Kamis, 06 Februari 2014

Tika Sabar diuji dan Jenuh Menghampiri

Kisah 1
‘gedubrakk....’
Suara pintu kamar terbanting keras pagi itu, aku dibalik pintu terus mengetuk-ngetuk . “dk, bukain pintunya..”, suara di seberang sana menyahut keras “ kakak kenapa lu cerewet sekali?” . Ada rasa jengkel, sedih dan kasian bercampur menjadi satu dalam batinku pagi itu. Sang adik yang sudah beberapa kali aku ingatkan untuk memakai jilbab dan menutup aurat denga benar itu belum ada perubahan sama sekali, selama ini aku sudah menasehatinya secara lembut dan ahsan, aku memberikan pemahaman kepadanya kenapa harus menutup aurat, tapi sepertinya hatinya belum tergerak. Entah kenapa pagi itu aku sudah benar-benar tidak tahan, dan sangat ingin ia memakai jilbab dengan benar, hingga aku mengawali pembicaraan itu dengan nada bercanda “ dik, jilbab itu tipis, dilapisin aja biar gak nampak rambutnya”  aku mencoba menasehatinya, “ gak nampak ni kak, kan jilbabnya warna hitam lagian rambutnya kami sanggul kok, mana nampak” ia mencoba membela diri. “ nampak lah dk, menerawang. Apalagi kalau dibawah sinar matahari, lehernya juga nampak, apalagi adik berkulit putih kontras lah dengan jilbabnya, pasti nampak tu, nih cb lihat...” aku mencoba menjelaskan sambil mempraktekkan pakai jilbabnya. “ iya..iya kak, nanti adik pake ya” katanya, “nah gitu dong, sini biar kakak bantuin lapisin” aku mengambil jilbabnya dan mencoba untuk melapisi 2 jilbab paris itu. Tapi tiba-tiba ia mendorongku keluar sambil ketawa-ketawa, “ udaj ah kak, nanti kami lapisi sendiri, kakak keluar aja dulu kami mau ganti baju, hehe”. Begitulah kejadian pagi itu, namun pada akhirnya ia tidak melaksanakan apa yang aku nasehatkan tadi, aku terdiam tak bisa berkata-kata, “ ya Alah, bukankah aku sudah mengingatkan, aku tak bisa berbuat apa-apa, Engkau yang memberi hidayah sementara aku hanya bertugas untuk mengingatkan” aku bergumam dalam diamku, ku haturkan rabitah tak henti-henti semoga kelak suatu hari dindaku ini menjadi muslimah sejati, aku tau mungkin ruhiyahku yang compang-camping hingga mungkin nasihatku tak masuk ke hatinya, aku beristighfar berkali-kali, “Rab , ampunkan dosaku
Kisah  2                      
Sore itu aku sudah 2 jam menunggu adik-adik binaanku di taman Aac unsyiah, rasanya bosan memang menunggu, apalagi yang ditunggu tak kunjung datang. “Perasaan semalam gak ada yang balas gak bisa datang”gumamku dalam hati, tapi kenapa sudah setengah 6 belum ada yang datang juga. Aku terheran-heran, hingga memutuskan untuk mengirim sms sekali lagi, barulah sejurus kemudian hp ku di serbu sms . ada yang membalas “ maaf kak gak bisa datang lagi buat tugas”, lalu sms kedua “ kak adik gak bisa datang ya kak lagi nyetrika”, aku mengurut dadaku pelan, sesak rasanya. Namun aku masih sabar menanti balasan berikutnya, “ kak, adik ada janji ma kawan, maaf kak ya adik lupa bilang”, sms terakhir yang sangat membuatku ingin menangis dan sesak sekali “ kak adik lagi males pergi lq, maaf kak ya”, duh rasanya hatiku seperti di cabik-cabik , “ya Allah kenapa dari semalam gak dibalas, seharusnya aku bisa melakukan pekerjaan lain, ampuni aku Rab jika ku banyak salah” . aku tak mungkin marah kepada mereka, aku harus berusaha sebijak dan sesabar mungkin mengahadapi masalah ini, aku membalas semua sms dengan nada seiolah tidak terjadi apa-apa “ya, tidak apa-apa dik, semoga lain kali Allah mudahkan langkah kita semua untuk datang halaqah ya, kakak sayang kalian semua karna Allah J “ begitulah, selalu harus ada rasa yang dikorbankan dalam dakwah ini, kita harus berdakwah dengan hikmah. Sekalipun sudah menunggu 2 jam dan tidak ada yang datang tetap saja ada hikmahnya, Allah sedang mendidikku untuk bersabar. Karena dakwah adalah cinta maka ia akan meminta segalanya darimu.
Inilah salah dua dari  episode sabarku di uji, dan pastinya jenuh pun menghampiri, kadang timbul rasa tak ingin lagi mengingati jika terus di abaikan seperti ini, namun apakah harus berhenti disini?, tidak. Dakwah ini tidak cukup dengan sebatas perkataan, dan tika gagal sekali lalu berhenti?, dakwah ini tak kenal yang namanya berhenti. Sudah sunnatullah begini, tak ada yang instan disini, Rasul saja yang kekasih Allah, yang amalannya terjaga, yang ruhiyahnya luar biasa, yang bahkan mendpatkan gelar Al amin dari kaumnya juga mendapatkan aral dan rintang dalam dakwah ini, sebab sejatinya jalan ini kan penuh onak dan duri. Itu belum seberapa jika di bandingakn dengan dakwah generasi awal kita.
Memang terkadang ketika apa yang kita harapkan tak sesuai dengan hasilnya membuat kita putus asa dan ingin menyerah saja. Tapi harus kita tau bukankah di ujung sana masih banyak harapan? Bukankah di balik nya malam kan ada siang yang terang benderang?, bukankah setelah kesusahan ada kemudahan? Bukankah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian? Bukankah syurga Allah itu amat menggiurkan? Bukankah menjadi penerus perjuangannya para ambia itu mulya? .. ah seharusnya pertanyaan-pertanyaan motivasi semacam ini harus banyak-banyak kita tanyakan ke pribadi-pribadi kita sendiri supaya hati selalu segar dan bugar untuk terus menebar kebaikan di bumi ini.
Mungkin kita akan berkata, untuk teori mudah sih , wong tinggal ngomong aja tapai kenyataan di lapangan tidak begitu, banyak sekali yang berbalik dari teori 100 derjat celcius, layaknya ketika kita micro teaching, tentu mudah karena disitu yang menjadi objek didik kita ya teman-teman seperjuangan kita. Mana mungkin mereka berani mengganggu proses mengajar kita. Tapi coba lihat ketika praktek lapangan atau PPL disini kadang-kadang ada yang harus menangis karena di kerjain objek didik nya. Ya begitulah...tapi yang terpenting disini adalah kesiapan mental, ruh untuk melembutkan hati-hati yang kita hadapi, karena kita berhadapan dengan manusia yang mempunyai hati bukan barang sejenis laptop atau benda mati lain. Oleh karena itu, nasihat-nasihat dari hati maka akan sampai ke hati pula, intinya bermain dengan hati.
Namun, ini semua tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Merubah tabiat seseorang yang sudah melekat bertahun-tahun tak bisa kita lakukan dalam sehari, semua butuh proses, masih ingatkah kita proses hijrahnya diri kita sendiri? Mungkin kita akan mengingat betapa luar biasanya ustad/ustazah,murabbi/murabbiyah atau guru-guru kita yang telah berhasil mendidik kita menjadi lebih baik. Coba kita bercermin pada diri sendiri, ada berapa banyak nasihat-nasihat mereka dulu yang kita abaikan? Ada berapa banyak tausiyah-tausiyah mereka yang kita acuhkan? Dan lain-lain. Apakah mereka jenuh/bosan? , kalau saya jawab tentu , pasti perasaan itu setidaknya pernah hinggap pada mereka, namun apakah mereka berhenti? Tidak . mereka tak membiarkan rasa jenuh itu terus erkembang dalam diri mereka. Mereka terus mengisi jiwa-jiwa mereka dengan ruh-ruh baru dengan semangat-semangat baru, terus mendekatkan diri dengan Allah, terus berdakwah dan mendoakan yang di dakwahi hingga Allah membukankan pintu-pintu hati itu satu persatu. Betapa senangnya kita ketika melihat mereka yang mendpat hidayah  melalui dakwah kita, dan Allah un telah menyiapkan rumah di surga untuk kita, tidak kah ini dapat menghancurkan rasa jenuh atau malas yang sudah membeku di hati? ....
***tentang adik-adikku yang pernah membiarkan aku menunggu hingga 2 jam itu, kini mereka begitu rutin menghadiri halaqahnya, Alhamdulillah telah menutup aurat dengan rapi.
***Dan tentang adikku yang sempat mengatakan aku cerewet (:D) mudah-mudahan Allah mudahkan untuk terus memperbaiki diri J betapa sesungguhnya akau snagat mencintaimu dinda ^_^
 Sesungguhnya kita tau Allahlah yang memberi hidayah kepada manusia, tugas kita hanyalah saling mengingatkan, “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs Ali imran ;104) dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan kepada saudara-saudar kita yang belum tau,”Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,(QS: Al-Baqarah: 159).
Jangan pernah lelah untuk menebar kebaikan dan manfaat untuk sesama, tika jenuh itu menyapa bersegerahlah untuk kembali mencharger ruhiyah diri, meminta energi pada yang maha kuat, meminta kemudahan pada sang pemegang kunci hati-hatinya para manusia. Mengambil cinta dari langit lalu menebarkan di bumi J , Wallahu’alam...
***semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar