Menatap dari kejauhan itu sakit..
seperti ditusuk sembilu..
seperti tergores duri
namun ini akan lebih sakit jika engkau memaksakan dirimu untuk terus memperhatikannya..
ada baiknya memperbaiki diri,
menyulam mimpi ..
menghias asa..
kelak suatu saat nanti yang dinanti kan datang dengan senyuman
pada waktu yang tepat dimana kedua tangan laki-laki hebat berjabat
mengucapkan akad dengan khidmat dan hormat..
itulah yang membuatmu berharga
menanti dalam diam
tanpa kata, tanpa mengumbar rasa
hanya terus dan terus memperbaiki diri
hingga hari itu tiba.
itulah yang membuatmu berbeda dari mereka
yang mngumbar setia
pada sesiapa saja
engkau bahkan lebih berharga kerna puasa panjangmu itu
kelak ketika berbuka
hilanglah semua dahaga
yang ada hanya kata " selamat merayakan cinta"
seperti Fatimah dan Ali yang memendam rasa dalam hati.
hingga tak ada yang tau tentang apa yang mereka rasai
masing-masing dari keduanya lebih mengedepankan cinta Ilahi
membungkus rapi dalam hati
hingga takdir mempersatukan Fatimah dan Ali
lalu Allah satukan mereka dalam gerbang suci
hingga keduanya tersipu malu
saat tau bahwa keduanya mencintai di balik tabir hati yang tak tersentuhi.
lalu Allah celupkan cinta itu hingga kenikmatan-kenikmatan terus menghampiri keduanya.
tak usah gelisah menanti
hingga rela mengorbankan harga diri
kelak pangeran atau bidadari itu pasti kan datang menghampiri
usah resah..
#tak perlu mengumbar rasa karena cinta pasti kan bertasbih pada saatnya.
"ku biar kalam berbicara, mengurai maksudnya dijiwa agar engkau mengerti segala yang terjadi sudah suratan Ilahi"
Kamis, 30 Januari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
Cheating
Cheating is one of student’s
bad culture. Many students do cheating
when they face the school’s exam or the national examination. They do it in
many ways, such as cheat to their friends,open the book,etc.The causes that
cause the students do cheating are laziness and opportunities.and the effects of
cheating are the students become stupid,
and the students will get the counterfeit score.
The first cause is lazinees.
Laziness is main cause that make the students cheating. When the students lazy
to study, cheating is the only way to help them self to pass the examination.
The second cause is
opportunities.The students will not cheat
if there is no opportunities. When the teacher can not control classroom
well, it is the big opportunities for students to cheat.
Those all causes influence
the students to do cheating . and the students get bad effect because of it.
First, the students become
stupid. If the students do cheating, they will not study anymore ; as a result,
the students become the stupid people. It happen because they do not study .
Second, the students get the
counterfeit score.The student who do cheating will get the counterfeit score.
It is not the real score for them, but it is the result of cheating.
In conclusion,cheating is
not good for the students because it can make them become the stupid people,and
they will get the counterfeit score.so, the teacher should not give them
opportunities to cheat and give them motivation in order the student is not
lazy to study.
Bunga Jiwaku
Kau ibarat sekuntum bunga
Yang tumbuh
di taman hatiku
Akarmu
kokoh, tegak berdiri
Di lubuk
hatiku….
Harummu
mewangi di jiwa
Merekah
senyummu walau di atas luka
Ku saksikan
tegarnya hatimu
Hingga
melelehkan salju di jiwa
Ku saksikan
mulianya pengorbananmu
Membuat
putik sari cinta semakin manis
Di hari muda…
Kasihmu
selalu hijau
Subur dan
takkan gersang
Sepanjang waktu
Sepanjang waktu
Dan ketika
madumu mengalir
Dalam jiwaku
Dalam jiwaku
Mahkotamu
semakin berkilau
Di terpa
sinar surya.
Mahkota seorang bunda
Yang
bercahaya walau di malam gulita
Bunda…kaulah bunga jiwaku
Yang mekar
abadi
Dan takkan pernah layu.
Dan takkan pernah layu.
Mushalla Almudarris Berbicara
Aku telah lama menjadi bagian dari kampus ini.
kampus yang konon katanya "jantong hatee rakyat Aceh"
aku menyaksikan berbagai macam ragam mahsiswa(i) setiap tahunnya.
di tiap-tiap tahunnya aku setia menanti jiwa-jiwa yang merindu Rabnya.
aku membuka lebar pintuku untuk siapa saja yang datang.
entah untuk beristirahat,shalat,ikut kajian atau sekedar membuat tugas di sini.
tak peduli apapun itu, yang terpenting aku senang jika ada ada yang mengunjungiku.
mungkin aku hanya sebuah mushalla kecil yang tersembunyi .
namun kehadiranku sangat berarti bagi sebagian sahabat di luar sana.
mereka mencoba untuk terus meramaikanku dengan membuat agenda-agenda yang mendekatkan manusia dengan Rabnya.
di tengah kesibukan akademik dan kesibukan lainnya mereka berusaha untuk terus menebar kebaikan dikampus tercinta ini.
Sahabat, Aku Ldf Almudarris Fkip Unsyiah ingin lebih dekat denganmu seperti dekatnya aku dengan kampus ini, aku ingin kita bisa berbagi,bersama menuju JannahNya.
*menantimu saudaraku di mushalla Almudarris.
Sabtu, 18 Januari 2014
Rumah Ukhuwah
“Sebab cinta yang tumbuh itu karena ruh-ruh kita yang
menyatu dalam sebuah bingkai yang bernama ukhuwah, dalam rangkulan iman dan
mahabbah, maka ketika iman kita turun, ukhuwah pun terasa longgar, kenapa? Bisa
jadi karena frekuensi iman kita beda, mungkinkah imanku yang tinggi dan imanmu
yang lagi turun atau sebaliknya imanku yang lagi turun dan imanmu yang lagi
naik” kata seorang ukhty lantang pada konsolidasi akhwat hari itu. Aku
tercengang menatap matanya yang berbinar-binar, semangatnya menyala bagai api
yang terus berkobar. Lembut, tapi menembus ke palung hati yang terdalam.
Aku jadi teringat semua kejadian-kejadian yang terjadi
disini, semenjak aku ini di amanahkan di
sini, di rumah dakwah yang kian harum namanya, yang menggetarkan hati siapa
yang mendengarnya, yang membuat mereka yang pernah berada di sini dengan bangga
dan haru menceritakan momentum-momentum sejarah yang telah mereka cetak di
ranah yang bernama dakwah kampus. Lalu aku berpikir sejenak, “benarkah aku di
amanahkan disini?”...”sanggupkah aku...”...”mampu kah aku? “ dan berbagai
pertanyaan lain terus muncul dalam benakku. Tepatnya hari itu, ketika
musyawarah pergantian pengurus di
laksanakan di auditorium fkip lama, keringatku menetes kian deras, seluruh
tubuhku dingin, akhirnya tak dapat ku bendung lagi dengan seketika air mata ini
tumpah ruah, tak peduli di depan ikhwan dan akhwat disitu. Aku bertanya pada
diri ini, “ akankah kuat pundak ini mengemban semua ini” , lagi batinku berkata
“ bukankah masih ada si A yang lebih bagus amalan yaumiyahnya, lebih bagus
hafalannya, lebih bagus interaksi sosialnya, lebih bagus organisasinya, pada
intinya lebih unggul dariku”..oleh karena keawamanku, batinku terus saja
bertanya-tanya, namun saat itu karena kehadiran sesosok yang bermata teduh dari
jauh menatapku, seorang kakak yang selama ini berbuih-buih mengajarkanku
tentang tarbiyah, amanah dan lain2. Aku terdiam. Aku menunduk dalam-dalam,
“tsiqoh” ya kata-kata itu yang aku ingat, walaupun mungkin pengetahuanku
sendiri masih sangat awam saat itu untuk mengerti makna kata itu yang
sebenarnya.
Tak hanya sampai disitu, pikiranku terus menerawang jauh
kedepan hingga aku tiba di rumah, aku bergegas menuju kamar dan membenamkan
diri dalam-dalam dalam lautan si empuk kasur dan bantal, menangis
sejadi-jadinya, gak tau menangis karena apa. Hingga aku mendapatkan sms :
“Jika hasil syuro telah menetapkan kita untuk mengemban
suatu amanah, maka sebagai kader yang tertarbiyah taat bukanlah suatu pilihan
melainkan suatu keharusan. Kepada adinda ........... dan...... selamat
mengemban amanah ini . Allahlah yang telah memilih kalian . berusahalah
seoptimal mungkin untuk membawa Almudarris semakin lebih baik. Sertakan
Almudarris dalam setiap derap langkah kaki kalian, amirah demisioner”
Mataku berkaca-kaca membaca sms ini, sungguh pesan yang
sangat dalam, tulus , ikhlas terpancar dari isi nasehat tersebut, ini adalah
pesan dari hati seseorang yang sangat mencintai dan menjadikan Almudarris
bagian dari hidupnya. Lagi, pukulan itu mngenai hatiku “bisakah aku menunaikan
amanah ini?”...............
Aku mengalihkan pikiranku, berhenti berpikir seperti itu!!!,
berusahalah seoptimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Jangan bertanya
mengapa dan mengapa. Tapi tanyakan pada dirimu apa dan apa yang bisa aku lakukan
dan aku berikan untuk dakwah ini. karena ada dan tanpanya aku disini , toh
dakwah gak akan mati, ia tetap melaju dengan generasi-generasi yang mulia. Toh
aku lah yang membutuhkan dakwah bukan sebaliknya. Karena Allah tidak melihat
hasil tapi Allah melihat proses, terus dan teruslah berkontribusi disini, tak
ada kata tidak bisa, tak ada kata tak mampu, bi iznillah, mulai lah bekerja dan
Allah, Rasulmu dan orang-orang mukmin yang akan melihat kerjamu itu.
###
Hari-hari terus berganti, ada banyak hikmah yang kutemui
disini. Ada banyak kepala disini, tentu juga banyak macam ragam pemikirannya,
layaknya para sahabat dulu. Ada yang tegas dan gagah seperti Umar bin Khattab,
ada yang lembut seperti Abu bakar, ada yang dermawan dan bijak seperti Usman
dan ada yang cerdas seperti Ali. Karena keberagaman ini membuatku begitu
merindukan saudara-saudaraku tiap kali aku tak menatp wajahnya. Disinilah aku
menemukan makna ukhuwah yang tak tergantikan, menemukan orang-orang luarbiasa
yang tersisa di zaman ini. yang rajin menghadiri majlis-majlis zikir mesi tak
jarang bermacam rintangan mereka hadapi. Disini aku menemukan sesosok manusia
yang itsar nya luar biasa, yang kelembutannya mampu meluluhkan siapa saja,
disini pula aku menemukan orang-orang yang begitu sibuk dengan agenda dakwahnya
namun prestasiny di bidang akademik juga luar biasa. Tidak hanya itu, yang
terpenting bagiku, disini aku seperti menemukan alarm, ya alarm hati yamg senantiasa
siap mengingatkan aku krtika langkah-langku mulai goyah dan semangatku melemah.
Cukup hanya bertemu dan menatap wajah mereka yang bercahaya, lalu akupun
bersemangat kembali.
Tentang ukhuwah ini, sungguh tak dapat aku definisikan
dengan kata-kata. Ingin sekali aku mengabadikan setiap moment indahku bersama
mereka dam tulisan ini, namun karena kisah ini terlalu indah sulit bagiku untuk
menemukan kata-kata yang cocok untuk melukiskan kebahagiaanku berjumpa dengan
orang-orang seperti mereka. Tentang cinta ini, hingga terkadang orang-orang di
luar sana heran dengan kita dan bertanya “ tidakkah kalian capek, pergi pagi
pulang di magrib hari” lalu sebuah senyum simpul muncul di guratan wajah kusam
kita. Sungguh, aku berbahagia. Allah mempertemukan kita di jalan ini
ikhwatifillah. Aku bahagia, ketika pemuda-pemudi lain di luar sana sibuk dengan
dirinya sendiri, namun disini masih ada pemuda-pemudi yang memikirkan orang
lain, yang memikirkan saudara-saudaranya di belahan duni islam lain, sungguh
aku berbahagia di pertemukan dengan saudara-saudari seperti kalian, dimana
ketika mereka diluar sana sibuk memasang pp dengan kekasih haramnya sementara
kita kompak memasang pp rab’ah, free palestine, dan gambar-gambar kegiatan
dakwah kampus kita. Sungguh aku berbahagia ketika diluar sana, sang teman
dengan semangatnya mencomblangi temannya untuk pacaran sementara disini kita
saling menegur dan mengingatkan jika sudah ada yang mulai futur dan terkena
VMJ. Sungguh aku berbahagia, ketika mereka diluar sana berbangga-bangga dengan
cinta lokasi sementara kita tetap bersikeukeuh menjaga hijab diri dan hati. Aku
tidak bermaksud memuji ikhwah, aku hanya ingin bersyukur betapa nikmat Allah
mengaruniai saudara-saudari yang sholih adalah kenikmatan yang tiada tara.
Dan ikhwah,darimanakah ini bermula? ...,dari rumah ini, ya,
tentang rumah ini. rumah kita, rumah ukhuwah, rumah dakwah, yang kita sebut
mushalla Almudarris. Meski kini terlihat sering kosong, tak ada yang berhadir.
Dan sesampah berserakan disana, debu-debu menempel didindingnya, jauh dari
hiruk pikuk mahasiswa tetap saja aku
cinta. Kerab aku membayangkan suatu saat rumah ini kan dipenuhi gelak tawa
lagi, oleh orang-orang yang melingkar dalam ukhuwah dan tarbiyah ini, tetap
saja ada kenikmatan yang berbeda ketika kita berkumpul disana, karena sejarah
telah mencatat ia lah rumah pertama d jantong hate rakyat Aceh yang menggemakan
tarbiyah di seantero unsyiah. Namun spertinya ia lebih memilih menyendiri
disana, bertafakkur, berzikir pada yang maha kuasa. Ikhwah, sesekali pulanglah...
jenguklah ia. Aku melihatnya merindukan kita. Meski terkadang aku sendiri
bingung, apakah kita sudah terlalu sibuk sehingga tak ada waktu untuk pulang
kerumah hanya sekedar duduk dan bertilawah disana, atau membaca buku-buku dalam
lemari yang sudah mulai usang, atau hanya cukup melihatnya sebentar saja untuk
memastikan bahwa ia baik-baik saja. Atau
mungkin kita berkata “ ngapain kesana kalau gak ada acara” atau sebagian dari
kita mengatakan “ jangan buat acara disana, jauh kali perginya” atau kita
sering mebanding-bandingakan antara kini dan dulu? Apa karena rumah kita tak
sebagus dulu kita tak mau pulang ? atau apa memang kita sudah tak peduli? ...
Ikhwah... bagus tidak nya rumah ini, adalah tergantung pada
kita yang merawatnya. Dan sungguh, ini tak akan mampu di lakukan oleh
seseorang, tapi butuh beberapa orang. Entahlah ikhwah, bagaimanapun itu
pulanglah ke rumah ukhuwah, ada banyak yang ingin dia ceritakan pada kita, ada
banyak cinta disana yang mana sesepuh-sesepuh kita telah duluan mereguknya, dan
insya Allah kelak kita juga akan merasakan manisnya bersama di rumah ukhuwah
ini. J
Dan bagaimanapun ceritanya, meski di penghujung masa-masa
kita di kampus yang sebagian dari kita mulai di sibukkan oleh tugas akhir, aku
ingin berterimakasih kepada kalian saudara-saudariku semua yang telah Allah
pertemukan kita di jalan dakwah ini, di rumah ukhuwah ini. aku berbahagia
menjadi bagian dari rumah ini, kelak cerita ini akn menjadi kisah terindah kita
bersama, dimana kita berjuang bersama-sama menyebarkan nilai-nilai kebaikan di
kampus tercinta mesti terkadang tak semua senang dengan kita, namun karena kita
bersama kita menjdi kuat dan saling menguati. Semoga kelak d syurga Allah
pertemukan kita kembali dan kita akan bernostalgia tentang perjuangan ini di atas
dipan-dipan yang berwangi kesturi. Semoga ukhuwah tetap terpatri, semoga
rabithah di dalam hati, semoga istiqomah hingga ajal menghampiri. Uhibbukum
fillah ikhwatifillah ..
Rabu, 08 Januari 2014
Perjuangan Sang Adik Untuk Mengenyam Pendidikan (Kisah Nyata Seorang Etoser Masuk Perguruan Tinggi)
Awal cerita aku mengenal Bestudi
Etos itu melalui seorang adik yang aktif di sebuah Lembaga Dakwah di kampus
jantong hatee rakyat Aceh. Tidak terlalu mendalam, hanya sekilas tau nama dan fasilitas
apa saja yang di dapatkan oleh penerima manfaat itu sendiri. Kebetulan aku
punya seorang sepupu yang keluarganya kurang mampu, dan pada saat itu aku
semakin gemar mencari info tentang etos untuk mendaftarkan sepupuku disitu. Namun
ternyata Allah berkehendak lain, sepupuku lulus di tahap seleksi di Etos, tapi
sayang dia tidak lulus dikampus Unsyiah itu sendiri, hingga sekarang dia tidak
kuliah karena keterbatasan materi keluarganya. Ternyata di sebalik itu semua,
Allah punya rencana lain. Aku yang tadinya berharap sepupuku itu menjadi bagian
dari etos, sebaliknya justru aku yang akhirnya menjadi bagian dari keluarga
Etos ini sendiri, namun tidak sebagai penerima manfaat tapi sebagai pendamping
etoser.
Hari-hari ku lalui dengan berjuta
hikmah yang menghampiri, banyak butiran-butiran pelajaran yang begitu berharga
ketika ku berada di antara mereka. Ada banyak kisah haru lagi menyeruak batin
tentang perjuangan mereka untuk bisa melanjutkan study nya ke perguruan tinggi.
Inilah salah satu cerita yang membuatku ternganga hingga merasa diri kian tak
bersyukur atas nikmat yang melimpah yang Allah berikan padaku. Begini ceritannya..........
Malam itu, salah seorang etoser
demam tinggi, badannya panas. Aku ajak ke puskesmas dia gak mau, minum obat gak
mau, makan gak mau, jadi serba salah. Aku bingung sendiri. Dengan keadaan
tubuhku juga kurang sehat, membuatku begitu di uji kesabarannya. Aku bujuk dia
untuk makan walau sedikit saja. Akhirnya berhasil. Setelah makan 3 sendok ia
pun tertidur dengan kain kompres di kepalanya. Setelah dia tertidur, aku
mengobrol kecil dengan salah seorang etoser yang kebetulan satu kamar
dengannya. Mulai lah kami berdiskusi, tentang awal hijrahnya aku dan dia. Hingga
tibalah saat nya ia menceritakan bagaimana perjuangannya masuk ke kampus
ternama di Aceh ini. sebut saja namanya
SN.
Ia mulai bercerita, “ sejak dari
SMA aku tinggal dengan paman kak, paman lah yang membiayai sekolahku hingga
selesai, tidak hanya aku. Bahkan paman juga menyekolahkan beberapa saudarku
yang lain, termasuk muridnya istrinya. Memang pamanku ini orangnya sangat baik.
Dermawan sekali. Kalau kita lihat dari segi materi mungkin tidak cukup. Beliau profesinya
hanya sebagai seorang guru, begitu juga dengan istrinya. Punya anak 5 orang. Tapi
beliau menyekolahkan anak-anak lain. Aku,bibiku,dan 1 murid dari istri beliau. Belum
lagi ada beberapa mahasiswa pekerja di percetakan beliau yang beliau kuliahkan,
tapi akhirnya kuliahnya tidak selesai karena tidak serius. Beliau lah kak yang
memberi uang jajan kami, spp, dan semua kebutuhan kami. Walaupun itu
cukup-cukupan. Kami bertiga tinggal di kamar yang sangat sempit kak, hanya ada
1 tempat tidur, yang kami gilirkan untuk tidur disitu, sebagian tidur di lantai
sebagian diatas. Sedang anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu tidur
sekamar dengan beliau. Beliau mengajarkan kami untuk tidak boros,untuk rajin
belajar, menutup aurat, dll”
Aku terdiam,serius mendengar
ceritanya. Lalu ia melanjutkan lagi...
Saat aku lulus dari sekolah, aku
mulai kebingungan untuk masuk ke kampus mana. Hingga seorang abang leting
memberitahuku bahwa ada yang namanya Beastudi etos, di bayar spp, fasilitas
asrama dan uang saku. Akhirnya aku pun mendaftar dengan semangat 45. Begitu juga
dengan abang leting atdi, dia sangat bersemangat membantuku, ia yakin aku pasti
lulus. Aku pun mengikuti UMB di Unsyiah dengan harapan lulus walaupun itu
sebenarnya tanpa sepengatuan ibuku, ibuku tidak mengizinkan aku untuk ikut UMB
karna takut tidak lulus dan tidak ada biaya UKTB karna untuk jalur UMB itu
sendiri terhitung mahal. Namun aku nekad karna ada dukungan paman, bibi, dan
abang letingku tadi yang juga salaah seorang etoser. Pergilah aku ke Banda Aceh
diam-diam tanpa izin ibu untuk ikut UMB. Namun sepertinya Allah tidak ingin aku
berbohong kak, tiba-tia ibu telp bahwa nenek mau ke medan, dan dia menyuruhku
untuk menjemputnya. Aku terdiam tak tau mau jawab apa, sehingga aku berbohong
dan mengatakan bahwa aku sedang di subulussalam di tempat pamanku. Ibuku marah,
aku pun meminta maaf padanya. Ternyata setelah itu ibu menelpon paman, maka
paman menceritakan bahwa aku sedang di Banda Aceh untuk mengikuti UMB, betapa
terkejut dan marahnya ibu, ia sedih karna aku berbohong kak, ibu menelpon ku
sambil menangis, hingga aku juga ikut menangis, aku jelaskan kepada ibu tentang
tekad ku untuk melanjutkan kuliah, hingga ia mngerti. Beberapa saat kemudin,
aku dapat info bahwa ternyata aku tidak lulus di etos, betapa hancur hatiku,
sedangkan hari itu juga aku di nyatakan lulus di fakultas pertanian unsyiah,
aku mulai kebingungan harus kemana mencari uang untuk spp. Abang letingku yang
semangat mengurus semua keperluanku tidak menyngka kalau aku tidak lulus, tapi
dia tidak pernah hilang smangatnya membantuku. Ia mengusulkanku untuk tetap kuliah
dengan berharap ada beasiswa bidik misi nantinya. Tapi aku sudah tidak berani
menelpon ibu untuk memberitau kabar ini
......
Untuk UKTB ternyata di minta slip
rekening pembayaran listrik dan lain-lain, tapi lagi-lagi aku tidak berani
manghubungi ibu untuk mengurus itu semua, karena agak ribet sedikit. Hingga akhirnya
abang leting ku tadi menghubungi adiknya di kampung untuk meminta tolong mengurus semua berkas-berkasku.
Kebetulan abang ini tidak sekampung denganku, dia langsung mengatakan ke
abangnya “aku gak ada uang ongkos pergi bang”, aku mendengar suaranya dari Hp,
abang letingku tadi menjauh dariku supaya aku tidak mendengar pembicaraan
mereka, ia berbisik “ kau pinjamlah dulu uang tetangga atau siapa, kita tolong
lah adik kita ini, sayang dia”. Hingga akhirnya adik abang tersebut datang ke
kampungku, kebetulan dia tidak tau rumah kepala desa, berjumpalah dia dengan
ibuku. “ bu numpang tanya, rumah kepala desa dimana ya? “. Ibu menjawab “ di
sana nak, ada perlu apa ya?”, “ini bu , ada adik saya yang minta tolong buat di
urus berkas-berkasnya untuk kuliah”, “siapa nama adikmu itu?”, maka abang
tersebut menyebut namaku lengkap kak. Sontak aja ibu terkejut “ itukan anak
ku...” ibu menangis, lagi ibu menelpon ku dengan air mata, ia kecewa “ kenapa
kau tak bilang ke ibu,kenapa tidak minta tolong ibu?, kenapa harus orang lain’
. aku merasa bersalah...
Beberapa minggu kemudian, aku
mulai masuk kuliah. Aku tidak semangat kuliah, karena aku berencana berhenti di
semester 2 karna takut tidak ada uang spp. Aku kuliah ogah-ogahan. Hingga suatu
hari aku mengambil keputusan untuk memberanikan diri berjumpa ketua prodi. Setibanya
aku di ruangan ketua prodi, aku disambut ramah. Aku menanyakan “ pak, masih
adakah beasiswa di kampus?” ,,, sang bapak menjawab “ sepertinya tidak ada
lagi, bidik misi udah tutup, memangnya kenapa nak? “ lalu aku mulai bercerita
tentang perjalanan hidupku, hingga sang
bapak iba. “ ya sudah kita ke PD3 sekarang “ kata beliau. Beliau mengantarkanku
ke PD3 , sesampainya disana sang PD3 juga menyambutku ramah, aku menceritakan semua
keluh kesahku, bapak tersebut bingung memikirkan solusinya karna memang tidak
ada lagi beasiswa saat itu, beliau bertanya “ dulu waktu sekolah peringkat
berapa kamu? “ saya menjwab ‘”peringkat 1 pak, tapi yang terakhir 2’. “ yasudah
kalau begitu ayo ikut bapak ke biro”. Bapak tersebut mengantarkan saya ke biro
padahal saat itu ada seorang mahsiswa yang ingin konsul tapi beliau bawa juga
untuk menemani saya, bayangkan kak saya di antar langsung oleh PD3 dengan
mobilnya, betapa baik bapak ini. sesampainya disana kami menuju bagian keuangan
di biro, bapak bagian keungan itu menanyakan dengan detail, “ kamu sudah print
UKTB nya? “ , “ belum pak “ jawab saya. Lalu bapak tersebut menyuruh saya untuk
print UKTB terlebih dahulu, saya, pak PD3 dan mahasiswa tadi keluar dari
ruangan. “ apa perlu di antar ke ICT? “ tanya pak PD3 “ tidak usah pak, saya
jalan sendiri saja. Terimakasih pak sudah mau membantu” , “ yasudah, di temani
sama kakak ini aja ya” beliau menyuruh mahasiswa tadi untuk menemani saya. “
tidak usah pak” . mereka pun berlalu. Saya
segera berlari ke gedung ICT unsyiah, sesampainya di sana, suasana lengang tak
ada orang....
Keesokan harinya, saya kembali
datang ke biro sendiri tanpa ditemani siapapun, saya menjumpai seorang pegawai
disitu. “ bang, bapak bagian keungannya ada? Saya mau jumpa dengan beliau”,
abang tersebut melihat saya sinis “ mau ngapain kamu?” tanyanya. Saya menjelaskan
panjang lebar. Dia menjawab “ oh gak bisa, mana boleh seperti itu, dia ada
prosedurnya gak bisa main datang langsung ke bapak itu, beliau sibuk, sedang
tidak ada di sini, lagi ada rapat di luar kota, besok aja kamu datng lagi”. Begitu
katanya , aku pantang menyerah. Aku duduk dan tetap menunggu disitu, beberapa
menit kemudian bapak bagian keuangan tersebut keluar buru-buru dan berlalu dari
ruangnnya. Saya marah sekali, “ bang , apa juga tadi abang ini bilang bapak
lagi diluar kota, itu tadi beliau lewat” saya menatap nya garang. “ loh... kamu
ternyata sudah kenal sama bapak tersebut?” tanyanya salah tingkah. “ ya iyalah
bang, orang saya kemarin kesini bareng pak PD3 pertanian” jawabku jengkel. “
yasudah, tunggu aja sebentar, nanti bapak itu kembali”. Beberapa saat kemudian,
bapak tersebut kembali , aku langsung menghampirinya. Lalu kami bercakap-cakap,
jawaban beliau sama engan PD3 bahwa tidak ada lagi beasiswa, tapi beliau mau
membantu saya dengan cara saya sendiri langsung menemui rektor, beliau yang
atur jadwalnya dengan syarat tidak mengatakan bahwa belaiu yang bantu karena
belaiu takut di anggap bahwa saya ini adalah sanak saudaranya. Sayapun mengangguk
setuju. Aku pulang dengan keadaan gembira. Setidaknya sudah ada secercah
harapan di depan mata untuk tetap bertahan kuliah, dan kalaupun rektor tidak
juga mau membiayai , bapak PD3 sudah mau bersedia untuk membiayaiku dan tinggal
di rumah beliau untuk membantu mengajar anak-anaknya, bahkan aku sudah sempat
di bawa ke rumah dan di kenalkan kepada anak-anak dan istrinya. Tapi tiba-tiba,
Hpku berdering. Ternyata itu telp dari manejemen Beastudi etos Aceh.
BERDASARKAN HASIL PERTIMBANGAN , AKU DI TERIMA MENJADI SALAH SATU PENERIMA
MANFAAT BESTUDI ETOS. ALLAHU AKBAR !!! aku bersujud syukur bahagia, dan
langsung mengabari ibu di kampung.
Keesokan harinya, aku kembali
datang ke biro menjumpai bapak bagian keuangan dengan wajah sumringah,
seampainya di sana aku langsung mengatakan “pak, tidak jadi lagi ya jumpa pak
rektor, alhamdulillah saya sudah di terima di etos”, bapak itu tersenyum dan
berkata “ alhamdulillah, rajin-rajin sholat nak ya” itu pesannya :D
Itu ceritanya kak, bagaimana saya
bisa masuk etos dan mengengenyam bangku kuliah”. Ia menutup kisahnya dengan
senyum, ada simpul bahagia di bibirnya.#
Aku terharu, sebegitukah
perjuanganmu untuk bisa kuliah dinda? Sedang aku dengan gampang dan mudahnya,
tinggal menunggu uang bualanan dari orang tua untuk spp dan biaya hidup,
sungguh aku malu, banyak belajar dari mu. Aku berkata padanay “ kelak suatu
saat itu semua akan menjadi sejarah dalam hidupmu, menjadi saksi perjuanganmu,
kengangan yang tak akan pernah bisa kau lupakan, dan akan menjadi cerita untuk
nak cucumu, semoga sukses dinda , sayang kalian semua ^_^.
Langganan:
Komentar (Atom)







