Minggu, 04 November 2018


Sepucuk Surat Untuk Negeriku, Indonesia
Oleh: Rizka Mulya Phonna

 Selamat pagi Indonesia!
Aku ingin selalu menyapamu begitu. Meski usiamu kini orang bilang sudah tak pagi lagi. Angka 72 bagi sebagian mereka adalah bagai matahari yang mulai memasuki saat-saat menjelang malam. Namun, bukankah bagi sebuah bangsa, entah pada umur keberapapun kita selalu menginginkan suasana pagi di negeri kita. Menghirup udara segarnya dalam-dalam, menikmati dinginnya diam-diam, merasai damainya dengan senang, memandang hijaunya dengan tenang, dan mereguk segar tehnya bersama embunan. Ya, kita harusnya selalu begitu, menginginkan semangat pagi pada anak-anak bangsa kita. Ah, Indonesia, begitulah aku ingin dirimu selalu. Pagi, segar, penuh pesona yang membuat mata siapa saja betah untuk berlama-lama di tanahmu.
Tanahku, Indonesia.
Aku ucapkan selamat ulang tahun yang ke 72. Layaknya sebuah bangsa, aku menginginkanmu selalu aman, semakin maju, jua berbenah tanpa henti. Kau tahu? Sejak dulu aku selalu bangga menjadi salah satu pewaris tanah ini. Tanah yang kata orang adalah tanah surga, tanah yang kata orang apapun yang dilemparkan ke tanah akan tumbuh dengan suburnya, dimanapun orang menyelam lautnya akan pulang dengan gembira dan penuh syukur atas hasil yang didapatkannya, juga mereka berkata pada setiap jengkal tanah kita adalah emas, tembaga, batu bara, dan banyak lagi hasil alamnya.
Indonesia, terimakasih untuk telah begitu mempesona.
Negeriku Indonesia….
Kepadamu, kami selalu mencinta, merayu ingatan kami untuk tak pernah lupa bahwa disini kami dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimanapun indah tawaran untuk keluar, kami tetap memilihmu untuk menyandarkan badan. Ketika kami pergi, kami selalu menyadarkan pikir untuk segera pulang. Sebab pulau-pulaumu terlalu memikat untuk dipandang, gunung-gunungmu terlalu mempesona untuk terus di abadikan, pesona rakyatmu yang penuh keragaman dan keramahan selalu membuat mereka yang dari luar terus ramai berdatangan.
Indonesia…
Teruslah menjadi tanah yang subur untuk kami tumbuhkan beragam cinta. Teruslah menjadi damai untuk kami semai banyak karya. Teruslah menjadi kuat untuk kami semat bermacam cita. Teruslah menjadi satu-satunya tanah tempat kami kembali untuk kami berbagi cerita. Aku benar-benar menginginkanmu selalu syahdu menatap keragaman cinta yang tumbuh di bumimu tanpa ada resah yang menghantu.

Duhai, kepadamu tanah airku!
Aku ingin diam-diam berbisik, “aku mencintaimu seperti mata mencintai cahaya, ianya tak dapat memandang tanpa salah satu darinya. Tanpa cahaya apalah arti mata, yang ada hanya gelap pekat dan suara-suara, begitupun cahaya tanpa mata adalah pemandangan kosong tanpa warna. Begitu aku padamu, Indonesia, engkau adalah mata kami memandang dunia, jika engkau indah duniapun terlihat indah, jika engkau aman dan nyaman, dunia kami pun terasa aman, jika engkau maju, makmur, hidup kamipu begitu”. Ya, engkau negeri ku adalah mata kami memandang dunia. Maka teruslah menjadi mata kami yang sempurna tanpa perlu kaca apalagi lensa.
Negeriku tercinta!
Terimakasih telah membaca suratku. Menerima sepucuk cinta dari gadismu di pelosok nusantara. Sekali lagi, ku ucapkan “ Dirgahayu Indonesiaku, semoga rakyatmu selalu bergotong royong saling bahu-membahu untuk terus memajukanmu, aku mencintaimu”


