Selasa, 04 Maret 2014

Sungguh Aku Mencintai Laki-Laki Ini



Konon ceritanya, ketika aku dilahirkan ia tak membersamaiku, ia jauh dariku berkilo-kilo meter, mencari sesuap nasi untuk istri dan calon bayinya. pada saat itu belum ada yang namanya Hp apalagi internet. kabar hanya bisa disampaikan lewat surat. sang ibu melahirkanku penuh perjuangan tanpa ditemani suami tercinta. aku meronta , menangis saat tiba pertama didunia ini.
sehari kemudian ia tiba dikampung kelahiranku, ia berlari menuju kamar dan memeluk putri pertamanya kegirangan, ia ciumi bayi merah itu sambil mengelus kepala sang istri. seolah syukurnya berbinar dari dua bola matanya, lalu ia menamaiku Rizka Mulya Phonna yang berarti Rizki pertama yang mulia (kutipan ; dari cerita ibuku :) )
tahunpun berganti, bayi mungil itu tumbuh di bawah pengawasan Rab nya, bersama sang ibu yang sangat muda baru lulusan SMA dan ayah yang baru lulus D3. sang ayah suka membelikan baju-baju oblong dan celana pendek layaknya anak lelaki, sementara ibu suka membelikan baju2 gaun kembang yang tentunya begitulah untuk sang putri, namun tetap aja kalau ada ayah beliau meminta supaya dipakaikan baju oblong saja(hahah), sebutan sayang dari ayahpun menjadi hal yang sangat geli jika saya mengingatnya, "Jacki Chen" oh, betapa tidak seorang putri di panggil jacki chen, sangat geli rasanya..
Tahun selanjutnya ayah di angkat menjadi PNS dan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) , setiap kali ayah berangkat ke sekolah saya pasti selalu minta ikut, sehingga tiap hari saya ikut ayah kesekolah, dan belajar di kelas satu, sehingga ketika ujian kenaikan kelas, sayapun dinaikkan kelas 2, ayah tidak setuju karena saya tidak terdaftar dan umur saya masih 5 tahun saat itu, namun sang wali kelas tetap bersikeras untuk menaikkan saya ke kelas dua, bahkan beliau mengatakan " jika si rizka tidak kita naikkan kelas, mka anak2 yang lainpun tidak usah kita naikkan", ayah saya hanya bisa menerima kenyataan itu sambil mengelus2 kepala saya, saya tersenyum kepadanya menampakkan gigi ompong, " kamu ya..." ayah mencium saya gemes. saya pulang kegirangan tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira kepada ibu, seperti biasa setiap pulang sekolah, karena ayah belum punya sepeda motor maka kami pulang berjalan kaki berdua sambil belajar perkalian, kadang2 jika aku sudah kelelahan ayah menggendongku sambil terus menyuruhku untuk menghafal perkalian dan huruf2 alqur'an.
Ayah memang tak pernah membiasakan kami anak2nya dengan janji "jika dapat juara kelas, ayah akan belikan ini atau itu.." tapi beliau selalu memberikan kejutan2 baru jika ada rezeki.
ayah juga sangat tidak suka jika aku manja dan tak mendengarkan nasehatnya, masih  lekat sekali dalam ingatan ku, pernah suatu hari aku meminta makanan yang makanan tersebut sudah habis dimakan sepupu2 ku, saat itu aku masih kelas 2 MI, beberapa kali ibu dan nenek sudah mengatakn it sudah habis, namun aku tak mendengarkannya, aku semakin rewel dan menangis sejadi2nya. Lalu ayahku memanggil dengan lembut “ sini sama ayah .. cepat..” aku pun dengan plos menghampirinya, denagn isakan tangisku , iapun menjelaskannya padaku sama dengan penjelasan ibu, tetap saja aku tak mendengarkannya. Aku semakin menangis, akhirnya kemarahan ayah memuncak, lalu iapun mencubitku, aku semakin menangis,ibu dan nenekpun ikut menangis, ayah masih memberikan pelajaran padaku, ibuku bangun dari duduknya dan mengambilku dari pangkuan ayah, maka akupun berhenti menangis dan menahan sesegukan, aku ketakutan melikhat mata ayah yag memerah memelototiku, sejak hari itu, aku takut sekali dengan ayah.. aku tak mau dekat dengan ayah...tak mau..
beberapa hari ayah menyapaku, aku tak mau meladeni. Aku tak mau senyum dengan ayah, aku hanya mau berteman denga ibu dan nenek saja. Ayah sepertinya merasa sedih dan minta maaf, katanya kemarin ayah khilaf, aku yang lugu mulai iba, dan memaafkan ayah..
Ayahku adalah orang yang tidak pilih kasih, tegas, yang salah tetap salah walaupun itu anak sendiri, dan yang benar tetap benar . pernah ketika aku kelas 6 MI, ayah menjadi guru matematika di kelasku, ia memberikan PR untuk dikerjakan, namun aku tidak mengerjakannya. Maka ketika sampai di kelas, iapun menyuruh maju satu persatu kedepan, dan yang tidak membuat pr kena hukuman, maka termasuk lah aku anaknya ini yang tidak membuat pr tersebut, teman2 pun mengejekku seharian karena kena hukum sama ayahku sendiri. Aku pD aja berdiri di depan kelas dengan menahan telapak tangan kesakitan karena kena rol sakti ayahku, tanganku memerah...
Cerita lain, saat aku lulus dari MI, aku belum bisa mengendarai sepeda.sedangkan pada saat itu aku akan memasuki MTSN yg lumayan jauh dari rumah. Akupun meminta ayah untuk membelikan sepeda . ayah membelikan sepeda mungil untukku, karena sudah mau memasuki MTSN tentu aku malu naik sepeda kecil yang ada roda pula, aku menangis dan ngambek dengan ayah. Ayahpun menjelaskan itu hanya sepeda sementara untuk belajar. “ Tapi rizka gak mau yang ada roda, kan malu di ejek sama kawan2 masak udah mau masuk mtsn pake sepeda yang ada roda, malu yah” aku terus membantah. Ayah malas menjawabnya, beliau mengambil pancing dan pergi memancing.
Esok harinya aku belajar sepeda sendiri, tapi gak bisa-bisa, ayahpun mengajariku pelan-pelan, padahal kebanyakan kwan2ku sudah bisa bawa sepeda sejak kelas 1 MI tanpa di ajari orangtuanya, aku sudah mau masuk mtsn masih harus di bantu ayah. Akupun di ejek kawan2, akhirnya ayah kembali menjadi korban “ ayah, rizka bisa sendiri...jangan dibantu, malu dilihat teman2”, “ gak boleh, nanti kamu jatuh, kan masih ada ayah yang bisa ajarin “. Ayah tetap ngotot untuk mengajarkanku sepeda sampai aku bisa. 2 minggu akhirnya aku sudah bisa membawa sepeda tanpa roda lagi, ayahpun membelikan sepeda baru untukku, senangnya...
Seminggu aku bisa  bisa bawa sepeda, aku meihat kawan2 sudah mulai bisa mengendarai sepeda motor, tentu aku iri dan ingin membawa sepeda motor juga, kali ini aku tidak berani bawa sendiri, aku meminta ayah untuk mengajariku, 1 minggu setiap sore di temani ayah, aku belajar mengendarai honda, sampai suatu hari diam-diam aku mencoba membawa sendiri astrea grand ayah, berhubung aku belum bisa, maka akupun menekan gigi berbarengan dengan gas, akhirnya menjeritlah sepeda motornya dan akupun terjatuh, ayah berlari terburu-buru menghampiriku...
Gadis kecilnya ayah pun beranjak remaja, di mtsn aku bisa dikatakan termasuk anak yang lumayan berprestasi, betapa tidak pengawasan ayah dan ibuku terhadap waktu sangat ketat, aku sudah dibiasakan dari MI pulang sekolah itu tidur siang, setelah itu pergi ngaji, pulang ngaji mandi dan bantu2 ibu di rumah, jika tidak maka membaca buku. Bahkan ayah pernah membakar mainan2ku hanay karena aku lupa membaca di hari itu. Bermainpun aku tidak dibolehkan keluyuran jauh, aku boleh membawa teman sebanyak-banyaknya ke rumah asal bukan aku yang keluyuran. Akupun sangat dilarang untuk makan yang namanya Mie instan oleh kedua orangtuaku, padahal saat itu anak2 seusiaku suka makan mi instan tersebut mentah2. Banyak yang bilang hidupku kaku dan terkekang karena ayahku yan super protektif, bahkan hampir satu kampung anak-anak seusiaku sangat takut kepada ayah, sehingga merekapun segan denganku.
Di awal2 sekolahku di Mtsn aku masih sangat patuh dengan aturan ayah, aku masih aktif dengan beragam aktivitas sekolah dan extrakurikuler. Pernah suatu ketika aku terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti lomba pidato kemerdekaan, siapa yang mengajariku? Bukan guruku tapi ayahku yang membuatkanku pidato, mengajariku cara berpidato, memberiku motivasi dan trik2 supaya berani tampil di depan umum. Ayahpun tak lelah melatihku setiap malam, akupun dimintakan ayah untuk sering praktek berbicara di depan cermin, hingga aku PD, maka guru public speakingku yang pertama itu adalah ayah J. Alhamdulillah aku menang lomba pidato ini juara 1 putri sekecamatan, akupun diminta tampil di malam pentas seni 17san saat itu di hadapan ribuan penonton yang menikmati pasar malan dan pergelaran seni, jelas saja aku takut dan tak PD, lagi2 ayah dan ibu yang menyemanagtiku, ayah mengatakan “ anggap saja gak ada orang, yang ada Cuma rizka sendiri, ok” , begitulah ayahku, maka malam 17san pun aku dan ayah berangkat setelah aku didandani sederhana oleh ibu dengan gamis biru dengan kerudung pink seadanya, ibu tidak ikut karena tidak bisa naik honda bertiga, apalagi ada adikku, mana muat. Akhirnya akupun berangkat dengan ayah, ibu tinggal dirumah dengan berdoa harap-harap cemas, di tengah jalan honda kami mogok, aku turun dan berjalan kaki ayah mendorong honda itu pelan, jam sudah menunjukkan jam 20.45 sementara aku harus tampil jam 21.00 jarak masih jauh, ayah terus menghidupkan motor sambil sesekali memandang wajahku gusar, aku mulai panik. Akhirnya setelah keringat ayah bercucur dan waktu hanya tinggal beberapa menit lagi honda itupun kembali hidup, ayah membalap honda kencang hingga kami tiba disana, namaku sudah di panggal beberapa kali. Ayah menyuruhku berlari ke panggung. Akupun naik ke panggung dengan nafas terengah-engah. Aku naik ke atas podium dan menarik nafas panjang, aku memandang kedepan ada pak bupati, camat dan tamu kehormatan lain serta ribuan mata disana, aku mencari sosok ayah untuk ku temukan kekuatan pada matanya, namun ia tak kunjung tampak,aku mulai berbicara pelan , nampaklah sosok laki2 paruh baya muncul di depanku, aku menemukan kekuatanku, aku melanjutkan berpidato dengan semngat disambut tepuk tangan riuh dari penonton, alhmdulillah berjalan lancar dan pulang membawa piala bersma ayah sebagai juara 1. Tidak hanya itu, setiap aku mengikuti perlomabaan tentu ayahku lah yang menjdi pembimbingnya seperti saatku mengikuti cerdas cermat, beliaulah yang malam2 rela buat sola untuk ditanyakan kepdaku. Jika di tanya siapa yag membuatku bisa menulis puisi, cerpen, dll? Maka jawabannya adalah AYAHKU juga, ia yang allah titipkan untuk mengajariku untuk mengolah kata,menulis dan menulis,.
Dari MTSN-MAN aku dikenal di kabupaten dan sekolah sebagai salah seorang siswi yang sering banget ikut lomba baca puisi, dan alhamdulillah sudah menang beberapa kali, walaupun sekarang selama kuliah bakatnya sudah mati karena tidak di asah. Siapa yang mengajariku baca puisi ? AYAHku juga, bahkan ia tak segan2 mempraktekkannya di depanku. Guruku yang pertama dalam hidup itu adalah ayahku dan ibuku, justru aku tak pernah masuk TK , aku belajar membaca dan menulis langsung dengan ayah dan ibu, belajar mengaji Iqro juga dengan ayah dan ibu, setelah aku selesai iqro baru di antarkan ke TPA itupun atas permintaanku, padahal ayahku bisa mengajari sendiri dirumah, ayahku pula yang mengajari sholat dan  lain-lain.
Pada saat aku kelas 2 Mtsn , aku dimintakan guru untuk ikut bergabung dalam pramuka, awalnya aku hanya diminta untuk menjadi pembaca puisi aja di pentas pergelaran seni, namun sang guru mengatakan bahwa aku cocoknya jadi pimpinan regu. Tapi sayangnya ayah tak mengizinkanku, aku terus saja merengek. Namun rupanya ayah tak luluh, beliau takut pergaulanku semakin bebas kalau mengikuti pramuka. Akhirnya aku mulai diam-diam mengikuti latihan tanpa sepengetahuan ayah. Esok malamnya, aku tertidur cepat si ruang tv karena kelelahan, akupun terus mengigau tentang pramuka yang akan dilaksanakan di kabupatenku sendiri itu, keesokan harinya ketika aku pulang sekolah , aku melihat satu set seragam pramuka di kamarku, aku heran siapa yang membelikannya. Ternyata ibu yang membelinya atas permintaan ayah, itu tanda nya ayah sudah setuju aku ikut pramuka....:) hatiku berlonjak senang.. aku mulai aktif di dunia kepramukaan mulai dari JAMCAB,JAMDA hingga akupun terpilih untuk menjadi delegasi perwakilan dari kabupatenku untuk mengikuti JAMNAS d Jatinangor ,Jawa Barat. Ayah sangat bangga padaku. Aku ingat sekali pada hari pelepasan oleh pak Bupati, sebelum kami berangkat ayah mengajakku ke pasar tradisional dan membeli barang2 apa saja yang aku butuhka. Ayahku memang bukanlah orang yang kaya harta , tapi ia sangat kaya cinta. Saat berangkat ke Bandung, ayah hanya memberikanku uang RP 500.000 yang sangat hjauh berbeda dengan teman2ku yang dikasih uang lebih dari 2.000.000, namun aku tau ayahku itu hanya bisa memberikan segitu, jelas aku lihat beliau sedih, dari awal beliau sudah mengatakan aku boleh pergi tapi ayah tidak punya banyak uang saku untuk di berikan. Keyakinanku lah yang membuat ayah semakin yankin untuk melepasku pergi. Sepanjang perjalanan dan selama aku di kota orang ayah selalu menelpon ku lewat Hp kakak pendampingku, karena memang saat itu meski teman2 sudah punya Hp, aku belum punya.
2 minggu aku di kota kembang, akhirnya aku pulang dengan ceria, saat sampai di kantor bupati Nagan raya untuk penerimaan kembali aku melihat ayah dari jauh, betapa rindunya aku. Aku berlari memeluknya, matanya berkaca-kaca seolah ada beban yang ia simpan , tapi akau tak tau apa, sepanjang perjalanan di atas honda, ia banyak menanyakan bagaimana selama aku disana, akupun bercerita riang, tiba-tiba ia diam dan mengatakan kalau dirumah lagi banyak orang. Aku tak mengerti apa maksudnya. Sesampai di rumah, ternyata memang benar di rumah lagi banyak sekali orang, aku semakin heran ada apa ini, ketika aku masuk, aku langsung di peluk oleh kakaknya ayah dan kakak ibu, mereka menangis dan mengatakan 3 hari lalu nenekku (ibu ayah) meninggal dan telah dikubur, aku terkejut sekali. Mengapa ayah tidak mengabariku? , aku menangis dan memandang ke arah ayah, ayah hanya diam dan pergi meninggalkanku. Aku bertambah lemas mendapati ibu terbaring dengan infus di tangannya, ternyata seminggu kepergianku ibu jatuh sakit, tapi lagi-lagi ayah tak menceritakannya. Aku menangis, ah ayah mengapa engkau menyimpan bebamn itu sendiri?
