Dunya,
16 Desember 2015
Assalamu’alaykum ya
Rasul…
Perkenalkan namaku Rizka. Wahai Rasulullah,
perkenankan aku seorang umat akhir zaman menorehkan tinta untuk kuungkapkan
rasa rindu yang terlalu dalam kepadamu, rasa rindu yang menggebu, kadang haru
dan kadang beku yang hanya bisa kucurahkan dalam shalawat takzimku dan mencoba
untuk mengikuti sunnahmu sebisaku. Wahai Rasul, sungguh engkau hadir ke dunia
berabad-abad yang lalu namun namamu masih mengharum di bumi, shalawat cinta,
salam takzim, dan pucuk-pucuk rindu masih mengaroma ke angkasa raya. Duhai yang
dicinta, jangankan kami bahkan Allah dan para malaikatpun bershalawat kepadamu
sebagaimana Allah firmankan dalam surat cintaNya Alqur’an yang mulia.
Allahahumma shalli ‘ala Muhammad…
Ya habiby, tika aku kecil ibu dan
ayah sering bercerita kepadaku tentang sesosok pemuda keren yang katanya
terlahir dari keluarga mulia, mempunyai akhlak yang mulia, bergelarkan yang
terpercaya, dan dimu’jizatkan Alqur’an yang mulia. Tidak hanya itu, aku tau
namamu, kapan lahirmu, nama ayah dan ibumu, kakekmu, hingga pamanmu dan kisah
engkau bersama bani sa’ad sungguh membuat anak kecil ini takjub dan penasaran
bagaimanakah wajah yang mulia Muhammad Al musthafa. Lalu, tahun silih berganti,
aku yang disekolahkan di madrasah dari MI, Mts, dan MA tentu tak pernah lepas
dari mempelajari tentangmu. Namun wahai Rasul tak pernah sama sekali aku merasa
bosan mendengar dan membaca kisahmu. Bertambah lagi ketika aku mulai beranjak
dewasa, di kampus aku dikenalkan dengan sebuah buku oleh seorang kakak yang
berjudul “Shirah Nabawiyah” , disitu aku semakin terpesona dengan akhlakmu.
Bagaimana engkau mengadili bani-bani yang sedang berselisih siapakah yang akan
memindahkan hajarul aswad ke tempatnya lalu engkau datang memberi solusi
sehingga tidak ada yang merasa terdholimi, belum lagi kisah mu memberikan roti
kepada yahudi buta yang terus menghinamu di pasar bahkan hingga engkau wafat
dan pekerjaan ini digantikan oleh Abu bakar ia masih saja menghinamu hingga ia
tersadar bahwa yang menyuapnya saat itu bukanlah dirimu, lalu Abu bakar
bercerita bahwa yang memberikannya roti selama ini telah tiada. Maka dengan
derai air mata ia memeluk islam yang mulia. Sungguh wahai rasul, aku tersedu
mendengar cerita ini, betapa engkau mengajarkan kami berdakwah itu dengan ahsan
meski yang didakwahi mencaci.
Wahai ke kasih Allah, baris
perbaris shirahmu ku baca, aku semakin merasa cinta. Betapa perjuanganmu
menyebarkan risalah Allah ini tidak mudah. Telah kubaca bagaimana engkau
diejek, dicaci, dituduh penyihir dan di asingkan di negerimu sendiri. Telah ku
dengar bagaimana mereka menyiksa awwalul muslimin saat itu, telah sampai
kepadaku berita kemenangan badar dan kekalahan di Uhud, telah aku simak
bagaimana perjalanan hijrah yang membiru, dan akhir hidupmu yang membuatku
makin tersedu. terimakasih ya Rasul engkau telah mengenalkan kami kepada islam
yang sempurna, maafkanlah kami umatmu yang sering alpa lagi lupa bagaimana
perjuanganmu menyebar islam. Terimakasih ya Rasul untuk kalimat akhirmu yang
begitu penuh cinta, kalimat “ummati…ummati…ummmati” yang menggetarkan hati
siapa saja. Ya rasul bahkan di akhir hidupmu, engkau masih memikirkan bagaimana
nasib umat ini. Tak engkau tanyakan dimana Aisyah, Fatimah, Hasan atau Husen
tapi engkau memanggil dengan penuh cinta “ummati..ummati ..ummati”. Saat
nyawamu sudah dikerongkonganpun engkau masih bertanya “ wahai jibril, beginikah
rasanya sakaratul maut itu? Apakah umatku akan merasakan ini? Kalau iya, maka
tumpahkan saja semua rasa sakit itu kepadaku, agar mereka tidak merasakannya
lagi” wahai rasul, betapa mulia dirimu, Jibril pun tak sanggup berkata
menyaksikan mu dengan Tanya seperti itu. Ya Allah, betapa aku rindu..rindu
bertemu rasul, rindu bisa melihat dan mendengar langsung kekasih yang mulia
berbicara kepadaku. Waha Rasul bisakah aku bertetangga denganmu di surga? T_T aku takut ya Rasul kalau amal-amalku tak
cukup untuk hanya bisa bertetangga denganmu disana. Aku ingin sekali wahai
Rasul berjumpa denganmu meski hanya dalam mimpi. Maka wahai rasul, doakan aku
agar bisa bertetangga denganmu disurga, berikan syafaat kepadaku, aku ingin
nanti di surge engkau berkata “ oh ini ummatku Rizka yang dulu pernah menulis
surat cinta untukku dan ia terus berusaha mengikuti sunnahku, mengerjakan
perintah Allah dan meninggalkan laranganNya”, ah betapa aku bahagia saat itu.
Ya rasul, jika kutulis sungguh
rinduku belum cukup kuuraikan di atas 2 lembar kertas ini, semoga kelak Allah
memperjumpakan kita untukku bercerita bagaimana dunia sepeninggalmu terutama
dimasaku. Sampai disini dulu ya Nabi…Allahumma shalli ‘ala Muhammad..
Wassalam, yang merindu…