Selasa, 12 Januari 2016

Surat Cinta Untuk Rasulullah



Dunya, 16 Desember 2015
Assalamu’alaykum ya Rasul…
Perkenalkan namaku Rizka. Wahai Rasulullah, perkenankan aku seorang umat akhir zaman menorehkan tinta untuk kuungkapkan rasa rindu yang terlalu dalam kepadamu, rasa rindu yang menggebu, kadang haru dan kadang beku yang hanya bisa kucurahkan dalam shalawat takzimku dan mencoba untuk mengikuti sunnahmu sebisaku. Wahai Rasul, sungguh engkau hadir ke dunia berabad-abad yang lalu namun namamu masih mengharum di bumi, shalawat cinta, salam takzim, dan pucuk-pucuk rindu masih mengaroma ke angkasa raya. Duhai yang dicinta, jangankan kami bahkan Allah dan para malaikatpun bershalawat kepadamu sebagaimana Allah firmankan dalam surat cintaNya Alqur’an yang mulia. Allahahumma shalli ‘ala Muhammad…
Ya habiby, tika aku kecil ibu dan ayah sering bercerita kepadaku tentang sesosok pemuda keren yang katanya terlahir dari keluarga mulia, mempunyai akhlak yang mulia, bergelarkan yang terpercaya, dan dimu’jizatkan Alqur’an yang mulia. Tidak hanya itu, aku tau namamu, kapan lahirmu, nama ayah dan ibumu, kakekmu, hingga pamanmu dan kisah engkau bersama bani sa’ad sungguh membuat anak kecil ini takjub dan penasaran bagaimanakah wajah yang mulia Muhammad Al musthafa. Lalu, tahun silih berganti, aku yang disekolahkan di madrasah dari MI, Mts, dan MA tentu tak pernah lepas dari mempelajari tentangmu. Namun wahai Rasul tak pernah sama sekali aku merasa bosan mendengar dan membaca kisahmu. Bertambah lagi ketika aku mulai beranjak dewasa, di kampus aku dikenalkan dengan sebuah buku oleh seorang kakak yang berjudul “Shirah Nabawiyah” , disitu aku semakin terpesona dengan akhlakmu. Bagaimana engkau mengadili bani-bani yang sedang berselisih siapakah yang akan memindahkan hajarul aswad ke tempatnya lalu engkau datang memberi solusi sehingga tidak ada yang merasa terdholimi, belum lagi kisah mu memberikan roti kepada yahudi buta yang terus menghinamu di pasar bahkan hingga engkau wafat dan pekerjaan ini digantikan oleh Abu bakar ia masih saja menghinamu hingga ia tersadar bahwa yang menyuapnya saat itu bukanlah dirimu, lalu Abu bakar bercerita bahwa yang memberikannya roti selama ini telah tiada. Maka dengan derai air mata ia memeluk islam yang mulia. Sungguh wahai rasul, aku tersedu mendengar cerita ini, betapa engkau mengajarkan kami berdakwah itu dengan ahsan meski yang didakwahi mencaci.
Wahai ke kasih Allah, baris perbaris shirahmu ku baca, aku semakin merasa cinta. Betapa perjuanganmu menyebarkan risalah Allah ini tidak mudah. Telah kubaca bagaimana engkau diejek, dicaci, dituduh penyihir dan di asingkan di negerimu sendiri. Telah ku dengar bagaimana mereka menyiksa awwalul muslimin saat itu, telah sampai kepadaku berita kemenangan badar dan kekalahan di Uhud, telah aku simak bagaimana perjalanan hijrah yang membiru, dan akhir hidupmu yang membuatku makin tersedu. terimakasih ya Rasul engkau telah mengenalkan kami kepada islam yang sempurna, maafkanlah kami umatmu yang sering alpa lagi lupa bagaimana perjuanganmu menyebar islam. Terimakasih ya Rasul untuk kalimat akhirmu yang begitu penuh cinta, kalimat “ummati…ummati…ummmati” yang menggetarkan hati siapa saja. Ya rasul bahkan di akhir hidupmu, engkau masih memikirkan bagaimana nasib umat ini. Tak engkau tanyakan dimana Aisyah, Fatimah, Hasan atau Husen tapi engkau memanggil dengan penuh cinta “ummati..ummati ..ummati”. Saat nyawamu sudah dikerongkonganpun engkau masih bertanya “ wahai jibril, beginikah rasanya sakaratul maut itu? Apakah umatku akan merasakan ini? Kalau iya, maka tumpahkan saja semua rasa sakit itu kepadaku, agar mereka tidak merasakannya lagi” wahai rasul, betapa mulia dirimu, Jibril pun tak sanggup berkata menyaksikan mu dengan Tanya seperti itu. Ya Allah, betapa aku rindu..rindu bertemu rasul, rindu bisa melihat dan mendengar langsung kekasih yang mulia berbicara kepadaku. Waha Rasul bisakah aku bertetangga denganmu di surga?  T_T aku takut ya Rasul kalau amal-amalku tak cukup untuk hanya bisa bertetangga denganmu disana. Aku ingin sekali wahai Rasul berjumpa denganmu meski hanya dalam mimpi. Maka wahai rasul, doakan aku agar bisa bertetangga denganmu disurga, berikan syafaat kepadaku, aku ingin nanti di surge engkau berkata “ oh ini ummatku Rizka yang dulu pernah menulis surat cinta untukku dan ia terus berusaha mengikuti sunnahku, mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya”, ah betapa aku bahagia saat itu.
Ya rasul, jika kutulis sungguh rinduku belum cukup kuuraikan di atas 2 lembar kertas ini, semoga kelak Allah memperjumpakan kita untukku bercerita bagaimana dunia sepeninggalmu terutama dimasaku. Sampai disini dulu ya Nabi…Allahumma shalli ‘ala Muhammad..
Wassalam, yang merindu…

Selasa, 09 Juni 2015

Entah...




Entah kapan hari itu akan tiba,
hari dimana simpul senyum kedua wajah tua itu merekah. 
hari dimana setidaknya keringat yang bercucur rasa terbalas, meskipun tidak. 
entah kapan hari itu tiba dimana segala tanya terjawab sudah, 
segala resah tersandar sudah,
 segala susah terasa musnah.
Entah kapan hari itu tiba,
 dimana usaha berhasil sudah,
 dimana juang terbayar sudah.Entah kapan ...
Entah kapan, rasa harap setiap harinya menanti dihubungi atau menghubungi selesai sudah. 
Entah kapan puing-puing terkumpul sudah.
 apa yang sebenarnya dicari dari kata entah ini? entah kapan..entahlah.

#Belumlulusujiansabar#remedial#haruslulusujianini#Sabar#Muslimyangbaikyangmempermudahurusanmuslimyanglain..

Rabu, 05 November 2014

Catatan Seorang Pendamping :D

Berawal dari sebuah amanah mengantarkanku mengenali kalian lebih jauh.  pada individu-individu yang masing-masingnya memiliki keunikan-keunikan luar biasa. Pada jiwa-jiwa yang begitu tegar menghadapi sosok yang bernama dunia. Kadang aku terpaku hingga menerawang pikirku tentang berkumpulnya anak-anak bangsa yang mempunyai cita tinggi untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Keterbatasan materi yang mencekik cita seseorang untuk mengenyam pendidikan tak menyurutkan langkah kalian untuk terus berusaha merajut mimpi disini. Namun di antara semangat-semangat dan kelebihan-kelebihan itu tentu disana-sini, terdapat kekurangan yang tak dapat dipungkiri.
Disini (Beastudi Etos ) bukan hanya sekedar beastudi biasa, yang selesai dapat uang ya sudah tidak ada follow up nya. Itulah yang membedakan rumah kita ini dengan yang lain. Ini adalah beastudi yang membina generasi-generasi cemerlang, generasi-generasi gemilang yang siap “belajar merawat indonesia” . lembaga ini bukan hanya menonjolkan prestasi duniawi namun juga ukhrawi. Bahkan akhlak lah yang sangat di pentingkan disini. Beranjak dari situ, aku ingin mengatakan pada kalian “ sungguh, tidak lah rugi segala peraturan yang diterapkan disini, karena disini kalian bukan hanya menjadi penerima manfaat tapi kalian di didik untuk bisa memberikan manfaat”. Sejauh mana  kita sudah memberikan manfaat kepada orang lain? Coba kita tanya lagi pada diri kita sendiri, atau jangan-jangan untuk diri sendiripun kita belum bermanfaat. Alangkah merugi jika demikian kiranya, semoga tidak. Kita berharap mesti belum bisa memberi banyak manfaat setidaknya kita sedang belajar memberi manfaat.
Memang terkadang tidaklah mudah untuk merubah diri, pelan-pelan dinda. Tidak perlu langsung berlari atau malah ngebut. Memang semua butuh usaha untuk hijrah ke arah yang lebih baik. Ku lihat ada usaha keras dari kalian adik-adikku untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tak jarang aku menemukan kadang ada keluhan kecil dari kalian, teruslah bersemangat merubah diri adik-adikku, kelak usaha-usaha kalian itu akan ada buahnya.  Teruslah kita memperbaiki diri bersama, mengingatkan bersama dan tumbuh bersama.
Tahukah kalian? Jika boleh aku memilih, aku akan lebih memilih menjadi etoser dibandingkan menjadi pendamping. Bukan aku mengingkari takdir atau iri kepada kalian. Aku juga ingin dibina dan disupport seperti kalian. Namun ternyata jalan hidup kita berbeda, Aku memang bukanlah dari keluarga yang kaya dan juga bukan pula dari keluarga yang kurang mampu, kehidupan keluargaku termasuk kedalam kategori cukup, meski untuk biaya awal kuliah ayahku harus morat-marit mencari pinjaman, bahkan ambil kredit dan menggadaikan sawah kami, namun karena Ayah dan ibu PNS sehingga itu membuat ayahku merasa cukup dan beliau tidak pernah mau mengurus beasiswa yang bersyaratkan dengan surat kurang mampu, beliau selalu berkata kepadaku “ masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan itu dari kita” berangkat dari situlah aku tak pernah mengurus beasiswa yang bersyaratkan surat kurang mampu sekalipun itu adalah beasiswa berprestasi. Namun ternyata Allah mempunyai skenario yang indah, beliau tau apa yang hambaNya butuhkan. Ia beri kan yang aku mau dengan cara yang berbeda, di semester2 tuaku di kampus, Allah meringankan beban ayahku dengan menjadikanku pendamping adik-adik etos, aku mendapatkan tempat tinggal gratis di asrama beserta juga dengan uang saku, sungguh tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Namun dari itu semua, bukan itu yang menjadi targetku, tapi aku menemukan jiwaku disini, selain aku ingin mendapatkan hadiah unta merah dari Allah dengan berharap adanya diantara kalian mendapatkan hidayah dari Allah melalui perantara perkataan atau perbuatanku, aku juga merasa menjadi kalian, ya .. menjadi etoser, ketika kalian mengikuti pembinaan, akupun mendapatkan ilmu disitu, aku duduk dengan kalian mendengarkan pemateri berbicara. Ketika kalian Alma’tsurotan pagi, aku ikut bersama, ketika kalian bersemangat belajar menulis, akupun tak ingin ketinggalan, ketika kalian bersemangat meningkatkan amalan yaumiyah kalian, aku tak akan pernah diam bermalasan sementara kalian begitu syahdu dengan sujud panjang, lantunan qur’an dan hafalan kalian, ketika kalian bersemangat berorganisasi, aku sering membangunkan diri ketika ghirah mulai lemah. Ketika kalian bersemangat menulis mimpi-mimpi kalian dan mencoret satu-satu mimpi kalian yang telah terwujud, aku adalah orang yang paling malu jika aku masih berdiam diri. Dan yang paling sering aku lakukan adalah, mencuri ilmu, ya.. ketika orang-orang dari pusat datang pada tiap semesternya, akupun ikut nimbrung di belakang bersama kalian, sama seperti Career Plan kemarin yang diisi oleh Mas Aris. Meski aku duduk dibelakang bukan sebagai peserta tapi sebagai pendamping, namu aku merasakan diri jadi peserta, aku rasakan setiap sensasi dan mutiara hikmah dari setiap kata motivasi yang diberikan kepada kalian, aku serap hingga kedalalam palung hati. Ketika kalian tersedu menangis karena dahsyatnya doa dan muhasabah hari itu, dari sudut belakang akupun tak bisa membendungkan air mataku, aku teringat akan diri sendiri yang hingga detik ini belum bisa menyelesaikan amanah orang tua.
Begitulah aku, mencari kesempatan dalam kesempitan, sambil menyelam minum susu. Entahlah apa kata kalian, yang pasti aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang Allah beri untuk menimba ilmu di rumah peradaban ini bersama kalian. Posisiku memang pendamping, tapi disatu sisi aku mengannggap aku ini etoser, umurku pun tak terpaut jauh dengan kalian, bahkan jika dibandingkan dengan etoser angkatan 2011 masih banyak yang lebih tua merekanya :D, jadi maklum-maklum saja jika sesekali aku mendadak seperti anak kecil lalu tiba-tiba juga mendadak dewasa. Mungkin ini namanya tuntutan profesi . Sungguh, di rumah ini aku tumbuh dan berkembang bersama kalian, membina dan dibina, mengingatkan dan diingatkan. Sudahlah, yang terpenting dalam hidup ini adalah mensyukuri setiap nikmat yang di berikan. Allah itu maha adil, memberikan nikmat yang sama dengan jalan yang berbeda. Aku bersyukur atas anugrah ini, dan sangat berterimaksih kepada kalian semua yang telah mau membagi banyak inspirasi untukku. Luv yaa..

Disana Ada Cahaya

Deru hujan sore itu menemani kepergianku meninggalkan sesosok manusia yang selama 3 tahun ini menjadi pengisi ruang hati yang ternodai. Aku masih merasakan detak jantung kian tak menentu sambil mengayunkan langkah beratku meninggalkan pandangan kosong laki-laki yang ku kenal lembut dan penyayang itu. Aku tak ingin menoleh sedikitpun pada wajahnya yang sayu,sebab 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk kami saling mengenal dan memahami, ada banyak cerita yang telah terlewati. Pikiranku berkecamuk saat itu, aku membayangkan segenap kenangan 3 tahun lalu dan juga membayangkan pertemuanku beberapa hari kemarin dengan seorang kakak di kajian Rohis. Betapa pertemuan satu jam itu telah mengubah pendirianku, entah mengapa hatiku teduh dan tentram melihatnya dalam balutan kerudung panjangnya, kata-katanya masuk ke palung hatiku dan membuatku berpikir semalaman keras tentang perkataannya itu.
“ Islam tidak melarang pacaran, tapi pacaran yang bagaimana, ya pacaran sesudah menikah dengan suami/istri,malah pacaran yang demikian ini akan mendatangkan pahala bagi kedua pihak, namun jika pacaran yang diluar nikah, maka itu akan mendatangkan dosa dari Allah. Memang dalam Al qur’an Allah tidak mengatakan dilarang pacaran atau sejenisnya, tapi Allah menegur dengan lembut para hambanya dengan berfirman : “ dan janganlah kalian mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al isra’;32), adik-adik yang dirahmati Allah, apakah aktivitas pacaran itu terlepas dari berduaan? Smsan mesra? Boncengan?pegangan tangan?dll?”
Beliau bertanya kepada kami semua. Serta merta kami semua menjawab
“tidak kak..”
“nah, berarti dapat kita simpulkan pacaran itu mendekati zina.........”
Demikian seterusnya penjelasan beliau panjang lebar yang terngiang-ngiang di telingaku, mengusik tidurku dan membuatku tak konsen belajar di kelas seharian karna mengingat-ingat kata beliau. Pikirku mencoba menolak, namun hati kecilku tak dapat memungkiri bahwa apa yang dikatakan kakak ini adalah benar adanya. Yang paling menembus hatiku adalah ketika beliau mengatakan:
 “ Ingatlah saudariku, sesuai janji Allah, perempuan yang baik-baik itu untuk laki-laki yang baik, demikian sebaliknya. Kita akan mendapatkan sesuai apa yang kita tanam. Jika hari ini kita masih berpacaran ria, maka bersiap-siaplah nanti kita juga mendapatkan suami yang masa mudanya mungkin sudah berpacaran beberapa kali dengan wanita, lalu bagaimana perasaan kita? Apakah kita rela hak kita sudah bekas dari orang?”
Ah aku sungguh tertohok dengan kalimat ini, oleh karena itu kumantapkan hati untuk meninggalkan semua cendera dosa itu, aku ingin hidup dengan tenang, menjadi seorang wanita yang taat kepada Allah. Meski berat, aku yakin aku bisa, tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini. Sebelum terlambat, aku megakhiri hubungan haram itu dengan segala konsekuensi. Aku tau, setan tak akan pernah menyerah untuk merayu dan membawa manusia ke lembah dosa, semakin kuat benteng pertahanan kita semakin kuat pula usahanya, aku tak boleh kalah dengan setan, aku takkan membiarkannya menang, TIDAK AKAN!!. Demikian tekad awalku berhijrah menuju cahaya.
Satu minggu kemudian, aku menjadi lebih giat mengikuti pengajian rohis di sekolah, tak ada jum’at tanpa menghadiri majelis zikir itu, aku bahkan menjadi orang yang pertama datang menunggu kak Dira berhadir, ya nama kakak itu Dira, yang telah menyentuh lembut hatiku untuk berhijrah. Dari minggu ke minggu kak Dira memberikan materi bermacam ragam, gaya nya yang santun dan lembut membuatku ingin sekali menjadi seperti dia, aku semakin dekat dengannya, bahkan aku sering smsan dan telponan dengan beliau. Aku sering bertanya seputar islam dan tentang auratnya perempuan. Beliau menjelaskan dengan sabar jika ada pertanyaanku yang kadang-kadang tidak masuk akal.
Sebulan kemudian, aku berhasil merubah penampilanku. Taraaaaaaaaaaa, aku datang ke sekolah dengan kerudung terjuntai panjang dan menutup dada, lengkap dengan manset dan kaos kaki ku. Semua orang terkesima melihat perubahanku, seisi kelas bertanya-tanya ada apa gerangan dengan sang Rahil Qatrun Nida’ ini. Teman-teman perempuanku datang dan mengerumuni ku dengan segudang pertanyaan.
“ gak panas hil?”
“kamu gak sedang demam kan hil?”
“kamu mimpi apa semalam hil?”
Dan bermacam pertanyaan lainnya, aku hanya tersenyum dan menjawab satu persatu pertanyaan mereka dengan santai. Hari ke hari, penampilanku itu menjadi biasa di sekolah, teman-teman dan guru mulai tak menanyakan lagi tentang itu. Namun ternyata ketika aku pulang kampung, justru ibuku yang syok melihat penampilanku itu. Beliau takut kalau aku sudah masuk aliran sesat atau apalah sejenisnya. Aku menjelaskan dengan sabar hingga ibu mengerti. Ketika semua orang disekelilingku sudah menerima perubahanku itu, ternyata masih ada banyak cobaan di depan mataku. Benar adanya, setan tak akan pernah membiarkan manusia itu tentram dan tenang dalam ibadahnya. Ia akan terus mencari cara untuk menggagalkan apa yang sudah kita bangun dengan susah payah.
Tepatnya, ketika acara perpisahan sekolah. Aku bertemu dengan sosok yang sudah aku delete namanya dalam setahun itu dalam hatiku. Ia hadir dengan manisnya , sopan dan lebih memesona. Ya ternyata ia sudah berubah jua, ia sebagai alumni disekolah itu sengaja di undang oleh pihak OSIS untuk memberikan sambutan dan motivasi dari perwakilan alumni untuk membagikan pengalaman di kampus dan memperkenalkan berbagai macam organisasi mahasiswa. Aku berusaha mengontrol diri, aku yang saat itu menjadi perwakilan dari kelasku untuk menyampaikan kata-kata perpisahan kepada adik-adik dan guru berada dikursi depan tepatnya disamping dia. Aku gemetar dan terus berdoa “ Allah jangan Engkau cabut nikmat mencintaiMu selama ini dengan Engkau hadirkan sosok ini kembali dalam hidupku, kuatkan aku ya Allah”. Aku diam tak bergeming, berpura-pura serius mendengar bapak kepala sekolah yang sedang memberikan sambutannya. Tiba-tiba sosok itu memulai pembicaraan ..
“ Apa kabar Rahil? Tidak terasa ya sudah lulus Aliyah”
Ia menoleh ke arahku sambil tersenyum, aku berusaha bersikap sebiasa mungkin.
“ Baik, alhamdulillah”
Hening kembali, masing-masing kami sibuk dengan pikiran sendiri.
“ mau melanjutkan kuliah kemana?” tanya nya.
“Belum tau “ jawabku ketus.
Tiba-tiba namaku dipanggil untuk menaiki pentas, yess.. aku langsung bangkit dan menuju kepanggung.aku bersyukur sekali Allah menghindariku untuk banyak bercakap dengan pria itu. Setelah aku turun dari panggung, aku langsung ke belakang, aku tidak mau duduk kembali di situ yang bisa menggoyahkan kembali imanku.
Setelah acara ceremonial dan pentas seni perpisahan selesai, seluruh siswa dan guru menikmati jamuan makan siang bersama. Aku tidak berniat lagi mengikuti acara itu, aku ingin segera pulang saja, aku tak ingin berlama-lama disitu karna aku mulai merasakan kekacauan dihatiku, aku beristighfar banyak-banyak dan berniat pulang segera. Namun sayang ternyata ban sepeda motorku kempes dan dengan terpaksa aku harus mendorongnya. Saat aku sedang bersusah payah mengeluarkan motor itu, ia datang menghampiriku.
“mau pulang ya?”
Aku tersentak, ya Allah apa lagi ini.
“ iya “ jawabku.
“mengapa takut sekali melihatku? Aku gak menggigit kok” ia mulai mencairkan suasana
“ Siapa yang takut? Orang Cuma mau pulang” jawabku
“hehe, kamu cantik sekarang dengan kerudung panjangmu”
 Glekkk, aku ingin kabur dari tempat ini. Ya Allah , tolong aku, setan macam apa ini yang datang menghampiriku. Aku mendorong hondaku kembali sambil berlalu tanpa berkata apa-apa.
“ mau dibantu di cariin bengkel?” teriaknya di belakangku.
Aku tak menghiraukannya, aku mendorong motorku secepatnya sambil menangis, beristighfar, dan perasaan tak karuan lainnya, hatiku kacau, aku betul-betul tak tahan lagi. Ia mengejarku dari belakang, aku bisa mendengar derap langkahnya.
“ Rahil, berhenti dulu, bengkelnya jauh dari sekolah, kamu mau dorong sendiri kesana? Sini biar aku yang bawa ke bengkel, kamu tunggu disini saja”
Kini aku menghentikan langkahku, dan ia tepat di hadapanku sekarang ini.
“kamu menangis Hil?” ia menatapku. Tangisku semakin membuncah, serta merta aku berteriak.
“ kamu ngapain disini? Kamu ingin menghancurkan apa yang sudah aku bangun dengan susah payah? Aku sudah tentram dan tenang dengan kehidupan ku sekarang, tolong pergi jauh-jauh dari hidupku, dan jangan pernah ganggu aku lagi. Aku gak ingin kembali ke kehidupan yang bergelimang dosa, belum puas kamu dengan dosa yang udah menggunung tinggi itu? Mau nambah dosa lagi....” dan bla..bla.., aku menyumpah serapah ia tak sopan. Aku tak bisa mengontrol diri lagi. Aku meninggalkan motorku dan dia yang masih terdiam melongo mendapati aku seperti orang depresi yang tak tau arah.aku berlari mencari angkutan pulang, tak peduli dengan motor dan tanggapan nya.
Titt..tit...suara mio dari luar, aku tau itu adalah bunyi sepeda motorku. Namun aku malas keluar,aku yakin ia yang mengantarkan motor ke rumah. Biarkan saja pikirku. Beberapa menit kemudian, aku sudah tak mendengar deruman motor itu, aku keluar dan mendapati motorku beserta dengan kunci di halaman rumah beserta selembar kertas.
“ Rahil, ini motornya ya, bannya sudah ditempel. Uangnya tidak usah diganti, besok aku kembali ke Medan, maaf ya atas kejadian tadi siang, aku tidak berniat mengganggu kamu apalagi mengajak kamu kembali pacaran. Aku juga sama sekali tidak ingin kembali ke lembah dosa itu. Hiduplah dengan tenang, lupakan apa yang harus dilupakan,jadilah muslimah yang baik dan taat kepada Allah.Sekali lagi tolong maafkan semua kesalahanku selama ini yang telah membuat kamu ikut berdosa, aku sangat berterimakasih atas kebesaran hatimu memaafkanku. Saudaramu: Firman”
Ternyata hari perpisahan sekolah itu adalah hari terakhirku bertemu dengan firman karena  di perjalanannya kembali ke Medan ia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Aku baru tau dari temannya, ternyata pasca kami memutuskan hubungan itu, Firman mulai aktif halaqah di kampusnya, bahkan ia aktif di Lembaga Dakwah Kampus di sana. Ia memperbaharui dirinya menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima segala amal ibadahnya.
Berangkat dari kejadian itu, aku mulai mengupgrade diri menjadi muslimah yang taat kepada Allah, aku ingin menjadi wanita surga bertemankan Maryam, Khadijah, Fatimah dan Asiyah nantinya. Aku mengikuti pengajian di kampus setiap minggunya, dan juga mencari komunitas-komunitas islami dikampus, salah satunya dengan bergabung di Lembaga Dakwah Kampus dan Lembaga dakwah Fakultas, aku terus memperbaiki diri dan menjaga hijabku. Kerudung panjang, manset dan kaos kaki adalah pakaianku sehari-hari, aku tenang dan tentram bersamanya, bahkan jika kekurangan salah satunya maka aku merasa belum lengkap dengan penampilanku. Aku menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dalam hidupku, aku mengambil hikmah sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri dan bahkan aku membagikan hikmah untuk orang lain. Mulai saat itu, aku sangat mejaga pergaulan dengan laki-laki, aku berdoa kepada Allah agar mengistiqomahkan hati ini dijalan yang Ia ridhoi. Tak peduli dengan apa kata orang disekelilingku dengan tampilan dan gaya pergaulanku, karena dengan menutup aurat ini menjadikan aku lebih dekat dengan sang pencipta ku, dengan kerudung yang terjuntai panjang ini menghindarkan aku dari bermaksiat dan tak diganggu, selebihnya tujuan akhir adalah mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Sebab aku ingin menjadi wanita surga yang bertemankan Maryam, aku belajar kepadanya bagaimana ia mendaptkan ridho Tuhannya dengan  menjadi Thahratunnisa fil ‘alamin dengan menjaga hijab dan amal ibadahnya. Sebab aku  ingin menjadi wanita surga yang bertemankan Fatimah putrinya Rasulullah, aku belajar kepadanya bagaimana ia mendapatkan ridho Tuhannya dengan menahan rasa cinta di dalam hati hingga tak seorang pun tau kecuali ia dan Tuhannya sampai Allah mempersatukan ia dengan yang dicintainya. Sebab aku ingin menjadi wanita surga yang bertemankan Khadijah, aku belajar akan kedermawanannya dan totalitasnya dalam taat kepada Allah. Sebab aku ingin menjadi wanita surga seperti Asiyah yang Allah bangunkan rumah untuknya di surga, aku belajar darinya tentang keteguhan iman dan kecintaan yang besar pada Allah.
Sebab jika kita ingin menjadi wanita surga, datang dan hampiri hidayah Allah. Takkan lah mungkin lilin itu menyala sendiri tanpa kita cari korek api lalu membakarnya, begitu pula dengan hidayah ini. Ia harus dicari, bukan di nanti. Tak usah malu dan trauma dengan masa lalu, setiap kita punya cerita hidup, ada goresan hitam dan ada pula goresan putih, tergantung pada diri kita masing-masing bagaimana mendelete yang hitam dan menggantinya dengan yang putih. Teruslah berusaha mencari cahaya, jangan diam dalam gelap gulita, mari kita keluar dari kubang dosa, membersihkan diri lalu berjalan mencari cahaya. Tangan allah terbuka lebar untuk menanti kita pulang pada cahayaNya, pada maghfirahNya.
Yakinlah setelah gelap akan ada terang...  disana ada cahaya yang gemilang menanti kita wanita surga. Selamat mencari cahaya dan menjadilah engkau wanita surga 

Minggu, 06 Juli 2014

Cukuplah Kematian Menjadi Pelajaran



“Kullu Nafsin dzaiqatul maut” tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati (Qs Ali imran ; 185).
“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan,yakni kematian.”(HR.Tirmizi)
Sahabat yang di rahmati Allah, sejatinya hidup di dunia fana ini hanyalah sebuah penggalan cerita yang hanya menjadi ladang buat kita. Ya, ladang untuk menanam sebanyak-banyaknya. Untuk apa? Untuk dipetik kelak hasilnya di akhirat jua. Kita ini ibarat petani, apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik, tanam jagung maka dapat jagung, tanam cabe tentu juga dapat cabe. Tak mungkin cabe yang di tanam jagung yang didapat. Begitu pula dengan hidup ini. apa yang kita kerjakan di dunia , maka itulah yang akan kita terima ganjarannya, baik kah atau burukkah.
Sahabatku, perjalanan hidup ini bukanlah seperti lomba lari yang tampak garis finish nya, namun ia adalah jalan yang satupun di antara kita tak tau kapan penghujungnya, adakala seeorang yang baru kita lihat beberapa hari yang lalu masih tertawa dan bercanda bersama kita tiba-tiba hari ini tawanya hilang, wajahnya pucat pasi, sekujur tubuh hanya tinggal bagai onggokan daging yang tak berharga, terkulai lemah lagi tak bernyawa. Tak ada yang tau kapan sang ajal akan datang menjemput kita, kapan sang malaikat maut menghampiri kita. Mungkin hari ini adalah giliran mereka, orang-orang terdekat kita, ayah,ibu,kakak,adik atau bahkan sahabat karib kita yang baru saja beberapa saat yang lalu masih curhat bersama kita, tiba-tiba kita mendenngar berita bahwa ia teah tiada.
Sungguh, betapa maut ini memisahkan seseorang denagn dunia, dengan orang-orang yang dicintainya, denagn pekerjaan yang dikerjakannya, dengan sekolah yang sedang ia tuntut ilmunya. Tak...tak..ia tak mengenal tua atau muda, semua sudah ada jatahnya. Kapanpun itu dan siapapu itu, ia tak mengenal kata “ tunggu sebentar” ataupun “ aku belum siap”, “ aku mau bertaubat dulu”, “aku belum menikah”, tak..kata-kata itu tak sama sekali berlaku baginya. Ia tak mengenal kata tangguh. Bisa jadi hari ini giliran mereka dan besok adalah kita.
Sahabatfillah, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata ; “Bila manusia meninggal dunia,maka pada saat itulah ia bangn dari tidurnya”, subhanallah berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yan masih hidup di dunia ini justru masih “belum bangun”. Sungguh ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah swt yang artinya:
“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesngguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (Qs Al-ankabut;64)
Sahabat yang kucintai karena Allah, maka pantaslah Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat.karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal,dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban , tidak ada amal.”
Saudaraku, sudah seberapa usaha kita untuk mempersiapkan seni kematian yang terindah? Kematian yang dinanti-nantikan untuk menghadap sang maha cinta, Allah swt. Kematian yang kiranya kedatangannya membuat kita damai, bukan justru takut dan menghindar darinya, sebab sejatinya kematian itu adalah hak dan ia akan datang pada waktunya tanpa kompromi apalagi permisi. Pernahkah kita membayangkan bagaimana mesra dan syahdunya bertamu sang Khalik dan menatap dengan lekat cahaya dari sang maha Rahman. Pernahkah merindu untuk bertemu Ny dan kekasihNya? Ah kiranya itu yang kita bayangkan tentu kematian menjadi begitu indah untuk dirindukan, namun hari ini yang terbayang adalah sakaratul maut yang sungguh menyakitkan membuat bulu-bulu kuduk merinding dan sekujur tubuh dingin.  Sering kita dengar bahwa sakaratul maut itu lebih sakit dari dikuliti hidup-hidup, bahkan mungkin lebih dari itu. Nabi Muhammad Saw sang kekasih Allah yang begitu mulia pun merasakan betapa sakitnya sakaratul maut itu hingga beliau meminta suapaya para ummatnya tidak merasakan sakit itu dan beliau meminta seluruh rasa sakit yang akan dirasakan ummatny supaya ditimpakan kebeliau saja. Lihatlah kekasih Allah yang mulia ini bahkan ketika sedang sakaratul mautpun masih sempat memikirkan ummatnya. Sang malaikat memalingkan wajahnya tak sanggup melihat kekasih semesta ini kesakitan. Rasulullah berdo’a:
“Laa ilaha illallah...Laa ilaha illallah...La ilaha illallah... Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah , Bantulah aku mengahdapi sakaratul maut . Ya Allah ringankanlah sakaratul maut itu buatku.”(Hr Bukhary-Muslim). Lalu jika Nabi Muhammad saw yang mulia mengalami sakit yang kian menyakitkan konon bagaimana kita ini manusia yang berlumur dosa, Allah ya Rabbi.
Masih tentang sakaratul maut, sahabat, pernahkah jarimu terluka karena goresan pisau? Atau kakimu tertusuk duri? Bagaimana perih yang engkau rasa? Padahal itu mungkin hanya satu sel yang mati namun bayangkan ketika seseorang sakaratul maut secara bersamaan ribuan sel yang ada ditubuhnya mati, sudah tentu sakitnya luar biasa. Sekarang ini bisa ta lihat berbagai macam akhir dari hidup seseorang di hadapan mata kita, seharusnya itu menjadi pelajaran untuk kita yang amsih Allah berikan kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Akhir hidup seseorang sangat menentukan bagaimana kelak kehidupannya di akhirat. Tak heran, jika banyak orang-orang yang awalnya selalu berbuat baik lalu tiba-tiba di penghujung hidupnya justru dalam kemaksiatan, dan sebaliknya orang-orang yang hidupnya penuh dengan kemaksiatan tiba-tiba justru akhir hidupnya itu dalam kebaikan. Tak pernah kita tau bagaimana akhir dari hidup kita, maka sudah sepantasnya kita berusaha untuk istiqomah di jalan Allah dan terus memperbaiki diri tanpa kenal kata “istirahat” sebab orang-orang mukmin itu istirahatnya di Syurga. Karena bisa jadi saat kita sedang beristirahat dan cuti berbuat baik justru saat itu maut datang menghmpiri , sungguh merugilah kita. Jangan pernah remehkan sekecil apapun kebaikan, karena kita tak pernah tau dengan amal apa kita msuk ke syurgaNya Allah.
Saudaraku, tak jarang pula kita menemukan akhir-akhir hidup seseorang bersama dengan apa yang ia cintai di dunia ini. kadang kita menemukan sang pesepak bola, meninggal di lapangan sepak bola saat sedang main bola, kadang pula kita menemukan sang pemabuk meninggal saat sedang bermabuk-mabukan atau sang hafizul qur’an saat sedang bertilawah atau mengahfal qur’an, kerap pula kita temui sang ahli ibadah meninggal saat sedang khusyu’ dalam sujudnya. Seseorang tentu akan bersama apa yang ia cintai dan apa yang ada di hatinya. Maka kita selaku manusia yang punya khilaf dan lupa mari kita terus berusah mencntai apa-apa yang dicintai Allah dan mengahbiskan waktu kita untuk menjadi insan yang dicintainya, menyediakan waktu-waktu khusus untuk bercinta denaganNya buak waktu sisa kita.
“Kullu nafsin dza iqatul maut”....
Hari ini engkau yang pergi , bisa jadi besok adalah aku, tak ada yang tau.
“kullu nafsin dza iqatul maut”
Saat tubuh kaku ini di angkat, di gotong secara bersamaan, mungkin sedikit keras lalu kesakitan pun menjera. Bagaimana tidak, saat baru saja merasakan sakitnya sakaratul maut lalu tubuh kaku itu diperlakukan kurang lembut, perih..perih sekali. Ah mengingat akan tibanya masa-masa itu, saat orang-orang tercinta hanya bisa menangis menyaksikan tubuh itu di maksukkan keliang lahat dan di tutup hingga yang tinggal hanyalah tanah liat yang menguning dan rumput yang mulai menjalar kuburan yang sepi itu. Terputus...terputuslah semua hubungan kita dengan dunia. Anak, istri/suami, orang tua, saudara, para sahabat, mereka hanya mampu mengirim doa, sedang kita terbujur kaku dalam kubur. Terputus..terputus sudah cinta kasih dunia, hanya anak yang sholeh, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, hanya itu yang terus mengalir . terputus..terputus sudah, mereka, orang-orang terkasih hanya sanggup menangisi paling lama satu minggu, hanya mampu bersedih paling lama satu bulan, lalu sesudah itu mereka akan kembali menjalani hidup seperti biasa, menikmati hidup tanpa kita, istri/suami yang kita cintai bisa jadi akan menikah lagi, begitu pula anak-anak yang semakin sibuk dengan dunianya, saudara dan sahabat yang mungkin hampir lupa dengan kita. Bisa jadi mereka hanya akan datang setahun sekali ke pemakaman saat Idul fitri tiba. Ah, sejatinya hidup ini memang nafsi-nafsi, masing-masing kita akan mempertanggungjawabkan diri kita ini sendiri di hadapan Allah kelak. Oleh karena itu, jika ingin terus didoakan oleh orang2 yang dicintai, jika ingin terus dikenang, maka didiklah anak-anak untuk menjadi anak yang sholeh, sampaikanlah kebaikan agar kelak mereka yang mendengarnya selalu mengenang dan mendoakan kita.
Itulah akhir dari hidup ini, dunia fana yang akan kita tinggalkan menuju alam yang baqa. Sungguh ketika kita sudah mati, tak ada yang berharga dari tubuh kaku ini, saya teringat dengan kata seorang ustad “ jika seandainya mayat manusia itu di bawa kepasar dan di taruh di dekat bangkai ikan (ikan teri, ikan asin, dll) maka orang akan lebih memilih ikan tersebut. (memang perkataan ini candaan, tapi jika kita rasionalkan tentu betul, ikan yang sudah mati masih ada manfaatnya, namun mayat manusia tidak). Maka, tak ada yang perlu disombongkan dari diri ini.
 Allahu rabbi...ampuni kami ini yang lengah dan lalai. Allah .. jadikan lah akhir hidup kami dalam keadaan husnul khatimah.
Saudaraku, bersiaplah menjemput seni kematian terindah kita, cukuplah kematian saudara-saudara kita menjadi pelajaran bagi kita. Menjadi muhasabah buat kita, menjadi tolak ukur sejauh mana kita sudah mempersiapkan kematian kita. Kullu nafsin dza iqatul maut. Ketika ingin mencoba melakuka maksiat, bayangkan jika saat kita bermaksiat tiba-tiba kita menjumpai maut. Ketika terbesit ingin mencuri misalnya, atau pacaran, atau tak menutup aurat, atau mabukan, atau menggunjing, atau..atau..atau maksiat yang lain, bayangkan..bayangakn saat sekali itu kita mencoba melakukan itu dan kita tak dapat kesempatan lagi untuk bertaubat, maka apa yang mau kita lakukan? Kematian di ambang pintu, ia siap datang kapanpun dan dimanapun, bersiaplah, bertaubatlah.
“Bisa jadi hari ini mereka, besok adalah kita”
“Allah ya Rahman, jadikanlah akhir hidup kami dalam keadaan husnul khatimah, aamiin”
Wallahualam..

*8Ramadhan1435H, selamat jalan sahabat-sahabatku (Halimatun sakdiah(sahabat kami di MAN MBO 1 dulu),Umi Arhami (adik kami, kader LDF Almudarris,PKK let 11) Reza Aulia (Teman kami, B.Inggris let 10)semoga Allah tempatkan di SyurgaNya dan Allah terima amal ibadahnya.semoga kepergian kalian menjadi pelajaran bagi kami di Ramadahan berkah ini.