Minggu, 06 Juli 2014

Cukuplah Kematian Menjadi Pelajaran



“Kullu Nafsin dzaiqatul maut” tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati (Qs Ali imran ; 185).
“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan,yakni kematian.”(HR.Tirmizi)
Sahabat yang di rahmati Allah, sejatinya hidup di dunia fana ini hanyalah sebuah penggalan cerita yang hanya menjadi ladang buat kita. Ya, ladang untuk menanam sebanyak-banyaknya. Untuk apa? Untuk dipetik kelak hasilnya di akhirat jua. Kita ini ibarat petani, apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik, tanam jagung maka dapat jagung, tanam cabe tentu juga dapat cabe. Tak mungkin cabe yang di tanam jagung yang didapat. Begitu pula dengan hidup ini. apa yang kita kerjakan di dunia , maka itulah yang akan kita terima ganjarannya, baik kah atau burukkah.
Sahabatku, perjalanan hidup ini bukanlah seperti lomba lari yang tampak garis finish nya, namun ia adalah jalan yang satupun di antara kita tak tau kapan penghujungnya, adakala seeorang yang baru kita lihat beberapa hari yang lalu masih tertawa dan bercanda bersama kita tiba-tiba hari ini tawanya hilang, wajahnya pucat pasi, sekujur tubuh hanya tinggal bagai onggokan daging yang tak berharga, terkulai lemah lagi tak bernyawa. Tak ada yang tau kapan sang ajal akan datang menjemput kita, kapan sang malaikat maut menghampiri kita. Mungkin hari ini adalah giliran mereka, orang-orang terdekat kita, ayah,ibu,kakak,adik atau bahkan sahabat karib kita yang baru saja beberapa saat yang lalu masih curhat bersama kita, tiba-tiba kita mendenngar berita bahwa ia teah tiada.
Sungguh, betapa maut ini memisahkan seseorang denagn dunia, dengan orang-orang yang dicintainya, denagn pekerjaan yang dikerjakannya, dengan sekolah yang sedang ia tuntut ilmunya. Tak...tak..ia tak mengenal tua atau muda, semua sudah ada jatahnya. Kapanpun itu dan siapapu itu, ia tak mengenal kata “ tunggu sebentar” ataupun “ aku belum siap”, “ aku mau bertaubat dulu”, “aku belum menikah”, tak..kata-kata itu tak sama sekali berlaku baginya. Ia tak mengenal kata tangguh. Bisa jadi hari ini giliran mereka dan besok adalah kita.
Sahabatfillah, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata ; “Bila manusia meninggal dunia,maka pada saat itulah ia bangn dari tidurnya”, subhanallah berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yan masih hidup di dunia ini justru masih “belum bangun”. Sungguh ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah swt yang artinya:
“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesngguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (Qs Al-ankabut;64)
Sahabat yang kucintai karena Allah, maka pantaslah Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat.karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal,dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban , tidak ada amal.”
Saudaraku, sudah seberapa usaha kita untuk mempersiapkan seni kematian yang terindah? Kematian yang dinanti-nantikan untuk menghadap sang maha cinta, Allah swt. Kematian yang kiranya kedatangannya membuat kita damai, bukan justru takut dan menghindar darinya, sebab sejatinya kematian itu adalah hak dan ia akan datang pada waktunya tanpa kompromi apalagi permisi. Pernahkah kita membayangkan bagaimana mesra dan syahdunya bertamu sang Khalik dan menatap dengan lekat cahaya dari sang maha Rahman. Pernahkah merindu untuk bertemu Ny dan kekasihNya? Ah kiranya itu yang kita bayangkan tentu kematian menjadi begitu indah untuk dirindukan, namun hari ini yang terbayang adalah sakaratul maut yang sungguh menyakitkan membuat bulu-bulu kuduk merinding dan sekujur tubuh dingin.  Sering kita dengar bahwa sakaratul maut itu lebih sakit dari dikuliti hidup-hidup, bahkan mungkin lebih dari itu. Nabi Muhammad Saw sang kekasih Allah yang begitu mulia pun merasakan betapa sakitnya sakaratul maut itu hingga beliau meminta suapaya para ummatnya tidak merasakan sakit itu dan beliau meminta seluruh rasa sakit yang akan dirasakan ummatny supaya ditimpakan kebeliau saja. Lihatlah kekasih Allah yang mulia ini bahkan ketika sedang sakaratul mautpun masih sempat memikirkan ummatnya. Sang malaikat memalingkan wajahnya tak sanggup melihat kekasih semesta ini kesakitan. Rasulullah berdo’a:
“Laa ilaha illallah...Laa ilaha illallah...La ilaha illallah... Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah , Bantulah aku mengahdapi sakaratul maut . Ya Allah ringankanlah sakaratul maut itu buatku.”(Hr Bukhary-Muslim). Lalu jika Nabi Muhammad saw yang mulia mengalami sakit yang kian menyakitkan konon bagaimana kita ini manusia yang berlumur dosa, Allah ya Rabbi.
Masih tentang sakaratul maut, sahabat, pernahkah jarimu terluka karena goresan pisau? Atau kakimu tertusuk duri? Bagaimana perih yang engkau rasa? Padahal itu mungkin hanya satu sel yang mati namun bayangkan ketika seseorang sakaratul maut secara bersamaan ribuan sel yang ada ditubuhnya mati, sudah tentu sakitnya luar biasa. Sekarang ini bisa ta lihat berbagai macam akhir dari hidup seseorang di hadapan mata kita, seharusnya itu menjadi pelajaran untuk kita yang amsih Allah berikan kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Akhir hidup seseorang sangat menentukan bagaimana kelak kehidupannya di akhirat. Tak heran, jika banyak orang-orang yang awalnya selalu berbuat baik lalu tiba-tiba di penghujung hidupnya justru dalam kemaksiatan, dan sebaliknya orang-orang yang hidupnya penuh dengan kemaksiatan tiba-tiba justru akhir hidupnya itu dalam kebaikan. Tak pernah kita tau bagaimana akhir dari hidup kita, maka sudah sepantasnya kita berusaha untuk istiqomah di jalan Allah dan terus memperbaiki diri tanpa kenal kata “istirahat” sebab orang-orang mukmin itu istirahatnya di Syurga. Karena bisa jadi saat kita sedang beristirahat dan cuti berbuat baik justru saat itu maut datang menghmpiri , sungguh merugilah kita. Jangan pernah remehkan sekecil apapun kebaikan, karena kita tak pernah tau dengan amal apa kita msuk ke syurgaNya Allah.
Saudaraku, tak jarang pula kita menemukan akhir-akhir hidup seseorang bersama dengan apa yang ia cintai di dunia ini. kadang kita menemukan sang pesepak bola, meninggal di lapangan sepak bola saat sedang main bola, kadang pula kita menemukan sang pemabuk meninggal saat sedang bermabuk-mabukan atau sang hafizul qur’an saat sedang bertilawah atau mengahfal qur’an, kerap pula kita temui sang ahli ibadah meninggal saat sedang khusyu’ dalam sujudnya. Seseorang tentu akan bersama apa yang ia cintai dan apa yang ada di hatinya. Maka kita selaku manusia yang punya khilaf dan lupa mari kita terus berusah mencntai apa-apa yang dicintai Allah dan mengahbiskan waktu kita untuk menjadi insan yang dicintainya, menyediakan waktu-waktu khusus untuk bercinta denaganNya buak waktu sisa kita.
“Kullu nafsin dza iqatul maut”....
Hari ini engkau yang pergi , bisa jadi besok adalah aku, tak ada yang tau.
“kullu nafsin dza iqatul maut”
Saat tubuh kaku ini di angkat, di gotong secara bersamaan, mungkin sedikit keras lalu kesakitan pun menjera. Bagaimana tidak, saat baru saja merasakan sakitnya sakaratul maut lalu tubuh kaku itu diperlakukan kurang lembut, perih..perih sekali. Ah mengingat akan tibanya masa-masa itu, saat orang-orang tercinta hanya bisa menangis menyaksikan tubuh itu di maksukkan keliang lahat dan di tutup hingga yang tinggal hanyalah tanah liat yang menguning dan rumput yang mulai menjalar kuburan yang sepi itu. Terputus...terputuslah semua hubungan kita dengan dunia. Anak, istri/suami, orang tua, saudara, para sahabat, mereka hanya mampu mengirim doa, sedang kita terbujur kaku dalam kubur. Terputus..terputus sudah cinta kasih dunia, hanya anak yang sholeh, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, hanya itu yang terus mengalir . terputus..terputus sudah, mereka, orang-orang terkasih hanya sanggup menangisi paling lama satu minggu, hanya mampu bersedih paling lama satu bulan, lalu sesudah itu mereka akan kembali menjalani hidup seperti biasa, menikmati hidup tanpa kita, istri/suami yang kita cintai bisa jadi akan menikah lagi, begitu pula anak-anak yang semakin sibuk dengan dunianya, saudara dan sahabat yang mungkin hampir lupa dengan kita. Bisa jadi mereka hanya akan datang setahun sekali ke pemakaman saat Idul fitri tiba. Ah, sejatinya hidup ini memang nafsi-nafsi, masing-masing kita akan mempertanggungjawabkan diri kita ini sendiri di hadapan Allah kelak. Oleh karena itu, jika ingin terus didoakan oleh orang2 yang dicintai, jika ingin terus dikenang, maka didiklah anak-anak untuk menjadi anak yang sholeh, sampaikanlah kebaikan agar kelak mereka yang mendengarnya selalu mengenang dan mendoakan kita.
Itulah akhir dari hidup ini, dunia fana yang akan kita tinggalkan menuju alam yang baqa. Sungguh ketika kita sudah mati, tak ada yang berharga dari tubuh kaku ini, saya teringat dengan kata seorang ustad “ jika seandainya mayat manusia itu di bawa kepasar dan di taruh di dekat bangkai ikan (ikan teri, ikan asin, dll) maka orang akan lebih memilih ikan tersebut. (memang perkataan ini candaan, tapi jika kita rasionalkan tentu betul, ikan yang sudah mati masih ada manfaatnya, namun mayat manusia tidak). Maka, tak ada yang perlu disombongkan dari diri ini.
 Allahu rabbi...ampuni kami ini yang lengah dan lalai. Allah .. jadikan lah akhir hidup kami dalam keadaan husnul khatimah.
Saudaraku, bersiaplah menjemput seni kematian terindah kita, cukuplah kematian saudara-saudara kita menjadi pelajaran bagi kita. Menjadi muhasabah buat kita, menjadi tolak ukur sejauh mana kita sudah mempersiapkan kematian kita. Kullu nafsin dza iqatul maut. Ketika ingin mencoba melakuka maksiat, bayangkan jika saat kita bermaksiat tiba-tiba kita menjumpai maut. Ketika terbesit ingin mencuri misalnya, atau pacaran, atau tak menutup aurat, atau mabukan, atau menggunjing, atau..atau..atau maksiat yang lain, bayangkan..bayangakn saat sekali itu kita mencoba melakukan itu dan kita tak dapat kesempatan lagi untuk bertaubat, maka apa yang mau kita lakukan? Kematian di ambang pintu, ia siap datang kapanpun dan dimanapun, bersiaplah, bertaubatlah.
“Bisa jadi hari ini mereka, besok adalah kita”
“Allah ya Rahman, jadikanlah akhir hidup kami dalam keadaan husnul khatimah, aamiin”
Wallahualam..

*8Ramadhan1435H, selamat jalan sahabat-sahabatku (Halimatun sakdiah(sahabat kami di MAN MBO 1 dulu),Umi Arhami (adik kami, kader LDF Almudarris,PKK let 11) Reza Aulia (Teman kami, B.Inggris let 10)semoga Allah tempatkan di SyurgaNya dan Allah terima amal ibadahnya.semoga kepergian kalian menjadi pelajaran bagi kami di Ramadahan berkah ini.