Konon ceritanya, ketika aku dilahirkan ia tak membersamaiku,
ia jauh dariku berkilo-kilo meter, mencari sesuap nasi untuk istri dan calon
bayinya. pada saat itu belum ada yang namanya Hp apalagi internet. kabar hanya
bisa disampaikan lewat surat. sang ibu melahirkanku penuh perjuangan tanpa
ditemani suami tercinta. aku meronta , menangis saat tiba pertama didunia ini.
sehari kemudian ia tiba dikampung kelahiranku, ia berlari
menuju kamar dan memeluk putri pertamanya kegirangan, ia ciumi bayi merah itu
sambil mengelus kepala sang istri. seolah syukurnya berbinar dari dua bola
matanya, lalu ia menamaiku Rizka Mulya Phonna yang berarti Rizki pertama yang
mulia (kutipan ; dari cerita ibuku :) )
tahunpun berganti, bayi mungil itu tumbuh di bawah
pengawasan Rab nya, bersama sang ibu yang sangat muda baru lulusan SMA dan ayah
yang baru lulus D3. sang ayah suka membelikan baju-baju oblong dan celana
pendek layaknya anak lelaki, sementara ibu suka membelikan baju2 gaun kembang
yang tentunya begitulah untuk sang putri, namun tetap aja kalau ada ayah beliau
meminta supaya dipakaikan baju oblong saja(hahah), sebutan sayang dari ayahpun
menjadi hal yang sangat geli jika saya mengingatnya, "Jacki Chen" oh,
betapa tidak seorang putri di panggil jacki chen, sangat geli rasanya..
Tahun selanjutnya ayah di angkat menjadi PNS dan mengajar di
Madrasah Ibtidaiyah (MI) , setiap kali ayah berangkat ke sekolah saya pasti
selalu minta ikut, sehingga tiap hari saya ikut ayah kesekolah, dan belajar di
kelas satu, sehingga ketika ujian kenaikan kelas, sayapun dinaikkan kelas 2,
ayah tidak setuju karena saya tidak terdaftar dan umur saya masih 5 tahun saat itu,
namun sang wali kelas tetap bersikeras untuk menaikkan saya ke kelas dua,
bahkan beliau mengatakan " jika si rizka tidak kita naikkan kelas, mka
anak2 yang lainpun tidak usah kita naikkan", ayah saya hanya bisa menerima
kenyataan itu sambil mengelus2 kepala saya, saya tersenyum kepadanya
menampakkan gigi ompong, " kamu ya..." ayah mencium saya gemes. saya
pulang kegirangan tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira kepada ibu,
seperti biasa setiap pulang sekolah, karena ayah belum punya sepeda motor maka
kami pulang berjalan kaki berdua sambil belajar perkalian, kadang2 jika aku
sudah kelelahan ayah menggendongku sambil terus menyuruhku untuk menghafal
perkalian dan huruf2 alqur'an.
Ayah memang tak pernah membiasakan kami anak2nya dengan
janji "jika dapat juara kelas, ayah akan belikan ini atau itu.." tapi
beliau selalu memberikan kejutan2 baru jika ada rezeki.
ayah juga sangat tidak suka jika aku manja dan tak
mendengarkan nasehatnya, masih lekat
sekali dalam ingatan ku, pernah suatu hari aku meminta makanan yang makanan
tersebut sudah habis dimakan sepupu2 ku, saat itu aku masih kelas 2 MI,
beberapa kali ibu dan nenek sudah mengatakn it sudah habis, namun aku tak
mendengarkannya, aku semakin rewel dan menangis sejadi2nya. Lalu ayahku
memanggil dengan lembut “ sini sama ayah .. cepat..” aku pun dengan plos
menghampirinya, denagn isakan tangisku , iapun menjelaskannya padaku sama
dengan penjelasan ibu, tetap saja aku tak mendengarkannya. Aku semakin
menangis, akhirnya kemarahan ayah memuncak, lalu iapun mencubitku, aku semakin
menangis,ibu dan nenekpun ikut menangis, ayah masih memberikan pelajaran
padaku, ibuku bangun dari duduknya dan mengambilku dari pangkuan ayah, maka
akupun berhenti menangis dan menahan sesegukan, aku ketakutan melikhat mata
ayah yag memerah memelototiku, sejak hari itu, aku takut sekali dengan ayah..
aku tak mau dekat dengan ayah...tak mau..
beberapa hari ayah menyapaku, aku tak mau meladeni. Aku tak
mau senyum dengan ayah, aku hanya mau berteman denga ibu dan nenek saja. Ayah
sepertinya merasa sedih dan minta maaf, katanya kemarin ayah khilaf, aku yang
lugu mulai iba, dan memaafkan ayah..
Ayahku adalah orang yang tidak pilih kasih, tegas, yang
salah tetap salah walaupun itu anak sendiri, dan yang benar tetap benar .
pernah ketika aku kelas 6 MI, ayah menjadi guru matematika di kelasku, ia
memberikan PR untuk dikerjakan, namun aku tidak mengerjakannya. Maka ketika sampai
di kelas, iapun menyuruh maju satu persatu kedepan, dan yang tidak membuat pr kena
hukuman, maka termasuk lah aku anaknya ini yang tidak membuat pr tersebut,
teman2 pun mengejekku seharian karena kena hukum sama ayahku sendiri. Aku pD
aja berdiri di depan kelas dengan menahan telapak tangan kesakitan karena kena
rol sakti ayahku, tanganku memerah...
Cerita lain, saat aku lulus dari MI, aku belum bisa
mengendarai sepeda.sedangkan pada saat itu aku akan memasuki MTSN yg lumayan
jauh dari rumah. Akupun meminta ayah untuk membelikan sepeda . ayah membelikan
sepeda mungil untukku, karena sudah mau memasuki MTSN tentu aku malu naik
sepeda kecil yang ada roda pula, aku menangis dan ngambek dengan ayah. Ayahpun
menjelaskan itu hanya sepeda sementara untuk belajar. “ Tapi rizka gak mau yang
ada roda, kan malu di ejek sama kawan2 masak udah mau masuk mtsn pake sepeda
yang ada roda, malu yah” aku terus membantah. Ayah malas menjawabnya, beliau
mengambil pancing dan pergi memancing.
Esok harinya aku belajar sepeda sendiri, tapi gak bisa-bisa,
ayahpun mengajariku pelan-pelan, padahal kebanyakan kwan2ku sudah bisa bawa
sepeda sejak kelas 1 MI tanpa di ajari orangtuanya, aku sudah mau masuk mtsn
masih harus di bantu ayah. Akupun di ejek kawan2, akhirnya ayah kembali menjadi
korban “ ayah, rizka bisa sendiri...jangan dibantu, malu dilihat teman2”, “ gak
boleh, nanti kamu jatuh, kan masih ada ayah yang bisa ajarin “. Ayah tetap
ngotot untuk mengajarkanku sepeda sampai aku bisa. 2 minggu akhirnya aku sudah
bisa membawa sepeda tanpa roda lagi, ayahpun membelikan sepeda baru untukku,
senangnya...
Seminggu aku bisa bisa bawa sepeda, aku meihat kawan2 sudah
mulai bisa mengendarai sepeda motor, tentu aku iri dan ingin membawa sepeda
motor juga, kali ini aku tidak berani bawa sendiri, aku meminta ayah untuk
mengajariku, 1 minggu setiap sore di temani ayah, aku belajar mengendarai
honda, sampai suatu hari diam-diam aku mencoba membawa sendiri astrea grand
ayah, berhubung aku belum bisa, maka akupun menekan gigi berbarengan dengan
gas, akhirnya menjeritlah sepeda motornya dan akupun terjatuh, ayah berlari
terburu-buru menghampiriku...
Gadis kecilnya ayah pun beranjak remaja, di mtsn aku bisa
dikatakan termasuk anak yang lumayan berprestasi, betapa tidak pengawasan ayah
dan ibuku terhadap waktu sangat ketat, aku sudah dibiasakan dari MI pulang
sekolah itu tidur siang, setelah itu pergi ngaji, pulang ngaji mandi dan bantu2
ibu di rumah, jika tidak maka membaca buku. Bahkan ayah pernah membakar
mainan2ku hanay karena aku lupa membaca di hari itu. Bermainpun aku tidak
dibolehkan keluyuran jauh, aku boleh membawa teman sebanyak-banyaknya ke rumah
asal bukan aku yang keluyuran. Akupun sangat dilarang untuk makan yang namanya
Mie instan oleh kedua orangtuaku, padahal saat itu anak2 seusiaku suka makan mi
instan tersebut mentah2. Banyak yang bilang hidupku kaku dan terkekang karena
ayahku yan super protektif, bahkan hampir satu kampung anak-anak seusiaku sangat
takut kepada ayah, sehingga merekapun segan denganku.
Di awal2 sekolahku di Mtsn aku masih sangat patuh dengan
aturan ayah, aku masih aktif dengan beragam aktivitas sekolah dan
extrakurikuler. Pernah suatu ketika aku terpilih mewakili sekolah untuk
mengikuti lomba pidato kemerdekaan, siapa yang mengajariku? Bukan guruku tapi
ayahku yang membuatkanku pidato, mengajariku cara berpidato, memberiku motivasi
dan trik2 supaya berani tampil di depan umum. Ayahpun tak lelah melatihku
setiap malam, akupun dimintakan ayah untuk sering praktek berbicara di depan
cermin, hingga aku PD, maka guru public speakingku yang pertama itu adalah ayah
J. Alhamdulillah aku
menang lomba pidato ini juara 1 putri sekecamatan, akupun diminta tampil di malam
pentas seni 17san saat itu di hadapan ribuan penonton yang menikmati pasar
malan dan pergelaran seni, jelas saja aku takut dan tak PD, lagi2 ayah dan ibu
yang menyemanagtiku, ayah mengatakan “ anggap saja gak ada orang, yang ada Cuma
rizka sendiri, ok” , begitulah ayahku, maka malam 17san pun aku dan ayah
berangkat setelah aku didandani sederhana oleh ibu dengan gamis biru dengan
kerudung pink seadanya, ibu tidak ikut karena tidak bisa naik honda bertiga,
apalagi ada adikku, mana muat. Akhirnya akupun berangkat dengan ayah, ibu
tinggal dirumah dengan berdoa harap-harap cemas, di tengah jalan honda kami
mogok, aku turun dan berjalan kaki ayah mendorong honda itu pelan, jam sudah
menunjukkan jam 20.45 sementara aku harus tampil jam 21.00 jarak masih jauh,
ayah terus menghidupkan motor sambil sesekali memandang wajahku gusar, aku
mulai panik. Akhirnya setelah keringat ayah bercucur dan waktu hanya tinggal
beberapa menit lagi honda itupun kembali hidup, ayah membalap honda kencang
hingga kami tiba disana, namaku sudah di panggal beberapa kali. Ayah menyuruhku
berlari ke panggung. Akupun naik ke panggung dengan nafas terengah-engah. Aku
naik ke atas podium dan menarik nafas panjang, aku memandang kedepan ada pak
bupati, camat dan tamu kehormatan lain serta ribuan mata disana, aku mencari
sosok ayah untuk ku temukan kekuatan pada matanya, namun ia tak kunjung tampak,aku
mulai berbicara pelan , nampaklah sosok laki2 paruh baya muncul di depanku, aku
menemukan kekuatanku, aku melanjutkan berpidato dengan semngat disambut tepuk
tangan riuh dari penonton, alhmdulillah berjalan lancar dan pulang membawa
piala bersma ayah sebagai juara 1. Tidak hanya itu, setiap aku mengikuti
perlomabaan tentu ayahku lah yang menjdi pembimbingnya seperti saatku mengikuti
cerdas cermat, beliaulah yang malam2 rela buat sola untuk ditanyakan kepdaku.
Jika di tanya siapa yag membuatku bisa menulis puisi, cerpen, dll? Maka
jawabannya adalah AYAHKU juga, ia yang allah titipkan untuk mengajariku untuk
mengolah kata,menulis dan menulis,.
Dari MTSN-MAN aku dikenal di kabupaten dan sekolah sebagai
salah seorang siswi yang sering banget ikut lomba baca puisi, dan alhamdulillah
sudah menang beberapa kali, walaupun sekarang selama kuliah bakatnya sudah mati
karena tidak di asah. Siapa yang mengajariku baca puisi ? AYAHku juga, bahkan
ia tak segan2 mempraktekkannya di depanku. Guruku yang pertama dalam hidup itu
adalah ayahku dan ibuku, justru aku tak pernah masuk TK , aku belajar membaca
dan menulis langsung dengan ayah dan ibu, belajar mengaji Iqro juga dengan ayah
dan ibu, setelah aku selesai iqro baru di antarkan ke TPA itupun atas
permintaanku, padahal ayahku bisa mengajari sendiri dirumah, ayahku pula yang
mengajari sholat dan lain-lain.
Pada saat aku kelas 2 Mtsn , aku dimintakan guru untuk ikut
bergabung dalam pramuka, awalnya aku hanya diminta untuk menjadi pembaca puisi
aja di pentas pergelaran seni, namun sang guru mengatakan bahwa aku cocoknya
jadi pimpinan regu. Tapi sayangnya ayah tak mengizinkanku, aku terus saja
merengek. Namun rupanya ayah tak luluh, beliau takut pergaulanku semakin bebas
kalau mengikuti pramuka. Akhirnya aku mulai diam-diam mengikuti latihan tanpa
sepengetahuan ayah. Esok malamnya, aku tertidur cepat si ruang tv karena
kelelahan, akupun terus mengigau tentang pramuka yang akan dilaksanakan di
kabupatenku sendiri itu, keesokan harinya ketika aku pulang sekolah , aku
melihat satu set seragam pramuka di kamarku, aku heran siapa yang
membelikannya. Ternyata ibu yang membelinya atas permintaan ayah, itu tanda nya
ayah sudah setuju aku ikut pramuka....:) hatiku berlonjak senang.. aku mulai
aktif di dunia kepramukaan mulai dari JAMCAB,JAMDA hingga akupun terpilih untuk
menjadi delegasi perwakilan dari kabupatenku untuk mengikuti JAMNAS d Jatinangor
,Jawa Barat. Ayah sangat bangga padaku. Aku ingat sekali pada hari pelepasan
oleh pak Bupati, sebelum kami berangkat ayah mengajakku ke pasar tradisional
dan membeli barang2 apa saja yang aku butuhka. Ayahku memang bukanlah orang
yang kaya harta , tapi ia sangat kaya cinta. Saat berangkat ke Bandung, ayah
hanya memberikanku uang RP 500.000 yang sangat hjauh berbeda dengan teman2ku
yang dikasih uang lebih dari 2.000.000, namun aku tau ayahku itu hanya bisa
memberikan segitu, jelas aku lihat beliau sedih, dari awal beliau sudah
mengatakan aku boleh pergi tapi ayah tidak punya banyak uang saku untuk di
berikan. Keyakinanku lah yang membuat ayah semakin yankin untuk melepasku
pergi. Sepanjang perjalanan dan selama aku di kota orang ayah selalu menelpon
ku lewat Hp kakak pendampingku, karena memang saat itu meski teman2 sudah punya
Hp, aku belum punya.
2 minggu aku di kota kembang, akhirnya aku pulang dengan
ceria, saat sampai di kantor bupati Nagan raya untuk penerimaan kembali aku
melihat ayah dari jauh, betapa rindunya aku. Aku berlari memeluknya, matanya
berkaca-kaca seolah ada beban yang ia simpan , tapi akau tak tau apa, sepanjang
perjalanan di atas honda, ia banyak menanyakan bagaimana selama aku disana,
akupun bercerita riang, tiba-tiba ia diam dan mengatakan kalau dirumah lagi
banyak orang. Aku tak mengerti apa maksudnya. Sesampai di rumah, ternyata
memang benar di rumah lagi banyak sekali orang, aku semakin heran ada apa ini,
ketika aku masuk, aku langsung di peluk oleh kakaknya ayah dan kakak ibu,
mereka menangis dan mengatakan 3 hari lalu nenekku (ibu ayah) meninggal dan
telah dikubur, aku terkejut sekali. Mengapa ayah tidak mengabariku? , aku
menangis dan memandang ke arah ayah, ayah hanya diam dan pergi meninggalkanku. Aku
bertambah lemas mendapati ibu terbaring dengan infus di tangannya, ternyata
seminggu kepergianku ibu jatuh sakit, tapi lagi-lagi ayah tak menceritakannya. Aku
menangis, ah ayah mengapa engkau menyimpan bebamn itu sendiri?
Beranjak ke kelas 3 mtsn aku mulai bandel, tak menghiraukan
lagi nasehat ayah, aku mulai suka bohong, keluyuran, sudah berani makn mie
instan tiap hari yang konon mie ini anti sekali di keluargaku, ini semua karena
pergaulanku yang sudah mulai tak terkontrol. Aku berteman dengan teman2 yang
udah tau pacaran, ngecat rambut, make up-an tebel,rebonding, waktu itu lagi
tren bedak mio yang buat kuli putih melepuh. Beruntung aku masih takut dengan
ayah,, sehingga aku tak berani ikut2an seperti mereka walaupun aku berteman
dengan mereka. Akupun mulai di ajak teman-teman JJS haha (jalan-jalan sore sih
katanya) ayah jelas tidak mengizinkan hal2 yang tidak bermanfaat seperti itu.
Tetap saja aku sembunyi2 pergi dengan sahabat dekatku, hingga suatu hari ban
honda bocor dan pulang kemalaman, maka akupun menghabiskan setengah malam itu
mendengar ceramah dari ayah. Hari-hari berikutnya ayah semakin protektif
menjagaku, mungkin karena aku mulai memasuki umur di zona rawan, pergaulanku
sangat di perhatikannya. Hingga kadang2
aku merasa kenapa sih ayah kaku kali, gak kayak orang tua teman2ku yang
membebaskan anaknya lakuin apa aja. Teman2ku pun mengejekku dengan sebutan anak
papi, huhu. Namun semua itu sunggguh banyak sekali hikmahnya, mungkin jika
ayahku tidak seprotektif itu , aku tidak tau bagaimana aku sekarang. Thanks
dad... :*
Kelas 3 itu tidak lama, UAN pun menanti , aku mulai takut,
apakah aku lulus atau tidak, ayah selalu memotivasiku untuk terus berikhtiar.
Aku mulai rajin belajar, semua buku dari kelas 1 aku tumpuk jadi satu, akan aku
santap malam itu juga. Lalu ayah datang dan menyimpan buku2 itu semua sambil berkata
“ bukan sekarang belajar tapi dulu, sekarang istirahat dan refreshing aja, ayo
kita nonton aja” aku ingat sekali malam itu aku nonton tv sama ayah sampai jam 12
malam, sementara ibu baru 15 menit nonton udah tertidur. Keesokan harinya ayah
juga mengajakku menonton pertandingan bola dalam rangka ulang tahun pemuda
gampong. Tak pun aku belajar selama UAN, alhamdlillah aku lulus.
Setelah aku lulus, aku meminta ayah untuk melanjutkan
sekolah ku ke sekolah agama yang sedaag naik daun saat itu yaitu MAK Putri
(madrasah aliyah keagamaan) karena aku tertarik dengan sistem belajar bahasa
inggris dan arab disitu, sejak kelas 1 mtsn aku memang sudah menggilai bahasa
inggris. Ayahpun mengabulkan permintaanku, jika saat Mtsn ayah membiarkan aku
mendaftar sendiri kesekolah bersama teman2, maka kali ini tidak , karena
sekolah ini diluar kabupatenku. MAK putri ini bertempat di Meulaboh, ayah dan
ibulah yang datang langsung mendaftarkanku kesekolah ternama tersebut. Pada saat
hari tes, aku berangkat pagi-pagi buta sekali bersama ayah dengan astrea
grandnya, sesampai disana aku melihat banyak sekali anak-anak diantar oleh
orang tuannya pakai mobil, anak-anak orang kaya tentunya. Hal itu tidak
menciutkan nyaliku. Aku dengan PD mengikuti tes, ayah menungguku hingga
selesai. Dan alhamdulillah aku lulus.
Setelah lulus maka akupun mulai amsuk asrama, banyak hal
yang harus dipersiapkan untuk memulai hidup baru di asrama, jelas banyak sekali
pengeluaran yang ayah keluarkan untukku. Ayah dan ibu kompak sekali membelikan
keperluanku sampai hal-hal yang kecil, bahkan ayah menjahit sendiri tas,dan
seprei untukku . saat aku di asrama, ayah dan ibu rutin menjengukku seminggu
sekali, sampai kadang-kadang ada teman yang iri denganku. Setiap pulang bulanan
ayah selalu menjemputku walaupun selalu akulah siswa terakhir yang di jemput
karena kesibukan ayahku dan jauhnya tempat kami tinggal dengan asrama
sekolahku.
1 tahun di MAK aku mulai bosan dengan aturan2 asrama yang
sangat ketat, aku minta pindah ke kampung saja. Namu ayah tidak mengizinkanku,
beliau menyuruhku bertahan. Namun ternyata tahun itu program asrama MAK itu di
tutup oleh pemerintah, dan kami harus pindah ke MAN biasa, jelas kalau aku
pindah ke MAN biasa di Meulaboh, aku harus kos. Aku meminta supaya ayah
pindhkan sekolah ku ke Darul Ulum di banda Aceh. Ayah tak punya dana. Akupun menyerah
dan minta di pindah ke kampung saja, namun ayah tetap bersikeras aku harus
sekolah di MAN Meulaboh, akhirnya ayah mencari uang sana-sini untuk menyewa
kosan untukku. Akupun mulai sekolah di MAN, dalam 2 tahun itu aku sangat sering
sakit , asam lambungku sudah akut. Akupun sangat sering tidak msuk sekolah,
kadang-kadang ayah harus menjemputku ke meulaboh mendadak, ia jua yang
malam-malam harus mengantarkanku ke rumah sakit , karna kalu sudah begini ibu
tidak bisa apa-apa , beliau pasti panik dan ayah jua yang harus menenangkannya.
Ah ayah.......
Menjelang UAN aku semakin takut dan bingung mau lanjutkan
kuliah kemana , ayah masih setia membimbingku. Alhamdulillah aku lulus UAN dan
akhirnya aku memilih untuk mendaftar ke IAN Ar raniry jurusan bahasa inggris. Namu
ayah tetap menyuruhku mengambil UNSYIAh untuk jaga-jaga. Terakhir aku ke banda
aceh itu tahun 2006, maka pada saat 2010 itu untum mendaftarkan ke kampus,
akupun ditemani ayah ke banda Aceh untuk mengikuti tes. Sayang sekali aku tidak
lulus di IAIN, aku menangis sedih, ayah masih memberiku semangat, aku berharap
lulus UMB, ternyata juga tidak lulus. Sedihku makin menjadi-jadi, aku mendaftar
SNMPTN juga tidak lulus. Sempat aku berkata pada ayah” sudahlah yah, ika gak
usah kuliah aja” ayah hanya tersenyum, “ baru itu aja koq udah nyerah, itu
biasa dalam hidup” . “ tapi yah tes di IaiN udah selesai, di unsyiah juga,
paling tahun depan lagi dibuka” aku meninggikan suara. “ kita daftar ke serambi
ya “ ayah memandangku lekat. “ gak mau yah , itukan swasta. Ika malu sama
teman-teman” aku menangis. “ kenapa harus malu kitakan gak mencuri, dimanapun
kita kuliah kalau kita pandai sama saja” ayah menasehatiku, akhirnya aku
menurut saja sama ayah. Aku sangat sedh karena ayah pernah bercerita dulu
beliau daftra di dua universitas juga seperti aku IAIN dan Unsyiah, beliau
lulus di kedua univ tersebut dan juga beliau yakin kalau aku akan seperti
beliau, ternyata kebalikannya, aku sedih sekali....
Akhirnya setelah mendaftar di serambi, beredarlah info bahwa
di unsyiah di buka progaram mandiri atau nonreguler, ayah kembali
mendaftarkanku disitu dan Alhamdulillah aku lulus di jurusan keinginanku bahasa
inggris. Ayahpun tersenyum bangga padaku, padahal aku malu ayah, egoku tinggi
sekali , dari MI hingga MAN aku menjadi siswa yang berprestasi , jelas aku
tidak menerima kenyataan aku lulus di extensi. Namun nasehat demi nasehat terus
mengalir dari mulut ayah hingga hati ini pun luluh dan lapang karenanya. Aku harus
berlapang hati sebagaimana ayah berlapang hati untuk membayar sppku yang sampai
ayah harus menggadaikan sawah kita karena spp nonreguler itu mahal di tambah
dengan uang pembangunan dan biaya hidup di tahun pertama di Banda, begitu juga
dengan kosan yang mahal. Ah ayah..........
Ah ayah, semester pertama ip ku 2,6 , lagi aku menangis. Egoku
keluar lagi, anak yang dulu selalu masuk 3 besar di sekolah dapat ip 2,6 apa
kata dunia? Namun ayah masih tetap terus memujiku dan terus menasehatiku.
Saat pertama aku merubah diri dan memutuskan untuk berjilbab
syar’i , engkau sangat mendukungnya dan terus memacuku untuk terus berbuat
baik.
Ah ayah, kini ketika ku pulang, ku mendapatimu yang semakin
menua, guratan wajahmu menyemburkan beban hidup yang semakin berat, ubanmu kian
menambah, disekeliling matamu menghitam, tubuhmu semakin kurus,
ayah...ayahku...ayahku ku dekapku tiap kali pulang dan mendengar
cerita-ceritaku, bahkan engkau terlihat cemburu jika aku hanya bercerita dengan
ibu. Ayah , bahkan engkau masih menganggap aku putri kecilmu, panggilan sayangmu
masih saja kau panggilkan. Setiap kali aku melihatmu ingin menanangis, betapa
aku memahami sekarang mengapa engkau super protektif sekali padaku, karena
engkau sayang padaku ayah, karena engkau takut tidak bisa menjaga amanah Rabmu
ayah... ayah tangan mu semakin hitam kasar, keran setiap hari engkau pulang
dari sekolah lalu kesawah di bawah terik matahari yang menyengat. Ayah...
hingga detik ini pun doamu dan kasihmu beruntai untukku, ayah aku tak kuat jika
memandangmu ketika tertidur di depanku, aku mendapati banyak beban di wajahmu
yang Allah titipkan di pundakmu, bahkan tika umurku yang sudah di bilang dewas,
engkau tetap saja masih memperhatikan siapa teman dekatku, mengingatkanku gak
boleh makan mie, ayah..................aku rindu pulang mendekapmu. Bahkan saat
orangtua-orangtua lain malu untuk mencium anak gadisnya yang sudah dewasa,
engkau tidak. Engkau masih menganggapku putri kecilmu, masih suka mencubit
pipiku, mengelus kepala ku, dan tiap kali aku ingin kembail ke Banda Aceh
engkau tak lupa menciumi ku dan mencubit hidungku. Bahkan engkau kompak dengan
ibu mengirim kata2 romantis untukku di hari ulang tahunku dan hari2 penting
dalam hidupku, engkau selalu memantauku dari jauh ayah, aku tak pernah merasa
sepi dari kasihmu ayah, jika ditanya lelaki mana yang kucintai pertama, itu
adalah engkau ayah.. sunggauh aku mencintaimu ayah yang telah membagi sebagian
hidupmu untukku dan ibu...
Semoga kelak Allah membalas semua kebaikanmu, semoga aku
bisa menjadi anak yang menyejukkan hati mu ,membawamu ke surgaNya Allah. Doakan
aku ayah... maaf ayah hingga saat ini belum bis menyelesaikan kuliahku, mohon
terus doakan ku ayah...
Ayahku...adalah sebenar-benarnya ayah.
Pada matanya yang mewanti-wanti
Pada suara batuknya yang menandai
Pada doanya yang
selalu di hati...
Allah...
Sungguh aku mencintai laki-laki ini..
05 Maret 2014
For my Lovely Daddy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar