Sabtu, 31 Desember 2011

Muhasabah Akhir Tahun

image
Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)

Kamis, 22 Desember 2011

Maafkan ku , ibu !


       pagi itu , tepatnya jam 05.30 aku seperti biasa masih bergemul dalam selimutku, ibu telah beberapa kali membangunkan ku, namun dengan acuh tak acuh aku bangkit dari tidurku, duduk di atas ranjang dengan posisi mata masih tertutup, kemudian aku kembali terjatuh di atas kasur yang empuk itu, aku kembali bermimpi di ujung malam yang hamper berlalu, enak sekali rasnya tidur di subuh hari apa lagi dengan udara di desaku yang dekat pegunungan , udaranya dingin membuat aku semakin enggan melepaskan selimutku, apalagi untuk bergegas ke kamar mandi berwudhu’, subhanallah dingin sekali. Ya walaupun seperti kata ibu sih “ emang dasar kamu nya aja yang malas bangun”, aku hanya cengengesan kalau ibu mengatakan hal itu, paling ia hanya mengomel sebentar melihat putrinya yang malas bangun pagi ini, tapi nanti bentar lagi juga baiklagi. Itulah ibu, seperti pagi ini ia kembali melakonkan dramanya lagi.

“Rizka….ayo bangun, subuh mu udah lewat ne”
Ibu menarik selimutku dan menggoyang-goyangkan tubuhku, aku yang merasa kedinginan kembali menarik selimut dari tangan ibu.
“ah ibu, masih ngantuk ne, bentar lagi aja ya”
Tanpa melihat ke wajah ibu, aku kembali menikmati tidurku,. Aku tau ibuku tipenya paling cepat luluh kalau di bujuk sam anak-anaknya, ia paling tidak tega melihat putrinya ini merengek-rengek. Tapi ternyata pagi ini ibu berbeda, ia tetap bersikeras membangunkanku.
“ayolah rizka bangun, kalau gak ibu siram ne, subuh hamper lewat, kamu ne udah dewasa , gak boleh tinggal shalat lagi, cepat bangun…”
Bla..bla..bla…aku tak tau lagi apa yang ibu bilang , mataku betul-betul terasa begitu berat, karena semalaman aku nonton bola sama ayah dankedua adik-adikku. Melihat aku tak ada reaksi sama sekali ibu rupanya menyerah , ia keluar dari kamarku dan entah kemana , ah mungkinke dapur pikirku atau mungkin ke kamar mandi, tapi tiba-tiba..
“GEDUBRAAKKK…”
Suara itu mengejutkan ku, aku buru-buru bangun dan memanggil-manggil ibu.
“bu, kenapa bu? Suara apa itu?”
Tak ada jawaban, aku keluar dari kamarku menuju ke arah pintu belakang, kulihat di sudut-sudut dapur tak ada ibu di sana, lalu aku membuka pintu kamar mandi.
“astaghfirullah,ibu….”
Aku terkejut melihat ibu tergeletak di dekat bak mandi, ia jatuh dan tak sadarkan diri, lantai kamar mandi sangat licin, seperti nya ia mau membersihkan kamar mandi dan menguras bak, aku panic, aku mengangkat kepala ibu dan menyandarkannya di atas pahaku.
“ayah…ibu yah, ibu jatuh..”
Aku berteriak memanggil ayah, tak kalah dengan aku , ayah juga adalah salah satu dari keluargaku yang susah bangun pagi. Ia terkejut mendengar suaraku, ku dengar derap kakiny setengah berlari menuju kamar mandi, ayah mengangkat ibu dan membawanya ke kamar , aku mengikutinya dari belakng , adikku yang baru pulang lari pagi, bertanya-tanya apa yang terjadi, aku tak menjawab. Adikku yang paling bungsu menangis takut, ia memelukku.
“kenapa bisa jatuh ka?”
Tanya ayah padaku, aku tak menjawab seolah merasa bersalah , karena tadi ibu sudah beberapa kali membangunkanku untuk shalat dan membantunya.
“kamu ayah Tanya koq gak jawab sih? Kenapa ibu bisa jatuh?”
Ayah mulai marah, terlihat matanya sedikit melototiku.
“aku gak tau yah, tadi aku masih tidur tiba-tiba aku mendengar suara seperti ada yang jatuh, pas aku lihat egh rupanya ibu udah pingsan”
Jawabku hamper ingin menangis.
“kamu ini gimana, udah tau ibu kurang sehat malah kamu biarin dia bekerja sendiri pagi-pagi buta seperti ini”
Jawab ayah kesal, tiba-tiba tangan ibu bergerak, ia membukakan matanya. Alhamdulillah ibu sudah sadar kataku dalam hati.
“ibu gak apa-apa?”
Tanya aku berharap tak terjadi apa-apa sam ibu. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
“dimananya yang sakit war?”
Tanya ayah pada ibu, ibu memegang kepala dan tulang punggungnya, sepertinya meski tak keluar darah, kepala ibu terbentur susut bak mandi, terlihat dahinya sedikit lecet. Ayah pergi ke belakang entah untuk apa aku tidak tau, lalu aku duduk di dekat ibu sambil mengurut-ngurut kepalanya.

“aww..”
Ibu sedikit berteriak, sepertinya ia sangat kesakitan. Aku semakin merasa bersalah.
“sakit bu ya? maafin rizka bu ya..”
Ibu tak menjawab, ia hanya tersenyum ke arahku, senyumnya itulah yang membuat hatiku semakin merasa bersalah karena telah menyia-nyiakannya, meski dalam kesakitan sekalipun ia selalu memberikan senyum untukku, ah ibu kau begitu tegar menghadapi tingkah ku ini, kadang aku malu jadi anakmu , karena sering sekali menyakitimu baik dengan tingkah yang ku sengaja atau tidak ku sengaja, sering sekali kau menahan rasa sakit karena diriku, namun aku dalam segala keterbatasanku selalu saja membuatmu tak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua tingklah burukku, maafkan anakmu ini ibu.
Aku hanyut dalam pikiranku sendiri, tak terasa butiran bening itu jatuh dari mataku mengenai wajah ibu, ia menatapku dengan penuh cinta, teduh dan sangat teduh.
“kenapa nak? , jangan menangis, ibu tak ingin melihatmu menangis, sudah..sudah,..”
Tak sanggup lagi ku tahan, akhirnya pecah juga tangisan ku , dengan serta merta tubuhku berhambur memeluh ibu yang terbaring lemas di atas kasur tua itu.
“bu, maafin rizka, rizka bukan anak yang baik…maafin rizka bu”
Aku tersedu-sedu dalam dekapan ibu,ia membelai rambutku lembut.
“sudah jangan nangis lagi, rizka gak salah kok, tadi tu ibu gak hati-hati aja maknya jatuh, ibu gak apa-apa kok, bentar lagi juga bisa jalan lagi”
Aku tetap saja tidak percaya, aku malh semakin menangis , hingga tangisanku terhenti saat seorang dokter perempuan dan ayah masuk ke kamar ibu. Dokter itu adalah dokter langganan keluarga kami, ia tersenyum ramah pada ibu dan bertanya apa yang terjadi, ibu bercerita panjang lebar dan mengatakn bahwa ia susah untuk duduk karena tulang punggungnya terasa sakit, ternyata setelah di periksa tulang punggu ibu patah, dan harus di urut. Aku semakin merasa bersalah, gara-gara kejadian itu ibu tidak bisa pergi mengajar,ia harus berada di rumah selama seminggu, dan susah untuk berjalan dan dudu, namun tetap saja ia bersikeras untuk memasak dan melakukan pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan, sejak kejadian itu aku selalu membantu ibu dan tak pernah lagi banguntelat, itu pelajaran berharga untukku, terimakasih ibu telahmemberikan banyak pelajaran untukku, dan  maafkan aku telah membuatmu sering terluka. I love you mom..


Surat Cinta Untuk Ibu


                   



Banda Aceh,21 Desember 2011
                                        Untuk Bunda ku tercinta
                                 Di
                              Istana kecil kita

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…!
bundaku tercinta !
ku tulis surat ini dalam kerinduan yang begitu membara, ada sejuta rindu yang ku rasakan saat membayangkan senyum di bibirmu, senyum yang selalu bunda hadiahkan tiap mataku terbuka hingga terlelap kembali, tak henti-henti bunda tebarkan sejuta sayangmu untukku.
Bunda ..!
Pagi ini ku titipkan ulasan senyumku dan rasa rindu lewat desiran angin yang menyapaku, ku berharap bunda selalu menjadi bundaku yang sabar dan penuh kasih sayang, meski tanpa ku meminta bunda telah melakukan semua itu, bahkan lebih dari itu.
Bunda…!
Sekarang putrimu ini di rantau orang, mencari ilmu untuk bekal di hari kemudian. Sering sekali aku membayangkan kehadiranmu di sampingku, mengenang kebersamaan-kebersamaan yang pernah kita lalui. Bunda, izinkanku mereview sedikit tentang hidupku di atas kertas putih ini, agar setidaknya bunda tau bahwa putrimu ini sudah menjadi wanita dewasa, mungkin bunda merasa begitu cepat waktu berlalu ,18 tahun yang lalu bunda masih melihatku sebagai seorang bayi merah yang baru melihat dunia, kecil,imut,manis dan tentu saja membuatmu bahagia karena telah berhasil mempertaruhkan nyawamu untuk putri pertamamu. Sakit, lelah, perih , bercampur bahagia itulah perasaan mu saat itu. tahun pun berlalu hingga bayi kecil itu tumbuh dan mulai bertingkah lucu, semakin hari ia semakin besar dan kini, inilah dia bayi itu bunda, ia sedang menulis surat untukmu. Inilah putri kecilmu yang bunda lahirkan 18 tahun lalu,putri yang dulu bunda timang manja,putri yang dulu berlari kesana-sini,putrid yang dulu sering  gak mau mandi,  sering membuatmu terbangun di malam buta  karena tangisan ku, terganggu pula shalatmu karena tingkah ku. Maafkanku bunda..
Bunda.. ,Dalam halus dan lembutnya kasihmu membuka mataku bahwa menjadi wanita itu adalah hal terindah . bahkan bunda sama sekali tak pernah mengeluh ketika hrus mengemban tugas yang sangat berat , bunda bangun subuh-subuh sekali memasak untuk kami, lalu bergegas pergi bekerja membantu ayah menafkahi keluarga, dan sepulang dari situ bunda kembali bergemul dalam asap tungku yang menggebu untuk menyajikan makanan untuk suami dan anak-anakmu.
bunda adalah wanita hebat yang pernah ku kenal , di dalam matamu ku temukan kedamaian, dalam pelukmu ku temukan hangatnya kasih sayang,dalam tutur katamu ku temukan kelembutan, nasehat agungmu selalu menggambarkan keikhlasan, dan lewat senyummu ku tau arti cinta dan pengorbanan.
Terimakasih bunda, terimakasih telah rela merasa sakit untuk melahirkanku, terimakasih atas taruhan nyawa mu untuk nyawaku,terimakasih atas susumu untuk hidupku, terimakasih untuk jerihmu membesarkanku, terimakasih untuk keringatmu menghidupi ku, terimakasih untuk cinta dan kasihmu dalam hidupku, terima kasih….. terimalah kasih dari anandamu yang tak sempurna ini.. terimakasih bunda…! Terima kasih..!
 sejuta terimakasihku tak kan bisa membalas jasamu bunda. Maafkanku bunda, hingga detik ini ku belum bisa membalas semua cinta dan pengorbananmu, bahkan saat usia mu mulai renta aku belum bisa membuat mu bangga , aku tak bisa mengobati rasa sakitmu melahirkanku, aku tak bisa membayar setetespun susumu, dan aku tak bisa mengganti sebutirpun keringatmu bundaku.hanya ada harapan dalam hatiku untuk membahagiakanmu, mengukir senyum di bibirmu sebelum kau kembali padaNya, ku berharap pada Rabbi,Ia mengizinkanku tuk menyeka air matamu kala kau tua nanti, semoga Ia mengizinkanku memelukmu erat sebelum jasad kita terpisah, dan kelak Allah pertemukan kita sekeluarga di syurgaNya, inilah harapan tertinggiku bunda, bercanda bersamamu di taman syurgaNya.
Bunda..
Di akhir suratku ini, izinkanku mengatakan sesuatu , sebelumnya pejamkanlah matamu, rasakan kehadiranku di sampingmu meski ku jauh di sini, dengarlah baik-baik bunda, ini suara hati nanda yang terdalam, sangat dalam, I just wanna say :

“Rizka cinta bunda karena Allah…”
“ I love you mom…”
                                                                                                       
                                                                                                         Putri mu yang merindukanmu :
                                                                                                                Rizka mulya phonna

Selasa, 20 Desember 2011

lukisan mawar hitam

hari ini,hidupku kembali menorehkan kanfas-kanfas buram di ats lukisan yang selama ini hampir sempurna menjadi lukisan mawar yang tengah mekar, warnanya kemerah-merahan, daunnya hijau segar di pandang mata,  durinya tajam halus membuat siapa yang ingin memeganggnya berpikir 2x. namun tiba-tiba lukisan itu menjadi buram hitam,tinta2 itu tumpah tersenggol tanganku sendiri, kertasnyapun semakin kuyup di siram hujan tinta dan tsunami warna yang tiada ampun, tak ada lagi tanda-tanda bahwa di situ ada lukisan sebuah mawar, hanya ada tinta yng melimpah rusah di atas kertasyang semakin hancur.

mawar itu tak berwujud lagi....
qu tak tau dimana kelopak2nya yang tadi sedang merekah, ku tak tau dimana daunnya yang tadi hijau segar, dandi sudut mana  durinya yang begitu garang melindungi sang mawar dari tangn2 sembarangan.qu tak tau lagi dimana itu semua...
dihadapanku sekarang hanyaada secarik kertas yang penuh noda yang sebentar lgi takr berwujud dan semakin hancur, pandanganku buram, keruh, dan semakin sayu, qu terdiam , terkulai seperti mawar itu, hanya kibisuan jadi teman, air mata sebagai sahabat dan keputus asaan adalah saudaraku saat ini.

sama sekali aq tdk berpikir untuk melukis mawar itu kembali, qu hanya menyesali yg tlah terjadi, padahal di tangan ku ada kanfas-kanfas biru yang siap melukiskan langit-langit baru...
tak terpikir ada jutaan mawar y ang bisa aq lukiskan lagi, ada jutaan mawar yang siap menebar harum ke segala penjuru, kenapa hanya karana kegglan itu lalu aq terjatuh dan tak berdaya?

kini aq mengerti, hidup adalah lautaAN . maka jangan takut untuk tenggelam , karena disana ada berjuta mutiara tesimpan... maka selamilah hidup... nikmatilah....hargailah...dan syukurilah...

"Karena kita memang "ummi""





"ummiiiii"..
suara tu mengejutkanku saat sedang berjalan kaki menuju ke kampus tercinta, aq tau panggilan itu di tujukan padaku walaupun sebenarnya ia bukan ankku (wong saya belum nikah wkkkwkkwk), namun walo demikian aq tau panggilan itu untukku, karna tak ad seorangpun yang berjalan kaki di situ, namun aq biasa saja , panggilan2spt tu ud biasa aq dengar, aq tak menghiraukan panggilan itu , ku fokuskan mataku ke depan, berjalan tegap seperti tdk terjadi apa2, di blkgku lki2 tu dan tmn2nya trus mnertawakaknku, entah apa yang mereka tertawakan , ntahlah..., mungkin karena pakaiainku yang mereka anggap seperti "ummi2" , gx modis, ato apalah istilah zaman sekarang.. ah masa bodo , aq tak mau tau ap anggapan mereka terhadapku, aq bangga dgn pakain ini, pakain yg menutupi tubuhku dari pandangan2 liar tu, aq bangga di panggil "ummi" karna tu mmg fitrahku, fitrah setiap wnita yg kelak akn jd ibu, jd kenapa harus malu memakai pakaian "ummi"?
KARENA KITA MEMANG CALON UMMI...
jangan hiraukan panggilan2 tu, biarkan ja mereka berekspresi ssesuka hati, qt pun jgn malu tunjukkan jati diri kita seaorang muslimah yg mulia, lihatlah kawan ...! di luar sana mereka dengan bangga mengumbar aurat mereka , dgn bangga mempertontonkan lekuk tubuh mereka, lalu kenapa qt malu untuk menunjukkan pd dunia , ini loh aku, muslimah yang cinta agama, knpa malu berbuat baik? sdg mereka dgn leluasa bermaksiat? ...
ya, aq tau mgkn tkut di katakan "sok alim" , lalu jika takut di katakan sok alim, sudi gx kawan jika di katakan " sok bejat"? ato mungkin takut di panggil "ummi",lalu apkah kawan tdk berpikir ya memang itulah dirikita, yang akan menyandang gelar ummi kelak stelah mempunyai anak, olh karena tu jgn takut di panggil ummi....

untuk calon2 ummi di luar, keep istiqomah yaa :)

BUNDA


Bunda entah kenapa malam ini, jari-jariku tak mau berhenti terus menari di atas keyboard ini menulis tentang cinta dan pengorbananmu, tapi sayang , semakin ku tulis semakin tak keluar kata-katanya,
Kau tau kenapa bunda?
Karena cintamu itu tak dapat di ungkap dengan kata-kata,
Hanya hati yang merasa dan waktu yang menjadi saksi akan besar dan susahnya dirimu membesarkanku ini,
Engkau yang rela memutuskan urat-urat rahimmu melahirkanku,
Engkau yang rela kecantikan dan kemolekan tubuhmu sirna demi memperjuangkan hidupku,
Sering kali juga karena diriku istirahatmu terganggu,
 bahkan kadang kau tak khusyuk shalat karna bayi kecilmu ini terus menangis.
Maafkan ku bunda, maafkan anakmu ini..
 Bunda…
izinkanku mereview sedikit tentang hidupku di atas kertas putih ini, agar setidaknya kau tau bahwa putrimu ini sudah menjadi wanita dewasa, mungkin kau merasa begitu cepat waktu berlalu ,18 tahun yang lalu kau masih melihatku sebagai seorang bayi merah yang baru melihat dunia, kecil,imut,manis dan tentu saja membuatmu bahagia karena telah berhasil mempertaruhkan nyawamu untuk putri pertamamu. Sakit, lelah, perih , bercampur bahagia itulah perasaan mu saat itu.  tahun pun berlalu hingga bayi kecil itu tumbuh dan mulai bertingkah lucu, semakin hari ia semkakin besar dan kini, inilah dia bayi itu bunda, ia sedang menulis catatan untukmu. Inilah putri kecilmu yang kau lahirkan 18 tahun lalu,putri yang dulu kau timang manja,putri yang dulu berlari kesana-sini, gak mau mandi,  sering membuatmu terbangun di malam buta  karena tangisan ku, terganggu shalatmu karena tingkah ku. Maafkanku bunda..
Bunda.. ,Dalam halus dan lembutnya kasihmu membuka mataku bahwa menjadi wanita itu adalah hal terindah . bahkan kau sama sekali tak pernah mengeluh ketika hrus mengemban tugas yang sangat berat ,.
Bunda….
 di dalam matamu ku temukan kedamaian, dalam pelukmu ku temukan hangatnya kasih sayang,dalam tutur katamu ku temukan kelembutan, nasehat agungmu selalu menggambarkan keikhlasan, dan lewat senyummu ku tau arti cinta dan pengorbanan.
Terimakasih bunda, terimakasih telah rela merasa sakit untuk melahirkanku, terimakasih atas taruhan nyawa mu untuk nyawaku,terimkasih atas susumu untuk hidupku, terimakasih untuk jerihmu membesarkanku, terimakasih untuk keringatmu menghidupi ku, terimakasih untuk cinta dan kasihmu dalam hidupku, terima kasih….. terimalah kasih dari anandamu yang tak sempurna ini.. terimakasih bunda…! Terima kasih..!
 sejuta terimakasihku tak kan bisa membalas jasamu bunda. Maafkanku bunda, hingga detik ini ku belum bisa membalas semua cinta dan pengorbananmu, bahkan saat usia mu mulai renta aku belum bisa membuat mu bangga , aku tak bisa mengobati rasa sakitmu melahirkanku, aku tak bisa membayar setetespun susumu, dan aku tak bisa mengganti sebutirpun keringatmu bundaku.hanya ada harapan dalam hatiku untuk membahagiakanmu, mengukir senyum di bibirmu sebelum kau kembali padaNya, ku berharap pada Rabbi,Ia mengizinkanku tuk menyeka air matamu kala kau tua nanti, semoga ia mengizinkanku memelukmu erat sebelum jasad kita terpisah, dan kelak Allah pertemukan kita sekeluarga di syurgaNya, inilah harapan tertinggiku bunda, bercanda bersamamu di taman syurgaNya.
Bunda di akhir tulisanku ini ,izinkanku mengatakan sesuatu , sebelumnya pejamkanlah matamu, rasakan kehadiranku di sampingmu meski ku jauh di sini, dengarlah baik-baik bunda, ini suara hati nanda yang terdalam, sangat dalam, I just wanna say :


“Rizka cinta bunda karena Allah…”
“ I love you mom…”