Kamis, 30 Januari 2014

Cinta Pasti Bertasbih Pada Saatnya

Menatap dari kejauhan itu sakit..
seperti ditusuk sembilu..
seperti tergores duri
namun ini akan lebih sakit jika engkau memaksakan dirimu untuk terus memperhatikannya..
ada baiknya memperbaiki diri,
menyulam mimpi ..
menghias asa..
kelak suatu saat nanti yang dinanti kan datang dengan senyuman
pada waktu yang tepat dimana kedua tangan laki-laki hebat berjabat
mengucapkan akad dengan khidmat dan hormat..

itulah yang membuatmu berharga
menanti dalam diam
tanpa kata, tanpa mengumbar rasa
hanya terus dan terus memperbaiki diri
hingga hari itu tiba.

itulah yang membuatmu berbeda dari mereka
yang mngumbar setia
pada sesiapa saja
engkau bahkan lebih berharga kerna puasa panjangmu itu
kelak ketika berbuka
hilanglah semua dahaga
yang ada  hanya kata " selamat merayakan cinta"

seperti Fatimah dan Ali yang memendam rasa dalam hati.
hingga tak ada yang tau tentang apa yang mereka rasai
masing-masing dari keduanya lebih mengedepankan cinta Ilahi
membungkus rapi dalam hati
hingga takdir mempersatukan Fatimah dan Ali
lalu Allah satukan mereka dalam gerbang suci
hingga keduanya tersipu malu
saat tau bahwa keduanya mencintai di balik tabir hati yang tak tersentuhi.
lalu Allah celupkan cinta itu hingga kenikmatan-kenikmatan terus menghampiri keduanya.

tak usah gelisah menanti
hingga rela mengorbankan harga diri
kelak pangeran atau bidadari itu pasti kan datang menghampiri
usah resah..
#tak perlu mengumbar rasa karena cinta pasti kan bertasbih pada saatnya.

Selasa, 28 Januari 2014

Cheating



Cheating is one of student’s bad culture. Many  students do cheating when they face the school’s exam or the national examination. They do it in many ways, such as cheat to their friends,open the book,etc.The causes that cause the students do cheating are laziness and opportunities.and the effects of cheating  are the students become stupid, and the students will get the counterfeit score.
The first cause is lazinees. Laziness is main cause that make the students cheating. When the students lazy to study, cheating is the only way to help them self to pass the examination.
The second cause is opportunities.The students will not cheat  if there is no opportunities. When the teacher can not control classroom well, it is the big opportunities for students to cheat.
Those all causes influence the students to do cheating . and the students get bad effect because of it.
First, the students become stupid. If the students do cheating, they will not study anymore ; as a result, the students become the stupid people. It happen because they do not study .
Second, the students get the counterfeit score.The student who do cheating will get the counterfeit score. It is not the real score for them, but it is the result of cheating.
In conclusion,cheating is not good for the students because it can make them become the stupid people,and they will get the counterfeit score.so, the teacher should not give them opportunities to cheat and give them motivation in order the student is not lazy to study.



Bunga Jiwaku



                  
                   Kau ibarat sekuntum bunga
                   Yang tumbuh di taman hatiku
                   Akarmu kokoh, tegak berdiri
                   Di lubuk hatiku….
        
                   Harummu mewangi di jiwa
                   Merekah senyummu walau di atas luka
                   Ku saksikan tegarnya hatimu
                   Hingga melelehkan salju di jiwa
                   Ku saksikan mulianya pengorbananmu
                   Membuat putik sari cinta semakin manis
                   Di hari muda…

                   Kasihmu selalu hijau
                   Subur dan takkan gersang 
                   Sepanjang waktu
                   Dan ketika madumu mengalir 
                   Dalam jiwaku
                   Mahkotamu semakin berkilau
                   Di terpa sinar surya.

                   Mahkota seorang bunda
                   Yang bercahaya walau di malam gulita
                   Bunda…kaulah bunga jiwaku
                   Yang mekar abadi 
                   Dan takkan pernah layu.
   

Mushalla Almudarris Berbicara


Aku telah lama menjadi bagian dari kampus ini.
kampus yang konon katanya "jantong hatee rakyat Aceh"
aku menyaksikan berbagai macam ragam mahsiswa(i) setiap tahunnya.
di tiap-tiap tahunnya aku setia menanti jiwa-jiwa yang merindu Rabnya.
aku membuka lebar pintuku untuk siapa saja yang datang.
entah untuk beristirahat,shalat,ikut kajian atau sekedar membuat tugas di sini.
tak peduli apapun itu, yang terpenting aku senang jika ada ada yang mengunjungiku.

mungkin aku hanya sebuah mushalla kecil yang tersembunyi .
namun kehadiranku sangat berarti bagi sebagian sahabat di luar sana.
mereka mencoba untuk terus meramaikanku dengan membuat agenda-agenda yang mendekatkan manusia dengan Rabnya.
di tengah kesibukan akademik dan kesibukan lainnya mereka berusaha untuk terus menebar kebaikan dikampus tercinta ini.

Sahabat, Aku Ldf Almudarris Fkip Unsyiah ingin lebih dekat denganmu seperti dekatnya aku dengan kampus ini, aku ingin kita bisa berbagi,bersama menuju JannahNya.

  *menantimu saudaraku di mushalla Almudarris.

Sabtu, 18 Januari 2014

Rumah Ukhuwah



“Sebab cinta yang tumbuh itu karena ruh-ruh kita yang menyatu dalam sebuah bingkai yang bernama ukhuwah, dalam rangkulan iman dan mahabbah, maka ketika iman kita turun, ukhuwah pun terasa longgar, kenapa? Bisa jadi karena frekuensi iman kita beda, mungkinkah imanku yang tinggi dan imanmu yang lagi turun atau sebaliknya imanku yang lagi turun dan imanmu yang lagi naik” kata seorang ukhty lantang pada konsolidasi akhwat hari itu. Aku tercengang menatap matanya yang berbinar-binar, semangatnya menyala bagai api yang terus berkobar. Lembut, tapi menembus ke palung hati yang terdalam.
Aku jadi teringat semua kejadian-kejadian yang terjadi disini, semenjak aku  ini di amanahkan di sini, di rumah dakwah yang kian harum namanya, yang menggetarkan hati siapa yang mendengarnya, yang membuat mereka yang pernah berada di sini dengan bangga dan haru menceritakan momentum-momentum sejarah yang telah mereka cetak di ranah yang bernama dakwah kampus. Lalu aku berpikir sejenak, “benarkah aku di amanahkan disini?”...”sanggupkah aku...”...”mampu kah aku? “ dan berbagai pertanyaan lain terus muncul dalam benakku. Tepatnya hari itu, ketika musyawarah  pergantian pengurus di laksanakan di auditorium fkip lama, keringatku menetes kian deras, seluruh tubuhku dingin, akhirnya tak dapat ku bendung lagi dengan seketika air mata ini tumpah ruah, tak peduli di depan ikhwan dan akhwat disitu. Aku bertanya pada diri ini, “ akankah kuat pundak ini mengemban semua ini” , lagi batinku berkata “ bukankah masih ada si A yang lebih bagus amalan yaumiyahnya, lebih bagus hafalannya, lebih bagus interaksi sosialnya, lebih bagus organisasinya, pada intinya lebih unggul dariku”..oleh karena keawamanku, batinku terus saja bertanya-tanya, namun saat itu karena kehadiran sesosok yang bermata teduh dari jauh menatapku, seorang kakak yang selama ini berbuih-buih mengajarkanku tentang tarbiyah, amanah dan lain2. Aku terdiam. Aku menunduk dalam-dalam, “tsiqoh” ya kata-kata itu yang aku ingat, walaupun mungkin pengetahuanku sendiri masih sangat awam saat itu untuk mengerti makna kata itu yang sebenarnya.
Tak hanya sampai disitu, pikiranku terus menerawang jauh kedepan hingga aku tiba di rumah, aku bergegas menuju kamar dan membenamkan diri dalam-dalam dalam lautan si empuk kasur dan bantal, menangis sejadi-jadinya, gak tau menangis karena apa. Hingga aku mendapatkan sms :
“Jika hasil syuro telah menetapkan kita untuk mengemban suatu amanah, maka sebagai kader yang tertarbiyah taat bukanlah suatu pilihan melainkan suatu keharusan. Kepada adinda ........... dan...... selamat mengemban amanah ini . Allahlah yang telah memilih kalian . berusahalah seoptimal mungkin untuk membawa Almudarris semakin lebih baik. Sertakan Almudarris dalam setiap derap langkah kaki kalian, amirah demisioner”
Mataku berkaca-kaca membaca sms ini, sungguh pesan yang sangat dalam, tulus , ikhlas terpancar dari isi nasehat tersebut, ini adalah pesan dari hati seseorang yang sangat mencintai dan menjadikan Almudarris bagian dari hidupnya. Lagi, pukulan itu mngenai hatiku “bisakah aku menunaikan amanah ini?”...............
Aku mengalihkan pikiranku, berhenti berpikir seperti itu!!!, berusahalah seoptimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Jangan bertanya mengapa dan mengapa. Tapi tanyakan pada dirimu apa dan apa yang bisa aku lakukan dan aku berikan untuk dakwah ini. karena ada dan tanpanya aku disini , toh dakwah gak akan mati, ia tetap melaju dengan generasi-generasi yang mulia. Toh aku lah yang membutuhkan dakwah bukan sebaliknya. Karena Allah tidak melihat hasil tapi Allah melihat proses, terus dan teruslah berkontribusi disini, tak ada kata tidak bisa, tak ada kata tak mampu, bi iznillah, mulai lah bekerja dan Allah, Rasulmu dan orang-orang mukmin yang akan melihat kerjamu itu.
                                                                                      ###
Hari-hari terus berganti, ada banyak hikmah yang kutemui disini. Ada banyak kepala disini, tentu juga banyak macam ragam pemikirannya, layaknya para sahabat dulu. Ada yang tegas dan gagah seperti Umar bin Khattab, ada yang lembut seperti Abu bakar, ada yang dermawan dan bijak seperti Usman dan ada yang cerdas seperti Ali. Karena keberagaman ini membuatku begitu merindukan saudara-saudaraku tiap kali aku tak menatp wajahnya. Disinilah aku menemukan makna ukhuwah yang tak tergantikan, menemukan orang-orang luarbiasa yang tersisa di zaman ini. yang rajin menghadiri majlis-majlis zikir mesi tak jarang bermacam rintangan mereka hadapi. Disini aku menemukan sesosok manusia yang itsar nya luar biasa, yang kelembutannya mampu meluluhkan siapa saja, disini pula aku menemukan orang-orang yang begitu sibuk dengan agenda dakwahnya namun prestasiny di bidang akademik juga luar biasa. Tidak hanya itu, yang terpenting bagiku, disini aku seperti menemukan alarm, ya alarm hati yamg senantiasa siap mengingatkan aku krtika langkah-langku mulai goyah dan semangatku melemah. Cukup hanya bertemu dan menatap wajah mereka yang bercahaya, lalu akupun bersemangat kembali.
Tentang ukhuwah ini, sungguh tak dapat aku definisikan dengan kata-kata. Ingin sekali aku mengabadikan setiap moment indahku bersama mereka dam tulisan ini, namun karena kisah ini terlalu indah sulit bagiku untuk menemukan kata-kata yang cocok untuk melukiskan kebahagiaanku berjumpa dengan orang-orang seperti mereka. Tentang cinta ini, hingga terkadang orang-orang di luar sana heran dengan kita dan bertanya “ tidakkah kalian capek, pergi pagi pulang di magrib hari” lalu sebuah senyum simpul muncul di guratan wajah kusam kita. Sungguh, aku berbahagia. Allah mempertemukan kita di jalan ini ikhwatifillah. Aku bahagia, ketika pemuda-pemudi lain di luar sana sibuk dengan dirinya sendiri, namun disini masih ada pemuda-pemudi yang memikirkan orang lain, yang memikirkan saudara-saudaranya di belahan duni islam lain, sungguh aku berbahagia di pertemukan dengan saudara-saudari seperti kalian, dimana ketika mereka diluar sana sibuk memasang pp dengan kekasih haramnya sementara kita kompak memasang pp rab’ah, free palestine, dan gambar-gambar kegiatan dakwah kampus kita. Sungguh aku berbahagia ketika diluar sana, sang teman dengan semangatnya mencomblangi temannya untuk pacaran sementara disini kita saling menegur dan mengingatkan jika sudah ada yang mulai futur dan terkena VMJ. Sungguh aku berbahagia, ketika mereka diluar sana berbangga-bangga dengan cinta lokasi sementara kita tetap bersikeukeuh menjaga hijab diri dan hati. Aku tidak bermaksud memuji ikhwah, aku hanya ingin bersyukur betapa nikmat Allah mengaruniai saudara-saudari yang sholih adalah kenikmatan yang tiada tara.
Dan ikhwah,darimanakah ini bermula? ...,dari rumah ini, ya, tentang rumah ini. rumah kita, rumah ukhuwah, rumah dakwah, yang kita sebut mushalla Almudarris. Meski kini terlihat sering kosong, tak ada yang berhadir. Dan sesampah berserakan disana, debu-debu menempel didindingnya, jauh dari hiruk pikuk mahasiswa  tetap saja aku cinta. Kerab aku membayangkan suatu saat rumah ini kan dipenuhi gelak tawa lagi, oleh orang-orang yang melingkar dalam ukhuwah dan tarbiyah ini, tetap saja ada kenikmatan yang berbeda ketika kita berkumpul disana, karena sejarah telah mencatat ia lah rumah pertama d jantong hate rakyat Aceh yang menggemakan tarbiyah di seantero unsyiah. Namun spertinya ia lebih memilih menyendiri disana, bertafakkur, berzikir pada yang maha kuasa. Ikhwah, sesekali pulanglah... jenguklah ia. Aku melihatnya merindukan kita. Meski terkadang aku sendiri bingung, apakah kita sudah terlalu sibuk sehingga tak ada waktu untuk pulang kerumah hanya sekedar duduk dan bertilawah disana, atau membaca buku-buku dalam lemari yang sudah mulai usang, atau hanya cukup melihatnya sebentar saja untuk memastikan bahwa  ia baik-baik saja. Atau mungkin kita berkata “ ngapain kesana kalau gak ada acara” atau sebagian dari kita mengatakan “ jangan buat acara disana, jauh kali perginya” atau kita sering mebanding-bandingakan antara kini dan dulu? Apa karena rumah kita tak sebagus dulu kita tak mau pulang ? atau apa memang kita sudah tak peduli? ...
Ikhwah... bagus tidak nya rumah ini, adalah tergantung pada kita yang merawatnya. Dan sungguh, ini tak akan mampu di lakukan oleh seseorang, tapi butuh beberapa orang. Entahlah ikhwah, bagaimanapun itu pulanglah ke rumah ukhuwah, ada banyak yang ingin dia ceritakan pada kita, ada banyak cinta disana yang mana sesepuh-sesepuh kita telah duluan mereguknya, dan insya Allah kelak kita juga akan merasakan manisnya bersama di rumah ukhuwah ini. J
Dan bagaimanapun ceritanya, meski di penghujung masa-masa kita di kampus yang sebagian dari kita mulai di sibukkan oleh tugas akhir, aku ingin berterimakasih kepada kalian saudara-saudariku semua yang telah Allah pertemukan kita di jalan dakwah ini, di rumah ukhuwah ini. aku berbahagia menjadi bagian dari rumah ini, kelak cerita ini akn menjadi kisah terindah kita bersama, dimana kita berjuang bersama-sama menyebarkan nilai-nilai kebaikan di kampus tercinta mesti terkadang tak semua senang dengan kita, namun karena kita bersama kita menjdi kuat dan saling menguati. Semoga kelak d syurga Allah pertemukan kita kembali dan kita akan bernostalgia tentang perjuangan ini di atas dipan-dipan yang berwangi kesturi. Semoga ukhuwah tetap terpatri, semoga rabithah di dalam hati, semoga istiqomah hingga ajal menghampiri. Uhibbukum fillah ikhwatifillah ..

Rabu, 08 Januari 2014

Perjuangan Sang Adik Untuk Mengenyam Pendidikan (Kisah Nyata Seorang Etoser Masuk Perguruan Tinggi)



Awal cerita aku mengenal Bestudi Etos itu melalui seorang adik yang aktif di sebuah Lembaga Dakwah di kampus jantong hatee rakyat Aceh. Tidak terlalu mendalam, hanya sekilas tau nama dan fasilitas apa saja yang di dapatkan oleh penerima manfaat itu sendiri. Kebetulan aku punya seorang sepupu yang keluarganya kurang mampu, dan pada saat itu aku semakin gemar mencari info tentang etos untuk mendaftarkan sepupuku disitu. Namun ternyata Allah berkehendak lain, sepupuku lulus di tahap seleksi di Etos, tapi sayang dia tidak lulus dikampus Unsyiah itu sendiri, hingga sekarang dia tidak kuliah karena keterbatasan materi keluarganya. Ternyata di sebalik itu semua, Allah punya rencana lain. Aku yang tadinya berharap sepupuku itu menjadi bagian dari etos, sebaliknya justru aku yang akhirnya menjadi bagian dari keluarga Etos ini sendiri, namun tidak sebagai penerima manfaat tapi sebagai pendamping etoser.
Hari-hari ku lalui dengan berjuta hikmah yang menghampiri, banyak butiran-butiran pelajaran yang begitu berharga ketika ku berada di antara mereka. Ada banyak kisah haru lagi menyeruak batin tentang perjuangan mereka untuk bisa melanjutkan study nya ke perguruan tinggi. Inilah salah satu cerita yang membuatku ternganga hingga merasa diri kian tak bersyukur atas nikmat yang melimpah yang Allah berikan padaku. Begini ceritannya..........
Malam itu, salah seorang etoser demam tinggi, badannya panas. Aku ajak ke puskesmas dia gak mau, minum obat gak mau, makan gak mau, jadi serba salah. Aku bingung sendiri. Dengan keadaan tubuhku juga kurang sehat, membuatku begitu di uji kesabarannya. Aku bujuk dia untuk makan walau sedikit saja. Akhirnya berhasil. Setelah makan 3 sendok ia pun tertidur dengan kain kompres di kepalanya. Setelah dia tertidur, aku mengobrol kecil dengan salah seorang etoser yang kebetulan satu kamar dengannya. Mulai lah kami berdiskusi, tentang awal hijrahnya aku dan dia. Hingga tibalah saat nya ia menceritakan bagaimana perjuangannya masuk ke kampus ternama di Aceh ini.  sebut saja namanya SN.
Ia mulai bercerita, “ sejak dari SMA aku tinggal dengan paman kak, paman lah yang membiayai sekolahku hingga selesai, tidak hanya aku. Bahkan paman juga menyekolahkan beberapa saudarku yang lain, termasuk muridnya istrinya. Memang pamanku ini orangnya sangat baik. Dermawan sekali. Kalau kita lihat dari segi materi mungkin tidak cukup. Beliau profesinya hanya sebagai seorang guru, begitu juga dengan istrinya. Punya anak 5 orang. Tapi beliau menyekolahkan anak-anak lain. Aku,bibiku,dan 1 murid dari istri beliau. Belum lagi ada beberapa mahasiswa pekerja di percetakan beliau yang beliau kuliahkan, tapi akhirnya kuliahnya tidak selesai karena tidak serius. Beliau lah kak yang memberi uang jajan kami, spp, dan semua kebutuhan kami. Walaupun itu cukup-cukupan. Kami bertiga tinggal di kamar yang sangat sempit kak, hanya ada 1 tempat tidur, yang kami gilirkan untuk tidur disitu, sebagian tidur di lantai sebagian diatas. Sedang anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu tidur sekamar dengan beliau. Beliau mengajarkan kami untuk tidak boros,untuk rajin belajar, menutup aurat, dll”
Aku terdiam,serius mendengar ceritanya. Lalu ia melanjutkan lagi...

Saat aku lulus dari sekolah, aku mulai kebingungan untuk masuk ke kampus mana. Hingga seorang abang leting memberitahuku bahwa ada yang namanya Beastudi etos, di bayar spp, fasilitas asrama dan uang saku. Akhirnya aku pun mendaftar dengan semangat 45. Begitu juga dengan abang leting atdi, dia sangat bersemangat membantuku, ia yakin aku pasti lulus. Aku pun mengikuti UMB di Unsyiah dengan harapan lulus walaupun itu sebenarnya tanpa sepengatuan ibuku, ibuku tidak mengizinkan aku untuk ikut UMB karna takut tidak lulus dan tidak ada biaya UKTB karna untuk jalur UMB itu sendiri terhitung mahal. Namun aku nekad karna ada dukungan paman, bibi, dan abang letingku tadi yang juga salaah seorang etoser. Pergilah aku ke Banda Aceh diam-diam tanpa izin ibu untuk ikut UMB. Namun sepertinya Allah tidak ingin aku berbohong kak, tiba-tia ibu telp bahwa nenek mau ke medan, dan dia menyuruhku untuk menjemputnya. Aku terdiam tak tau mau jawab apa, sehingga aku berbohong dan mengatakan bahwa aku sedang di subulussalam di tempat pamanku. Ibuku marah, aku pun meminta maaf padanya. Ternyata setelah itu ibu menelpon paman, maka paman menceritakan bahwa aku sedang di Banda Aceh untuk mengikuti UMB, betapa terkejut dan marahnya ibu, ia sedih karna aku berbohong kak, ibu menelpon ku sambil menangis, hingga aku juga ikut menangis, aku jelaskan kepada ibu tentang tekad ku untuk melanjutkan kuliah, hingga ia mngerti. Beberapa saat kemudin, aku dapat info bahwa ternyata aku tidak lulus di etos, betapa hancur hatiku, sedangkan hari itu juga aku di nyatakan lulus di fakultas pertanian unsyiah, aku mulai kebingungan harus kemana mencari uang untuk spp. Abang letingku yang semangat mengurus semua keperluanku tidak menyngka kalau aku tidak lulus, tapi dia tidak pernah hilang smangatnya membantuku. Ia mengusulkanku untuk tetap kuliah dengan berharap ada beasiswa bidik misi nantinya. Tapi aku sudah tidak berani menelpon  ibu untuk memberitau kabar ini ......
Untuk UKTB ternyata di minta slip rekening pembayaran listrik dan lain-lain, tapi lagi-lagi aku tidak berani manghubungi ibu untuk mengurus itu semua, karena agak ribet sedikit. Hingga akhirnya abang leting ku tadi menghubungi adiknya di kampung untuk  meminta tolong mengurus semua berkas-berkasku. Kebetulan abang ini tidak sekampung denganku, dia langsung mengatakan ke abangnya “aku gak ada uang ongkos pergi bang”, aku mendengar suaranya dari Hp, abang letingku tadi menjauh dariku supaya aku tidak mendengar pembicaraan mereka, ia berbisik “ kau pinjamlah dulu uang tetangga atau siapa, kita tolong lah adik kita ini, sayang dia”. Hingga akhirnya adik abang tersebut datang ke kampungku, kebetulan dia tidak tau rumah kepala desa, berjumpalah dia dengan ibuku. “ bu numpang tanya, rumah kepala desa dimana ya? “. Ibu menjawab “ di sana nak, ada perlu apa ya?”, “ini bu , ada adik saya yang minta tolong buat di urus berkas-berkasnya untuk kuliah”, “siapa nama adikmu itu?”, maka abang tersebut menyebut namaku lengkap kak. Sontak aja ibu terkejut “ itukan anak ku...” ibu menangis, lagi ibu menelpon ku dengan air mata, ia kecewa “ kenapa kau tak bilang ke ibu,kenapa tidak minta tolong ibu?, kenapa harus orang lain’ . aku merasa bersalah...
Beberapa minggu kemudian, aku mulai masuk kuliah. Aku tidak semangat kuliah, karena aku berencana berhenti di semester 2 karna takut tidak ada uang spp. Aku kuliah ogah-ogahan. Hingga suatu hari aku mengambil keputusan untuk memberanikan diri berjumpa ketua prodi. Setibanya aku di ruangan ketua prodi, aku disambut ramah. Aku menanyakan “ pak, masih adakah beasiswa di kampus?” ,,, sang bapak menjawab “ sepertinya tidak ada lagi, bidik misi udah tutup, memangnya kenapa nak? “ lalu aku mulai bercerita tentang  perjalanan hidupku, hingga sang bapak iba. “ ya sudah kita ke PD3 sekarang “ kata beliau. Beliau mengantarkanku ke PD3 , sesampainya disana sang PD3 juga menyambutku ramah, aku menceritakan semua keluh kesahku, bapak tersebut bingung memikirkan solusinya karna memang tidak ada lagi beasiswa saat itu, beliau bertanya “ dulu waktu sekolah peringkat berapa kamu? “ saya menjwab ‘”peringkat 1 pak, tapi yang terakhir 2’. “ yasudah kalau begitu ayo ikut bapak ke biro”. Bapak tersebut mengantarkan saya ke biro padahal saat itu ada seorang mahsiswa yang ingin konsul tapi beliau bawa juga untuk menemani saya, bayangkan kak saya di antar langsung oleh PD3 dengan mobilnya, betapa baik bapak ini. sesampainya disana kami menuju bagian keuangan di biro, bapak bagian keungan itu menanyakan dengan detail, “ kamu sudah print UKTB nya? “ , “ belum pak “ jawab saya. Lalu bapak tersebut menyuruh saya untuk print UKTB terlebih dahulu, saya, pak PD3 dan mahasiswa tadi keluar dari ruangan. “ apa perlu di antar ke ICT? “ tanya pak PD3 “ tidak usah pak, saya jalan sendiri saja. Terimakasih pak sudah mau membantu” , “ yasudah, di temani sama kakak ini aja ya” beliau menyuruh mahasiswa tadi untuk menemani saya. “ tidak usah pak” .  mereka pun berlalu. Saya segera berlari ke gedung ICT unsyiah, sesampainya di sana, suasana lengang tak ada orang....
Keesokan harinya, saya kembali datang ke biro sendiri tanpa ditemani siapapun, saya menjumpai seorang pegawai disitu. “ bang, bapak bagian keungannya ada? Saya mau jumpa dengan beliau”, abang tersebut melihat saya sinis “ mau ngapain kamu?” tanyanya. Saya menjelaskan panjang lebar. Dia menjawab “ oh gak bisa, mana boleh seperti itu, dia ada prosedurnya gak bisa main datang langsung ke bapak itu, beliau sibuk, sedang tidak ada di sini, lagi ada rapat di luar kota, besok aja kamu datng lagi”. Begitu katanya , aku pantang menyerah. Aku duduk dan tetap menunggu disitu, beberapa menit kemudian bapak bagian keuangan tersebut keluar buru-buru dan berlalu dari ruangnnya. Saya marah sekali, “ bang , apa juga tadi abang ini bilang bapak lagi diluar kota, itu tadi beliau lewat” saya menatap nya garang. “ loh... kamu ternyata sudah kenal sama bapak tersebut?” tanyanya salah tingkah. “ ya iyalah bang, orang saya kemarin kesini bareng pak PD3 pertanian” jawabku jengkel. “ yasudah, tunggu aja sebentar, nanti bapak itu kembali”. Beberapa saat kemudian, bapak tersebut kembali , aku langsung menghampirinya. Lalu kami bercakap-cakap, jawaban beliau sama engan PD3 bahwa tidak ada lagi beasiswa, tapi beliau mau membantu saya dengan cara saya sendiri langsung menemui rektor, beliau yang atur jadwalnya dengan syarat tidak mengatakan bahwa belaiu yang bantu karena belaiu takut di anggap bahwa saya ini adalah sanak saudaranya. Sayapun mengangguk setuju. Aku pulang dengan keadaan gembira. Setidaknya sudah ada secercah harapan di depan mata untuk tetap bertahan kuliah, dan kalaupun rektor tidak juga mau membiayai , bapak PD3 sudah mau bersedia untuk membiayaiku dan tinggal di rumah beliau untuk membantu mengajar anak-anaknya, bahkan aku sudah sempat di bawa ke rumah dan di kenalkan kepada anak-anak dan istrinya. Tapi tiba-tiba, Hpku berdering. Ternyata itu telp dari manejemen Beastudi etos Aceh. BERDASARKAN HASIL PERTIMBANGAN , AKU DI TERIMA MENJADI SALAH SATU PENERIMA MANFAAT BESTUDI ETOS. ALLAHU AKBAR !!! aku bersujud syukur bahagia, dan langsung mengabari ibu di kampung.
Keesokan harinya, aku kembali datang ke biro menjumpai bapak bagian keuangan dengan wajah sumringah, seampainya di sana aku langsung mengatakan “pak, tidak jadi lagi ya jumpa pak rektor, alhamdulillah saya sudah di terima di etos”, bapak itu tersenyum dan berkata “ alhamdulillah, rajin-rajin sholat nak ya” itu pesannya :D
Itu ceritanya kak, bagaimana saya bisa masuk etos dan mengengenyam bangku kuliah”. Ia menutup kisahnya dengan senyum, ada simpul bahagia di bibirnya.#
Aku terharu, sebegitukah perjuanganmu untuk bisa kuliah dinda? Sedang aku dengan gampang dan mudahnya, tinggal menunggu uang bualanan dari orang tua untuk spp dan biaya hidup, sungguh aku malu, banyak belajar dari mu. Aku berkata padanay “ kelak suatu saat itu semua akan menjadi sejarah dalam hidupmu, menjadi saksi perjuanganmu, kengangan yang tak akan pernah bisa kau lupakan, dan akan menjadi cerita untuk nak cucumu, semoga sukses dinda , sayang kalian semua ^_^.