Rabu, 08 Januari 2014

Perjuangan Sang Adik Untuk Mengenyam Pendidikan (Kisah Nyata Seorang Etoser Masuk Perguruan Tinggi)



Awal cerita aku mengenal Bestudi Etos itu melalui seorang adik yang aktif di sebuah Lembaga Dakwah di kampus jantong hatee rakyat Aceh. Tidak terlalu mendalam, hanya sekilas tau nama dan fasilitas apa saja yang di dapatkan oleh penerima manfaat itu sendiri. Kebetulan aku punya seorang sepupu yang keluarganya kurang mampu, dan pada saat itu aku semakin gemar mencari info tentang etos untuk mendaftarkan sepupuku disitu. Namun ternyata Allah berkehendak lain, sepupuku lulus di tahap seleksi di Etos, tapi sayang dia tidak lulus dikampus Unsyiah itu sendiri, hingga sekarang dia tidak kuliah karena keterbatasan materi keluarganya. Ternyata di sebalik itu semua, Allah punya rencana lain. Aku yang tadinya berharap sepupuku itu menjadi bagian dari etos, sebaliknya justru aku yang akhirnya menjadi bagian dari keluarga Etos ini sendiri, namun tidak sebagai penerima manfaat tapi sebagai pendamping etoser.
Hari-hari ku lalui dengan berjuta hikmah yang menghampiri, banyak butiran-butiran pelajaran yang begitu berharga ketika ku berada di antara mereka. Ada banyak kisah haru lagi menyeruak batin tentang perjuangan mereka untuk bisa melanjutkan study nya ke perguruan tinggi. Inilah salah satu cerita yang membuatku ternganga hingga merasa diri kian tak bersyukur atas nikmat yang melimpah yang Allah berikan padaku. Begini ceritannya..........
Malam itu, salah seorang etoser demam tinggi, badannya panas. Aku ajak ke puskesmas dia gak mau, minum obat gak mau, makan gak mau, jadi serba salah. Aku bingung sendiri. Dengan keadaan tubuhku juga kurang sehat, membuatku begitu di uji kesabarannya. Aku bujuk dia untuk makan walau sedikit saja. Akhirnya berhasil. Setelah makan 3 sendok ia pun tertidur dengan kain kompres di kepalanya. Setelah dia tertidur, aku mengobrol kecil dengan salah seorang etoser yang kebetulan satu kamar dengannya. Mulai lah kami berdiskusi, tentang awal hijrahnya aku dan dia. Hingga tibalah saat nya ia menceritakan bagaimana perjuangannya masuk ke kampus ternama di Aceh ini.  sebut saja namanya SN.
Ia mulai bercerita, “ sejak dari SMA aku tinggal dengan paman kak, paman lah yang membiayai sekolahku hingga selesai, tidak hanya aku. Bahkan paman juga menyekolahkan beberapa saudarku yang lain, termasuk muridnya istrinya. Memang pamanku ini orangnya sangat baik. Dermawan sekali. Kalau kita lihat dari segi materi mungkin tidak cukup. Beliau profesinya hanya sebagai seorang guru, begitu juga dengan istrinya. Punya anak 5 orang. Tapi beliau menyekolahkan anak-anak lain. Aku,bibiku,dan 1 murid dari istri beliau. Belum lagi ada beberapa mahasiswa pekerja di percetakan beliau yang beliau kuliahkan, tapi akhirnya kuliahnya tidak selesai karena tidak serius. Beliau lah kak yang memberi uang jajan kami, spp, dan semua kebutuhan kami. Walaupun itu cukup-cukupan. Kami bertiga tinggal di kamar yang sangat sempit kak, hanya ada 1 tempat tidur, yang kami gilirkan untuk tidur disitu, sebagian tidur di lantai sebagian diatas. Sedang anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu tidur sekamar dengan beliau. Beliau mengajarkan kami untuk tidak boros,untuk rajin belajar, menutup aurat, dll”
Aku terdiam,serius mendengar ceritanya. Lalu ia melanjutkan lagi...

Saat aku lulus dari sekolah, aku mulai kebingungan untuk masuk ke kampus mana. Hingga seorang abang leting memberitahuku bahwa ada yang namanya Beastudi etos, di bayar spp, fasilitas asrama dan uang saku. Akhirnya aku pun mendaftar dengan semangat 45. Begitu juga dengan abang leting atdi, dia sangat bersemangat membantuku, ia yakin aku pasti lulus. Aku pun mengikuti UMB di Unsyiah dengan harapan lulus walaupun itu sebenarnya tanpa sepengatuan ibuku, ibuku tidak mengizinkan aku untuk ikut UMB karna takut tidak lulus dan tidak ada biaya UKTB karna untuk jalur UMB itu sendiri terhitung mahal. Namun aku nekad karna ada dukungan paman, bibi, dan abang letingku tadi yang juga salaah seorang etoser. Pergilah aku ke Banda Aceh diam-diam tanpa izin ibu untuk ikut UMB. Namun sepertinya Allah tidak ingin aku berbohong kak, tiba-tia ibu telp bahwa nenek mau ke medan, dan dia menyuruhku untuk menjemputnya. Aku terdiam tak tau mau jawab apa, sehingga aku berbohong dan mengatakan bahwa aku sedang di subulussalam di tempat pamanku. Ibuku marah, aku pun meminta maaf padanya. Ternyata setelah itu ibu menelpon paman, maka paman menceritakan bahwa aku sedang di Banda Aceh untuk mengikuti UMB, betapa terkejut dan marahnya ibu, ia sedih karna aku berbohong kak, ibu menelpon ku sambil menangis, hingga aku juga ikut menangis, aku jelaskan kepada ibu tentang tekad ku untuk melanjutkan kuliah, hingga ia mngerti. Beberapa saat kemudin, aku dapat info bahwa ternyata aku tidak lulus di etos, betapa hancur hatiku, sedangkan hari itu juga aku di nyatakan lulus di fakultas pertanian unsyiah, aku mulai kebingungan harus kemana mencari uang untuk spp. Abang letingku yang semangat mengurus semua keperluanku tidak menyngka kalau aku tidak lulus, tapi dia tidak pernah hilang smangatnya membantuku. Ia mengusulkanku untuk tetap kuliah dengan berharap ada beasiswa bidik misi nantinya. Tapi aku sudah tidak berani menelpon  ibu untuk memberitau kabar ini ......
Untuk UKTB ternyata di minta slip rekening pembayaran listrik dan lain-lain, tapi lagi-lagi aku tidak berani manghubungi ibu untuk mengurus itu semua, karena agak ribet sedikit. Hingga akhirnya abang leting ku tadi menghubungi adiknya di kampung untuk  meminta tolong mengurus semua berkas-berkasku. Kebetulan abang ini tidak sekampung denganku, dia langsung mengatakan ke abangnya “aku gak ada uang ongkos pergi bang”, aku mendengar suaranya dari Hp, abang letingku tadi menjauh dariku supaya aku tidak mendengar pembicaraan mereka, ia berbisik “ kau pinjamlah dulu uang tetangga atau siapa, kita tolong lah adik kita ini, sayang dia”. Hingga akhirnya adik abang tersebut datang ke kampungku, kebetulan dia tidak tau rumah kepala desa, berjumpalah dia dengan ibuku. “ bu numpang tanya, rumah kepala desa dimana ya? “. Ibu menjawab “ di sana nak, ada perlu apa ya?”, “ini bu , ada adik saya yang minta tolong buat di urus berkas-berkasnya untuk kuliah”, “siapa nama adikmu itu?”, maka abang tersebut menyebut namaku lengkap kak. Sontak aja ibu terkejut “ itukan anak ku...” ibu menangis, lagi ibu menelpon ku dengan air mata, ia kecewa “ kenapa kau tak bilang ke ibu,kenapa tidak minta tolong ibu?, kenapa harus orang lain’ . aku merasa bersalah...
Beberapa minggu kemudian, aku mulai masuk kuliah. Aku tidak semangat kuliah, karena aku berencana berhenti di semester 2 karna takut tidak ada uang spp. Aku kuliah ogah-ogahan. Hingga suatu hari aku mengambil keputusan untuk memberanikan diri berjumpa ketua prodi. Setibanya aku di ruangan ketua prodi, aku disambut ramah. Aku menanyakan “ pak, masih adakah beasiswa di kampus?” ,,, sang bapak menjawab “ sepertinya tidak ada lagi, bidik misi udah tutup, memangnya kenapa nak? “ lalu aku mulai bercerita tentang  perjalanan hidupku, hingga sang bapak iba. “ ya sudah kita ke PD3 sekarang “ kata beliau. Beliau mengantarkanku ke PD3 , sesampainya disana sang PD3 juga menyambutku ramah, aku menceritakan semua keluh kesahku, bapak tersebut bingung memikirkan solusinya karna memang tidak ada lagi beasiswa saat itu, beliau bertanya “ dulu waktu sekolah peringkat berapa kamu? “ saya menjwab ‘”peringkat 1 pak, tapi yang terakhir 2’. “ yasudah kalau begitu ayo ikut bapak ke biro”. Bapak tersebut mengantarkan saya ke biro padahal saat itu ada seorang mahsiswa yang ingin konsul tapi beliau bawa juga untuk menemani saya, bayangkan kak saya di antar langsung oleh PD3 dengan mobilnya, betapa baik bapak ini. sesampainya disana kami menuju bagian keuangan di biro, bapak bagian keungan itu menanyakan dengan detail, “ kamu sudah print UKTB nya? “ , “ belum pak “ jawab saya. Lalu bapak tersebut menyuruh saya untuk print UKTB terlebih dahulu, saya, pak PD3 dan mahasiswa tadi keluar dari ruangan. “ apa perlu di antar ke ICT? “ tanya pak PD3 “ tidak usah pak, saya jalan sendiri saja. Terimakasih pak sudah mau membantu” , “ yasudah, di temani sama kakak ini aja ya” beliau menyuruh mahasiswa tadi untuk menemani saya. “ tidak usah pak” .  mereka pun berlalu. Saya segera berlari ke gedung ICT unsyiah, sesampainya di sana, suasana lengang tak ada orang....
Keesokan harinya, saya kembali datang ke biro sendiri tanpa ditemani siapapun, saya menjumpai seorang pegawai disitu. “ bang, bapak bagian keungannya ada? Saya mau jumpa dengan beliau”, abang tersebut melihat saya sinis “ mau ngapain kamu?” tanyanya. Saya menjelaskan panjang lebar. Dia menjawab “ oh gak bisa, mana boleh seperti itu, dia ada prosedurnya gak bisa main datang langsung ke bapak itu, beliau sibuk, sedang tidak ada di sini, lagi ada rapat di luar kota, besok aja kamu datng lagi”. Begitu katanya , aku pantang menyerah. Aku duduk dan tetap menunggu disitu, beberapa menit kemudian bapak bagian keuangan tersebut keluar buru-buru dan berlalu dari ruangnnya. Saya marah sekali, “ bang , apa juga tadi abang ini bilang bapak lagi diluar kota, itu tadi beliau lewat” saya menatap nya garang. “ loh... kamu ternyata sudah kenal sama bapak tersebut?” tanyanya salah tingkah. “ ya iyalah bang, orang saya kemarin kesini bareng pak PD3 pertanian” jawabku jengkel. “ yasudah, tunggu aja sebentar, nanti bapak itu kembali”. Beberapa saat kemudian, bapak tersebut kembali , aku langsung menghampirinya. Lalu kami bercakap-cakap, jawaban beliau sama engan PD3 bahwa tidak ada lagi beasiswa, tapi beliau mau membantu saya dengan cara saya sendiri langsung menemui rektor, beliau yang atur jadwalnya dengan syarat tidak mengatakan bahwa belaiu yang bantu karena belaiu takut di anggap bahwa saya ini adalah sanak saudaranya. Sayapun mengangguk setuju. Aku pulang dengan keadaan gembira. Setidaknya sudah ada secercah harapan di depan mata untuk tetap bertahan kuliah, dan kalaupun rektor tidak juga mau membiayai , bapak PD3 sudah mau bersedia untuk membiayaiku dan tinggal di rumah beliau untuk membantu mengajar anak-anaknya, bahkan aku sudah sempat di bawa ke rumah dan di kenalkan kepada anak-anak dan istrinya. Tapi tiba-tiba, Hpku berdering. Ternyata itu telp dari manejemen Beastudi etos Aceh. BERDASARKAN HASIL PERTIMBANGAN , AKU DI TERIMA MENJADI SALAH SATU PENERIMA MANFAAT BESTUDI ETOS. ALLAHU AKBAR !!! aku bersujud syukur bahagia, dan langsung mengabari ibu di kampung.
Keesokan harinya, aku kembali datang ke biro menjumpai bapak bagian keuangan dengan wajah sumringah, seampainya di sana aku langsung mengatakan “pak, tidak jadi lagi ya jumpa pak rektor, alhamdulillah saya sudah di terima di etos”, bapak itu tersenyum dan berkata “ alhamdulillah, rajin-rajin sholat nak ya” itu pesannya :D
Itu ceritanya kak, bagaimana saya bisa masuk etos dan mengengenyam bangku kuliah”. Ia menutup kisahnya dengan senyum, ada simpul bahagia di bibirnya.#
Aku terharu, sebegitukah perjuanganmu untuk bisa kuliah dinda? Sedang aku dengan gampang dan mudahnya, tinggal menunggu uang bualanan dari orang tua untuk spp dan biaya hidup, sungguh aku malu, banyak belajar dari mu. Aku berkata padanay “ kelak suatu saat itu semua akan menjadi sejarah dalam hidupmu, menjadi saksi perjuanganmu, kengangan yang tak akan pernah bisa kau lupakan, dan akan menjadi cerita untuk nak cucumu, semoga sukses dinda , sayang kalian semua ^_^.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar