kesana? Sini biar aku yang bawa ke bengkel, kamu tunggu disini saja”
Kini aku menghentikan langkahku, dan ia tepat di hadapanku sekarang ini.
“kamu menangis Hil?” ia menatapku. Tangisku semakin membuncah, serta merta aku berteriak.
“ kamu ngapain disini? Kamu ingin menghancurkan apa yang sudah aku bangun dengan susah payah? Aku sudah tentram dan tenang dengan kehidupan ku sekarang, tolong pergi jauh-jauh dari hidupku, dan jangan pernah ganggu aku lagi. Aku gak ingin kembali ke kehidupan yang bergelimang dosa, belum puas kamu dengan dosa yang udah menggunung tinggi itu? Mau nambah dosa lagi....” dan bla..bla.., aku menyumpah serapah ia tak sopan. Aku tak bisa mengontrol diri lagi. Aku meninggalkan motorku dan dia yang masih terdiam melongo mendapati aku seperti orang depresi yang tak tau arah.aku berlari mencari angkutan pulang, tak peduli dengan motor dan tanggapan nya.
Titt..tit...suara mio dari luar, aku tau itu adalah bunyi sepeda motorku. Namun aku malas keluar,aku yakin ia yang mengantarkan motor ke rumah. Biarkan saja pikirku. Beberapa menit kemudian, aku sudah tak mendengar deruman motor itu, aku keluar dan mendapati motorku beserta dengan kunci di halaman rumah beserta selembar kertas.
“ Rahil, ini motornya ya, bannya sudah ditempel. Uangnya tidak usah diganti, besok aku kembali ke Medan, maaf ya atas kejadian tadi siang, aku tidak berniat mengganggu kamu apalagi mengajak kamu kembali pacaran. Aku juga sama sekali tidak ingin kembali ke lembah dosa itu. Hiduplah dengan tenang, lupakan apa yang harus dilupakan,jadilah muslimah yang baik dan taat kepada Allah.Sekali lagi tolong maafkan semua kesalahanku selama ini yang telah membuat kamu ikut berdosa, aku sangat berterimakasih atas kebesaran hatimu memaafkanku. Saudaramu: Firman”
Ternyata hari perpisahan sekolah itu adalah hari terakhirku bertemu dengan firman karena  di perjalanannya kembali ke Medan ia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Aku baru tau dari temannya, ternyata pasca kami memutuskan hubungan itu, Firman mulai aktif halaqah di kampusnya, bahkan ia aktif di Lembaga Dakwah Kampus di sana. Ia memperbaharui dirinya menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima segala amal ibadahnya.
Berangkat dari kejadian itu, aku mulai mengupgrade diri menjadi muslimah yang taat kepada Allah, aku ingin menjadi wanita surga bertemankan Maryam, Khadijah, Fatimah dan Asiyah nantinya. Aku mengikuti pengajian di kampus setiap minggunya, dan juga mencari komunitas-komunitas islami dikampus, salah satunya dengan bergabung di Lembaga Dakwah Kampus dan Lembaga dakwah Fakultas, aku terus memperbaiki diri dan menjaga hijabku. Kerudung panjang, manset dan kaos kaki adalah pakaianku sehari-hari, aku tenang dan tentram bersamanya, bahkan jika kekurangan salah satunya maka aku merasa belum lengkap dengan penampilanku. Aku menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dalam hidupku, aku mengambil hikmah sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri dan bahkan aku membagikan hikmah untuk orang lain. Mulai saat itu, aku sangat mejaga pergaulan dengan laki-laki, aku berdoa kepada Allah agar mengistiqomahkan hati ini dijalan yang Ia ridhoi. Tak peduli dengan apa kata orang disekelilingku dengan tampilan dan gaya pergaulanku, karena dengan menutup aurat ini menjadikan aku lebih dekat dengan sang pencipta ku, dengan kerudung yang terjuntai panjang ini menghindarkan aku dari bermaksiat dan tak diganggu, selebihnya tujuan akhir adalah mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Sebab aku ingin menjadi wanita surga yang bertemankan Maryam, aku belajar kepadanya bagaimana ia mendaptkan ridho Tuhannya dengan  menjadi Thahratunnisa fil ‘alamin dengan menjaga hijab dan amal ibadahnya. Sebab aku  ingin menjadi wanita surga yang bertemankan Fatimah putrinya Rasulullah, aku belajar kepadanya bagaimana ia mendapatkan ridho Tuhannya dengan menahan rasa cinta di dalam hati hingga tak seorang pun tau kecuali ia dan Tuhannya sampai Allah mempersatukan ia dengan yang dicintainya. Sebab aku ingin menjadi wanita surga yang bertemankan Khadijah, aku belajar akan kedermawanannya dan totalitasnya dalam taat kepada Allah. Sebab aku ingin menjadi wanita surga seperti Asiyah yang Allah bangunkan rumah untuknya di surga, aku belajar darinya tentang keteguhan iman dan kecintaan yang besar pada Allah.
Sebab jika kita ingin menjadi wanita surga, datang dan hampiri hidayah Allah. Takkan lah mungkin lilin itu menyala sendiri tanpa kita cari korek api lalu membakarnya, begitu pula dengan hidayah ini. Ia harus dicari, bukan di nanti. Tak usah malu dan trauma dengan masa lalu, setiap kita punya cerita hidup, ada goresan hitam dan ada pula goresan putih, tergantung pada diri kita masing-masing bagaimana mendelete yang hitam dan menggantinya dengan yang putih. Teruslah berusaha mencari cahaya, jangan diam dalam gelap gulita, mari kita keluar dari kubang dosa, membersihkan diri lalu berjalan mencari cahaya. Tangan allah terbuka lebar untuk menanti kita pulang pada cahayaNya, pada maghfirahNya.
Yakinlah setelah gelap akan ada terang...  disana ada cahaya yang gemilang menanti kita wanita surga. Selamat mencari cahaya dan menjadilah engkau wanita surga 