Beranjak ke kelas 3 mtsn aku mulai bandel, tak menghiraukan lagi nasehat ayah, aku mulai suka bohong, keluyuran, sudah berani makn mie instan tiap hari yang konon mie ini anti sekali di keluargaku, ini semua karena pergaulanku yang sudah mulai tak terkontrol. Aku berteman dengan teman2 yang udah tau pacaran, ngecat rambut, make up-an tebel,rebonding, waktu itu lagi tren bedak mio yang buat kuli putih melepuh. Beruntung aku masih takut dengan ayah,, sehingga aku tak berani ikut2an seperti mereka walaupun aku berteman dengan mereka. Akupun mulai di ajak teman-teman JJS haha (jalan-jalan sore sih katanya) ayah jelas tidak mengizinkan hal2 yang tidak bermanfaat seperti itu. Tetap saja aku sembunyi2 pergi dengan sahabat dekatku, hingga suatu hari ban honda bocor dan pulang kemalaman, maka akupun menghabiskan setengah malam itu mendengar ceramah dari ayah. Hari-hari berikutnya ayah semakin protektif menjagaku, mungkin karena aku mulai memasuki umur di zona rawan, pergaulanku sangat di perhatikannya. Hingga  kadang2 aku merasa kenapa sih ayah kaku kali, gak kayak orang tua teman2ku yang membebaskan anaknya lakuin apa aja. Teman2ku pun mengejekku dengan sebutan anak papi, huhu. Namun semua itu sunggguh banyak sekali hikmahnya, mungkin jika ayahku tidak seprotektif itu , aku tidak tau bagaimana aku sekarang. Thanks dad... :*
Kelas 3 itu tidak lama, UAN pun menanti , aku mulai takut, apakah aku lulus atau tidak, ayah selalu memotivasiku untuk terus berikhtiar. Aku mulai rajin belajar, semua buku dari kelas 1 aku tumpuk jadi satu, akan aku santap malam itu juga. Lalu ayah datang dan menyimpan buku2 itu semua sambil berkata “ bukan sekarang belajar tapi dulu, sekarang istirahat dan refreshing aja, ayo kita nonton aja” aku ingat sekali malam itu aku nonton tv sama ayah sampai jam 12 malam, sementara ibu baru 15 menit nonton udah tertidur. Keesokan harinya ayah juga mengajakku menonton pertandingan bola dalam rangka ulang tahun pemuda gampong. Tak pun aku belajar selama UAN, alhamdlillah aku lulus.
Setelah aku lulus, aku meminta ayah untuk melanjutkan sekolah ku ke sekolah agama yang sedaag naik daun saat itu yaitu MAK Putri (madrasah aliyah keagamaan) karena aku tertarik dengan sistem belajar bahasa inggris dan arab disitu, sejak kelas 1 mtsn aku memang sudah menggilai bahasa inggris. Ayahpun mengabulkan permintaanku, jika saat Mtsn ayah membiarkan aku mendaftar sendiri kesekolah bersama teman2, maka kali ini tidak , karena sekolah ini diluar kabupatenku. MAK putri ini bertempat di Meulaboh, ayah dan ibulah yang datang langsung mendaftarkanku kesekolah ternama tersebut. Pada saat hari tes, aku berangkat pagi-pagi buta sekali bersama ayah dengan astrea grandnya, sesampai disana aku melihat banyak sekali anak-anak diantar oleh orang tuannya pakai mobil, anak-anak orang kaya tentunya. Hal itu tidak menciutkan nyaliku. Aku dengan PD mengikuti tes, ayah menungguku hingga selesai. Dan alhamdulillah aku lulus.
Setelah lulus maka akupun mulai amsuk asrama, banyak hal yang harus dipersiapkan untuk memulai hidup baru di asrama, jelas banyak sekali pengeluaran yang ayah keluarkan untukku. Ayah dan ibu kompak sekali membelikan keperluanku sampai hal-hal yang kecil, bahkan ayah menjahit sendiri tas,dan seprei untukku . saat aku di asrama, ayah dan ibu rutin menjengukku seminggu sekali, sampai kadang-kadang ada teman yang iri denganku. Setiap pulang bulanan ayah selalu menjemputku walaupun selalu akulah siswa terakhir yang di jemput karena kesibukan ayahku dan jauhnya tempat kami tinggal dengan asrama sekolahku.
1 tahun di MAK aku mulai bosan dengan aturan2 asrama yang sangat ketat, aku minta pindah ke kampung saja. Namu ayah tidak mengizinkanku, beliau menyuruhku bertahan. Namun ternyata tahun itu program asrama MAK itu di tutup oleh pemerintah, dan kami harus pindah ke MAN biasa, jelas kalau aku pindah ke MAN biasa di Meulaboh, aku harus kos. Aku meminta supaya ayah pindhkan sekolah ku ke Darul Ulum di banda Aceh. Ayah tak punya dana. Akupun menyerah dan minta di pindah ke kampung saja, namun ayah tetap bersikeras aku harus sekolah di MAN Meulaboh, akhirnya ayah mencari uang sana-sini untuk menyewa kosan untukku. Akupun mulai sekolah di MAN, dalam 2 tahun itu aku sangat sering sakit , asam lambungku sudah akut. Akupun sangat sering tidak msuk sekolah, kadang-kadang ayah harus menjemputku ke meulaboh mendadak, ia jua yang malam-malam harus mengantarkanku ke rumah sakit , karna kalu sudah begini ibu tidak bisa apa-apa , beliau pasti panik dan ayah jua yang harus menenangkannya. Ah ayah.......
Menjelang UAN aku semakin takut dan bingung mau lanjutkan kuliah kemana , ayah masih setia membimbingku. Alhamdulillah aku lulus UAN dan akhirnya aku memilih untuk mendaftar ke IAN Ar raniry jurusan bahasa inggris. Namu ayah tetap menyuruhku mengambil UNSYIAh untuk jaga-jaga. Terakhir aku ke banda aceh itu tahun 2006, maka pada saat 2010 itu untum mendaftarkan ke kampus, akupun ditemani ayah ke banda Aceh untuk mengikuti tes. Sayang sekali aku tidak lulus di IAIN, aku menangis sedih, ayah masih memberiku semangat, aku berharap lulus UMB, ternyata juga tidak lulus. Sedihku makin menjadi-jadi, aku mendaftar SNMPTN juga tidak lulus. Sempat aku berkata pada ayah” sudahlah yah, ika gak usah kuliah aja” ayah hanya tersenyum, “ baru itu aja koq udah nyerah, itu biasa dalam hidup” . “ tapi yah tes di IaiN udah selesai, di unsyiah juga, paling tahun depan lagi dibuka” aku meninggikan suara. “ kita daftar ke serambi ya “ ayah memandangku lekat. “ gak mau yah , itukan swasta. Ika malu sama teman-teman” aku menangis. “ kenapa harus malu kitakan gak mencuri, dimanapun kita kuliah kalau kita pandai sama saja” ayah menasehatiku, akhirnya aku menurut saja sama ayah. Aku sangat sedh karena ayah pernah bercerita dulu beliau daftra di dua universitas juga seperti aku IAIN dan Unsyiah, beliau lulus di kedua univ tersebut dan juga beliau yakin kalau aku akan seperti beliau, ternyata kebalikannya, aku sedih sekali....
Akhirnya setelah mendaftar di serambi, beredarlah info bahwa di unsyiah di buka progaram mandiri atau nonreguler, ayah kembali mendaftarkanku disitu dan Alhamdulillah aku lulus di jurusan keinginanku bahasa inggris. Ayahpun tersenyum bangga padaku, padahal aku malu ayah, egoku tinggi sekali , dari MI hingga MAN aku menjadi siswa yang berprestasi , jelas aku tidak menerima kenyataan aku lulus di extensi. Namun nasehat demi nasehat terus mengalir dari mulut ayah hingga hati ini pun luluh dan lapang karenanya. Aku harus berlapang hati sebagaimana ayah berlapang hati untuk membayar sppku yang sampai ayah harus menggadaikan sawah kita karena spp nonreguler itu mahal di tambah dengan uang pembangunan dan biaya hidup di tahun pertama di Banda, begitu juga dengan kosan yang mahal. Ah ayah..........
Ah ayah, semester pertama ip ku 2,6 , lagi aku menangis. Egoku keluar lagi, anak yang dulu selalu masuk 3 besar di sekolah dapat ip 2,6 apa kata dunia? Namun ayah masih tetap terus memujiku dan terus menasehatiku.
Saat pertama aku merubah diri dan memutuskan untuk berjilbab syar’i , engkau sangat mendukungnya dan terus memacuku untuk terus berbuat baik.
Ah ayah, kini ketika ku pulang, ku mendapatimu yang semakin menua, guratan wajahmu menyemburkan beban hidup yang semakin berat, ubanmu kian menambah, disekeliling matamu menghitam, tubuhmu semakin kurus, ayah...ayahku...ayahku ku dekapku tiap kali pulang dan mendengar cerita-ceritaku, bahkan engkau terlihat cemburu jika aku hanya bercerita dengan ibu. Ayah , bahkan engkau masih menganggap aku putri kecilmu, panggilan sayangmu masih saja kau panggilkan. Setiap kali aku melihatmu ingin menanangis, betapa aku memahami sekarang mengapa engkau super protektif sekali padaku, karena engkau sayang padaku ayah, karena engkau takut tidak bisa menjaga amanah Rabmu ayah... ayah tangan mu semakin hitam kasar, keran setiap hari engkau pulang dari sekolah lalu kesawah di bawah terik matahari yang menyengat. Ayah... hingga detik ini pun doamu dan kasihmu beruntai untukku, ayah aku tak kuat jika memandangmu ketika tertidur di depanku, aku mendapati banyak beban di wajahmu yang Allah titipkan di pundakmu, bahkan tika umurku yang sudah di bilang dewas, engkau tetap saja masih memperhatikan siapa teman dekatku, mengingatkanku gak boleh makan mie, ayah..................aku rindu pulang mendekapmu. Bahkan saat orangtua-orangtua lain malu untuk mencium anak gadisnya yang sudah dewasa, engkau tidak. Engkau masih menganggapku putri kecilmu, masih suka mencubit pipiku, mengelus kepala ku, dan tiap kali aku ingin kembail ke Banda Aceh engkau tak lupa menciumi ku dan mencubit hidungku. Bahkan engkau kompak dengan ibu mengirim kata2 romantis untukku di hari ulang tahunku dan hari2 penting dalam hidupku, engkau selalu memantauku dari jauh ayah, aku tak pernah merasa sepi dari kasihmu ayah, jika ditanya lelaki mana yang kucintai pertama, itu adalah engkau ayah.. sunggauh aku mencintaimu ayah yang telah membagi sebagian hidupmu untukku dan ibu...
Semoga kelak Allah membalas semua kebaikanmu, semoga aku bisa menjadi anak yang menyejukkan hati mu ,membawamu ke surgaNya Allah. Doakan aku ayah... maaf ayah hingga saat ini belum bis menyelesaikan kuliahku, mohon terus doakan ku ayah...
Ayahku...adalah sebenar-benarnya ayah.
Pada matanya yang mewanti-wanti
Pada suara batuknya yang menandai
Pada  doanya yang selalu di hati...
Allah...
Sungguh aku mencintai laki-laki ini..

                                                                                                  05 Maret 2014
                                                                                              For my Lovely Daddy