Awal cerita aku mengenal Bestudi
Etos itu melalui seorang adik yang aktif di sebuah Lembaga Dakwah di kampus
jantong hatee rakyat Aceh. Tidak terlalu mendalam, hanya sekilas tau nama dan fasilitas
apa saja yang di dapatkan oleh penerima manfaat itu sendiri. Kebetulan aku
punya seorang sepupu yang keluarganya kurang mampu, dan pada saat itu aku
semakin gemar mencari info tentang etos untuk mendaftarkan sepupuku disitu. Namun
ternyata Allah berkehendak lain, sepupuku lulus di tahap seleksi di Etos, tapi
sayang dia tidak lulus dikampus Unsyiah itu sendiri, hingga sekarang dia tidak
kuliah karena keterbatasan materi keluarganya. Ternyata di sebalik itu semua,
Allah punya rencana lain. Aku yang tadinya berharap sepupuku itu menjadi bagian
dari etos, sebaliknya justru aku yang akhirnya menjadi bagian dari keluarga
Etos ini sendiri, namun tidak sebagai penerima manfaat tapi sebagai pendamping
etoser.
Hari-hari ku lalui dengan berjuta
hikmah yang menghampiri, banyak butiran-butiran pelajaran yang begitu berharga
ketika ku berada di antara mereka. Ada banyak kisah haru lagi menyeruak batin
tentang perjuangan mereka untuk bisa melanjutkan study nya ke perguruan tinggi.
Inilah salah satu cerita yang membuatku ternganga hingga merasa diri kian tak
bersyukur atas nikmat yang melimpah yang Allah berikan padaku. Begini ceritannya..........
Malam itu, salah seorang etoser
demam tinggi, badannya panas. Aku ajak ke puskesmas dia gak mau, minum obat gak
mau, makan gak mau, jadi serba salah. Aku bingung sendiri. Dengan keadaan
tubuhku juga kurang sehat, membuatku begitu di uji kesabarannya. Aku bujuk dia
untuk makan walau sedikit saja. Akhirnya berhasil. Setelah makan 3 sendok ia
pun tertidur dengan kain kompres di kepalanya. Setelah dia tertidur, aku
mengobrol kecil dengan salah seorang etoser yang kebetulan satu kamar
dengannya. Mulai lah kami berdiskusi, tentang awal hijrahnya aku dan dia. Hingga
tibalah saat nya ia menceritakan bagaimana perjuangannya masuk ke kampus
ternama di Aceh ini. sebut saja namanya
SN.
Ia mulai bercerita, “ sejak dari
SMA aku tinggal dengan paman kak, paman lah yang membiayai sekolahku hingga
selesai, tidak hanya aku. Bahkan paman juga menyekolahkan beberapa saudarku
yang lain, termasuk muridnya istrinya. Memang pamanku ini orangnya sangat baik.
Dermawan sekali. Kalau kita lihat dari segi materi mungkin tidak cukup. Beliau profesinya
hanya sebagai seorang guru, begitu juga dengan istrinya. Punya anak 5 orang. Tapi
beliau menyekolahkan anak-anak lain. Aku,bibiku,dan 1 murid dari istri beliau. Belum
lagi ada beberapa mahasiswa pekerja di percetakan beliau yang beliau kuliahkan,
tapi akhirnya kuliahnya tidak selesai karena tidak serius. Beliau lah kak yang
memberi uang jajan kami, spp, dan semua kebutuhan kami. Walaupun itu
cukup-cukupan. Kami bertiga tinggal di kamar yang sangat sempit kak, hanya ada
1 tempat tidur, yang kami gilirkan untuk tidur disitu, sebagian tidur di lantai
sebagian diatas. Sedang anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu tidur
sekamar dengan beliau. Beliau mengajarkan kami untuk tidak boros,untuk rajin
belajar, menutup aurat, dll”
Aku terdiam,serius mendengar
ceritanya. Lalu ia melanjutkan lagi...
Saat aku lulus dari sekolah, aku
mulai kebingungan untuk masuk ke kampus mana. Hingga seorang abang leting
memberitahuku bahwa ada yang namanya Beastudi etos, di bayar spp, fasilitas
asrama dan uang saku. Akhirnya aku pun mendaftar dengan semangat 45. Begitu juga
dengan abang leting atdi, dia sangat bersemangat membantuku, ia yakin aku pasti
lulus. Aku pun mengikuti UMB di Unsyiah dengan harapan lulus walaupun itu
sebenarnya tanpa sepengatuan ibuku, ibuku tidak mengizinkan aku untuk ikut UMB
karna takut tidak lulus dan tidak ada biaya UKTB karna untuk jalur UMB itu
sendiri terhitung mahal. Namun aku nekad karna ada dukungan paman, bibi, dan
abang letingku tadi yang juga salaah seorang etoser. Pergilah aku ke Banda Aceh
diam-diam tanpa izin ibu untuk ikut UMB. Namun sepertinya Allah tidak ingin aku
berbohong kak, tiba-tia ibu telp bahwa nenek mau ke medan, dan dia menyuruhku
untuk menjemputnya. Aku terdiam tak tau mau jawab apa, sehingga aku berbohong
dan mengatakan bahwa aku sedang di subulussalam di tempat pamanku. Ibuku marah,
aku pun meminta maaf padanya. Ternyata setelah itu ibu menelpon paman, maka
paman menceritakan bahwa aku sedang di Banda Aceh untuk mengikuti UMB, betapa
terkejut dan marahnya ibu, ia sedih karna aku berbohong kak, ibu menelpon ku
sambil menangis, hingga aku juga ikut menangis, aku jelaskan kepada ibu tentang
tekad ku untuk melanjutkan kuliah, hingga ia mngerti. Beberapa saat kemudin,
aku dapat info bahwa ternyata aku tidak lulus di etos, betapa hancur hatiku,
sedangkan hari itu juga aku di nyatakan lulus di fakultas pertanian unsyiah,
aku mulai kebingungan harus kemana mencari uang untuk spp. Abang letingku yang
semangat mengurus semua keperluanku tidak menyngka kalau aku tidak lulus, tapi
dia tidak pernah hilang smangatnya membantuku. Ia mengusulkanku untuk tetap kuliah
dengan berharap ada beasiswa bidik misi nantinya. Tapi aku sudah tidak berani
menelpon ibu untuk memberitau kabar ini
......
Untuk UKTB ternyata di minta slip
rekening pembayaran listrik dan lain-lain, tapi lagi-lagi aku tidak berani
manghubungi ibu untuk mengurus itu semua, karena agak ribet sedikit. Hingga akhirnya
abang leting ku tadi menghubungi adiknya di kampung untuk meminta tolong mengurus semua berkas-berkasku.
Kebetulan abang ini tidak sekampung denganku, dia langsung mengatakan ke
abangnya “aku gak ada uang ongkos pergi bang”, aku mendengar suaranya dari Hp,
abang letingku tadi menjauh dariku supaya aku tidak mendengar pembicaraan
mereka, ia berbisik “ kau pinjamlah dulu uang tetangga atau siapa, kita tolong
lah adik kita ini, sayang dia”. Hingga akhirnya adik abang tersebut datang ke
kampungku, kebetulan dia tidak tau rumah kepala desa, berjumpalah dia dengan
ibuku. “ bu numpang tanya, rumah kepala desa dimana ya? “. Ibu menjawab “ di
sana nak, ada perlu apa ya?”, “ini bu , ada adik saya yang minta tolong buat di
urus berkas-berkasnya untuk kuliah”, “siapa nama adikmu itu?”, maka abang
tersebut menyebut namaku lengkap kak. Sontak aja ibu terkejut “ itukan anak
ku...” ibu menangis, lagi ibu menelpon ku dengan air mata, ia kecewa “ kenapa
kau tak bilang ke ibu,kenapa tidak minta tolong ibu?, kenapa harus orang lain’
. aku merasa bersalah...
Beberapa minggu kemudian, aku
mulai masuk kuliah. Aku tidak semangat kuliah, karena aku berencana berhenti di
semester 2 karna takut tidak ada uang spp. Aku kuliah ogah-ogahan. Hingga suatu
hari aku mengambil keputusan untuk memberanikan diri berjumpa ketua prodi. Setibanya
aku di ruangan ketua prodi, aku disambut ramah. Aku menanyakan “ pak, masih
adakah beasiswa di kampus?” ,,, sang bapak menjawab “ sepertinya tidak ada
lagi, bidik misi udah tutup, memangnya kenapa nak? “ lalu aku mulai bercerita
tentang perjalanan hidupku, hingga sang
bapak iba. “ ya sudah kita ke PD3 sekarang “ kata beliau. Beliau mengantarkanku
ke PD3 , sesampainya disana sang PD3 juga menyambutku ramah, aku menceritakan semua
keluh kesahku, bapak tersebut bingung memikirkan solusinya karna memang tidak
ada lagi beasiswa saat itu, beliau bertanya “ dulu waktu sekolah peringkat
berapa kamu? “ saya menjwab ‘”peringkat 1 pak, tapi yang terakhir 2’. “ yasudah
kalau begitu ayo ikut bapak ke biro”. Bapak tersebut mengantarkan saya ke biro
padahal saat itu ada seorang mahsiswa yang ingin konsul tapi beliau bawa juga
untuk menemani saya, bayangkan kak saya di antar langsung oleh PD3 dengan
mobilnya, betapa baik bapak ini. sesampainya disana kami menuju bagian keuangan
di biro, bapak bagian keungan itu menanyakan dengan detail, “ kamu sudah print
UKTB nya? “ , “ belum pak “ jawab saya. Lalu bapak tersebut menyuruh saya untuk
print UKTB terlebih dahulu, saya, pak PD3 dan mahasiswa tadi keluar dari
ruangan. “ apa perlu di antar ke ICT? “ tanya pak PD3 “ tidak usah pak, saya
jalan sendiri saja. Terimakasih pak sudah mau membantu” , “ yasudah, di temani
sama kakak ini aja ya” beliau menyuruh mahasiswa tadi untuk menemani saya. “
tidak usah pak” . mereka pun berlalu. Saya
segera berlari ke gedung ICT unsyiah, sesampainya di sana, suasana lengang tak
ada orang....
Keesokan harinya, saya kembali
datang ke biro sendiri tanpa ditemani siapapun, saya menjumpai seorang pegawai
disitu. “ bang, bapak bagian keungannya ada? Saya mau jumpa dengan beliau”,
abang tersebut melihat saya sinis “ mau ngapain kamu?” tanyanya. Saya menjelaskan
panjang lebar. Dia menjawab “ oh gak bisa, mana boleh seperti itu, dia ada
prosedurnya gak bisa main datang langsung ke bapak itu, beliau sibuk, sedang
tidak ada di sini, lagi ada rapat di luar kota, besok aja kamu datng lagi”. Begitu
katanya , aku pantang menyerah. Aku duduk dan tetap menunggu disitu, beberapa
menit kemudian bapak bagian keuangan tersebut keluar buru-buru dan berlalu dari
ruangnnya. Saya marah sekali, “ bang , apa juga tadi abang ini bilang bapak
lagi diluar kota, itu tadi beliau lewat” saya menatap nya garang. “ loh... kamu
ternyata sudah kenal sama bapak tersebut?” tanyanya salah tingkah. “ ya iyalah
bang, orang saya kemarin kesini bareng pak PD3 pertanian” jawabku jengkel. “
yasudah, tunggu aja sebentar, nanti bapak itu kembali”. Beberapa saat kemudian,
bapak tersebut kembali , aku langsung menghampirinya. Lalu kami bercakap-cakap,
jawaban beliau sama engan PD3 bahwa tidak ada lagi beasiswa, tapi beliau mau
membantu saya dengan cara saya sendiri langsung menemui rektor, beliau yang
atur jadwalnya dengan syarat tidak mengatakan bahwa belaiu yang bantu karena
belaiu takut di anggap bahwa saya ini adalah sanak saudaranya. Sayapun mengangguk
setuju. Aku pulang dengan keadaan gembira. Setidaknya sudah ada secercah
harapan di depan mata untuk tetap bertahan kuliah, dan kalaupun rektor tidak
juga mau membiayai , bapak PD3 sudah mau bersedia untuk membiayaiku dan tinggal
di rumah beliau untuk membantu mengajar anak-anaknya, bahkan aku sudah sempat
di bawa ke rumah dan di kenalkan kepada anak-anak dan istrinya. Tapi tiba-tiba,
Hpku berdering. Ternyata itu telp dari manejemen Beastudi etos Aceh.
BERDASARKAN HASIL PERTIMBANGAN , AKU DI TERIMA MENJADI SALAH SATU PENERIMA
MANFAAT BESTUDI ETOS. ALLAHU AKBAR !!! aku bersujud syukur bahagia, dan
langsung mengabari ibu di kampung.
Keesokan harinya, aku kembali
datang ke biro menjumpai bapak bagian keuangan dengan wajah sumringah,
seampainya di sana aku langsung mengatakan “pak, tidak jadi lagi ya jumpa pak
rektor, alhamdulillah saya sudah di terima di etos”, bapak itu tersenyum dan
berkata “ alhamdulillah, rajin-rajin sholat nak ya” itu pesannya :D
Itu ceritanya kak, bagaimana saya
bisa masuk etos dan mengengenyam bangku kuliah”. Ia menutup kisahnya dengan
senyum, ada simpul bahagia di bibirnya.#
Aku terharu, sebegitukah
perjuanganmu untuk bisa kuliah dinda? Sedang aku dengan gampang dan mudahnya,
tinggal menunggu uang bualanan dari orang tua untuk spp dan biaya hidup,
sungguh aku malu, banyak belajar dari mu. Aku berkata padanay “ kelak suatu
saat itu semua akan menjadi sejarah dalam hidupmu, menjadi saksi perjuanganmu,
kengangan yang tak akan pernah bisa kau lupakan, dan akan menjadi cerita untuk
nak cucumu, semoga sukses dinda , sayang kalian semua ^_^.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar