Kisah
1
‘gedubrakk....’
Suara pintu kamar terbanting keras pagi itu,
aku dibalik pintu terus mengetuk-ngetuk . “dk, bukain pintunya..”, suara di
seberang sana menyahut keras “ kakak kenapa lu cerewet sekali?” . Ada rasa
jengkel, sedih dan kasian bercampur menjadi satu dalam batinku pagi itu. Sang
adik yang sudah beberapa kali aku ingatkan untuk memakai jilbab dan menutup
aurat denga benar itu belum ada perubahan sama sekali, selama ini aku sudah
menasehatinya secara lembut dan ahsan, aku memberikan pemahaman kepadanya
kenapa harus menutup aurat, tapi sepertinya hatinya belum tergerak. Entah
kenapa pagi itu aku sudah benar-benar tidak tahan, dan sangat ingin ia memakai
jilbab dengan benar, hingga aku mengawali pembicaraan itu dengan nada bercanda
“ dik, jilbab itu tipis, dilapisin aja biar gak nampak rambutnya” aku mencoba menasehatinya, “ gak nampak ni
kak, kan jilbabnya warna hitam lagian rambutnya kami sanggul kok, mana nampak”
ia mencoba membela diri. “ nampak lah dk, menerawang. Apalagi kalau dibawah
sinar matahari, lehernya juga nampak, apalagi adik berkulit putih kontras lah
dengan jilbabnya, pasti nampak tu, nih cb lihat...” aku mencoba menjelaskan
sambil mempraktekkan pakai jilbabnya. “ iya..iya kak, nanti adik pake ya”
katanya, “nah gitu dong, sini biar kakak bantuin lapisin” aku mengambil
jilbabnya dan mencoba untuk melapisi 2 jilbab paris itu. Tapi tiba-tiba ia
mendorongku keluar sambil ketawa-ketawa, “ udaj ah kak, nanti kami lapisi
sendiri, kakak keluar aja dulu kami mau ganti baju, hehe”. Begitulah kejadian
pagi itu, namun pada akhirnya ia tidak melaksanakan apa yang aku nasehatkan
tadi, aku terdiam tak bisa berkata-kata, “ ya Alah, bukankah aku sudah
mengingatkan, aku tak bisa berbuat apa-apa, Engkau yang memberi hidayah
sementara aku hanya bertugas untuk mengingatkan” aku bergumam dalam diamku, ku
haturkan rabitah tak henti-henti semoga kelak suatu hari dindaku ini menjadi
muslimah sejati, aku tau mungkin ruhiyahku yang compang-camping hingga mungkin
nasihatku tak masuk ke hatinya, aku beristighfar berkali-kali, “Rab , ampunkan
dosaku
Kisah 2
Sore
itu aku sudah 2 jam menunggu adik-adik binaanku di taman Aac unsyiah, rasanya
bosan memang menunggu, apalagi yang ditunggu tak kunjung datang. “Perasaan
semalam gak ada yang balas gak bisa datang”gumamku dalam hati, tapi kenapa
sudah setengah 6 belum ada yang datang juga. Aku terheran-heran, hingga
memutuskan untuk mengirim sms sekali lagi, barulah sejurus kemudian hp ku di
serbu sms . ada yang membalas “ maaf kak gak bisa datang lagi buat tugas”, lalu
sms kedua “ kak adik gak bisa datang ya kak lagi nyetrika”, aku mengurut dadaku
pelan, sesak rasanya. Namun aku masih sabar menanti balasan berikutnya, “ kak,
adik ada janji ma kawan, maaf kak ya adik lupa bilang”, sms terakhir yang
sangat membuatku ingin menangis dan sesak sekali “ kak adik lagi males pergi
lq, maaf kak ya”, duh rasanya hatiku seperti di cabik-cabik , “ya Allah kenapa
dari semalam gak dibalas, seharusnya aku bisa melakukan pekerjaan lain, ampuni
aku Rab jika ku banyak salah” . aku tak mungkin marah kepada mereka, aku harus
berusaha sebijak dan sesabar mungkin mengahadapi masalah ini, aku membalas
semua sms dengan nada seiolah tidak terjadi apa-apa “ya, tidak apa-apa dik,
semoga lain kali Allah mudahkan langkah kita semua untuk datang halaqah ya,
kakak sayang kalian semua karna Allah J “ begitulah,
selalu harus ada rasa yang dikorbankan dalam dakwah ini, kita harus berdakwah
dengan hikmah. Sekalipun sudah menunggu 2 jam dan tidak ada yang datang tetap
saja ada hikmahnya, Allah sedang mendidikku untuk bersabar. Karena dakwah
adalah cinta maka ia akan meminta segalanya darimu.
Inilah salah dua dari episode sabarku di uji, dan pastinya jenuh pun
menghampiri, kadang timbul rasa tak ingin lagi mengingati jika terus di abaikan
seperti ini, namun apakah harus berhenti disini?, tidak. Dakwah ini tidak cukup
dengan sebatas perkataan, dan tika gagal sekali lalu berhenti?, dakwah ini tak
kenal yang namanya berhenti. Sudah sunnatullah begini, tak ada yang instan disini,
Rasul saja yang kekasih Allah, yang amalannya terjaga, yang ruhiyahnya luar
biasa, yang bahkan mendpatkan gelar Al amin dari kaumnya juga mendapatkan aral
dan rintang dalam dakwah ini, sebab sejatinya jalan ini kan penuh onak dan
duri. Itu belum seberapa jika di bandingakn dengan dakwah generasi awal kita.
Memang terkadang ketika
apa yang kita harapkan tak sesuai dengan hasilnya membuat kita putus asa dan
ingin menyerah saja. Tapi harus kita tau bukankah di ujung sana masih banyak
harapan? Bukankah di balik nya malam kan ada siang yang terang benderang?,
bukankah setelah kesusahan ada kemudahan? Bukankah bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian? Bukankah syurga Allah itu amat menggiurkan? Bukankah
menjadi penerus perjuangannya para ambia itu mulya? .. ah seharusnya
pertanyaan-pertanyaan motivasi semacam ini harus banyak-banyak kita tanyakan ke
pribadi-pribadi kita sendiri supaya hati selalu segar dan bugar untuk terus
menebar kebaikan di bumi ini.
Mungkin kita akan
berkata, untuk teori mudah sih , wong tinggal ngomong aja tapai kenyataan di
lapangan tidak begitu, banyak sekali yang berbalik dari teori 100 derjat
celcius, layaknya ketika kita micro teaching, tentu mudah karena disitu yang
menjadi objek didik kita ya teman-teman seperjuangan kita. Mana mungkin mereka
berani mengganggu proses mengajar kita. Tapi coba lihat ketika praktek lapangan
atau PPL disini kadang-kadang ada yang harus menangis karena di kerjain objek
didik nya. Ya begitulah...tapi yang terpenting disini adalah kesiapan mental,
ruh untuk melembutkan hati-hati yang kita hadapi, karena kita berhadapan dengan
manusia yang mempunyai hati bukan barang sejenis laptop atau benda mati lain. Oleh
karena itu, nasihat-nasihat dari hati maka akan sampai ke hati pula, intinya
bermain dengan hati.
Namun, ini semua tak
semudah membalikkan kedua telapak tangan. Merubah tabiat seseorang yang sudah
melekat bertahun-tahun tak bisa kita lakukan dalam sehari, semua butuh proses,
masih ingatkah kita proses hijrahnya diri kita sendiri? Mungkin kita akan
mengingat betapa luar biasanya ustad/ustazah,murabbi/murabbiyah atau guru-guru
kita yang telah berhasil mendidik kita menjadi lebih baik. Coba kita bercermin
pada diri sendiri, ada berapa banyak nasihat-nasihat mereka dulu yang kita
abaikan? Ada berapa banyak tausiyah-tausiyah mereka yang kita acuhkan? Dan lain-lain.
Apakah mereka jenuh/bosan? , kalau saya jawab tentu , pasti perasaan itu setidaknya
pernah hinggap pada mereka, namun apakah mereka berhenti? Tidak . mereka tak
membiarkan rasa jenuh itu terus erkembang dalam diri mereka. Mereka terus
mengisi jiwa-jiwa mereka dengan ruh-ruh baru dengan semangat-semangat baru,
terus mendekatkan diri dengan Allah, terus berdakwah dan mendoakan yang di
dakwahi hingga Allah membukankan pintu-pintu hati itu satu persatu. Betapa senangnya
kita ketika melihat mereka yang mendpat hidayah
melalui dakwah kita, dan Allah un telah menyiapkan rumah di surga untuk
kita, tidak kah ini dapat menghancurkan rasa jenuh atau malas yang sudah
membeku di hati? ....
***tentang adik-adikku
yang pernah membiarkan aku menunggu hingga 2 jam itu, kini mereka begitu rutin
menghadiri halaqahnya, Alhamdulillah telah menutup aurat dengan rapi.
***Dan tentang adikku
yang sempat mengatakan aku cerewet (:D) mudah-mudahan Allah mudahkan untuk
terus memperbaiki diri J betapa sesungguhnya akau snagat
mencintaimu dinda ^_^
Sesungguhnya kita tau Allahlah yang memberi
hidayah kepada manusia, tugas kita hanyalah saling mengingatkan, “dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs Ali imran
;104) dan sudah menjadi kewajiban kita untuk
menyampaikan kepada saudara-saudar kita yang belum tau,”Sesungguhnya
orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa
keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya
kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula)
oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,(QS:
Al-Baqarah: 159).
Jangan
pernah lelah untuk menebar kebaikan dan manfaat untuk sesama, tika jenuh itu
menyapa bersegerahlah untuk kembali mencharger ruhiyah diri, meminta energi
pada yang maha kuat, meminta kemudahan pada sang pemegang kunci hati-hatinya
para manusia. Mengambil cinta dari langit lalu menebarkan di bumi J
, Wallahu’alam...
***semoga bermanfaat, mohon maaf
jika ada yang salah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar