Minggu, 04 November 2018


Sepucuk Surat Untuk Negeriku, Indonesia
Oleh: Rizka Mulya Phonna

 Selamat pagi Indonesia!
Aku ingin selalu menyapamu begitu. Meski usiamu kini orang bilang sudah tak pagi lagi. Angka 72 bagi sebagian mereka adalah bagai matahari yang mulai memasuki saat-saat menjelang malam. Namun, bukankah bagi sebuah bangsa, entah pada umur keberapapun kita selalu menginginkan suasana pagi di negeri kita. Menghirup udara segarnya dalam-dalam, menikmati dinginnya diam-diam, merasai damainya dengan senang, memandang hijaunya dengan tenang, dan mereguk segar tehnya bersama embunan. Ya, kita harusnya selalu begitu, menginginkan semangat pagi pada anak-anak bangsa kita. Ah, Indonesia, begitulah aku ingin dirimu selalu. Pagi, segar, penuh pesona yang membuat mata siapa saja betah untuk berlama-lama di tanahmu.
Tanahku, Indonesia.
Aku ucapkan selamat ulang tahun yang ke 72. Layaknya sebuah bangsa, aku menginginkanmu selalu aman, semakin maju, jua berbenah tanpa henti. Kau tahu? Sejak dulu aku selalu bangga menjadi salah satu pewaris tanah ini. Tanah yang kata orang adalah tanah surga, tanah yang kata orang apapun yang dilemparkan ke tanah akan tumbuh dengan suburnya, dimanapun orang menyelam lautnya akan pulang dengan gembira dan penuh syukur atas hasil yang didapatkannya, juga mereka berkata pada setiap jengkal tanah kita adalah emas, tembaga, batu bara, dan banyak lagi hasil alamnya.
Indonesia, terimakasih untuk telah begitu mempesona.
Negeriku Indonesia….
Kepadamu, kami selalu mencinta, merayu ingatan kami untuk tak pernah lupa bahwa disini kami dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimanapun indah tawaran untuk keluar, kami tetap memilihmu untuk menyandarkan badan. Ketika kami pergi, kami selalu menyadarkan pikir untuk segera pulang. Sebab pulau-pulaumu terlalu memikat untuk dipandang, gunung-gunungmu terlalu mempesona untuk terus di abadikan, pesona rakyatmu yang penuh keragaman dan keramahan selalu membuat mereka yang dari luar terus ramai berdatangan.
Indonesia…
Teruslah menjadi tanah yang subur untuk kami tumbuhkan beragam cinta. Teruslah menjadi damai untuk kami semai banyak karya. Teruslah menjadi kuat untuk kami semat bermacam cita. Teruslah menjadi satu-satunya tanah tempat kami kembali untuk kami berbagi cerita. Aku benar-benar menginginkanmu selalu syahdu menatap keragaman cinta yang tumbuh di bumimu tanpa ada resah yang menghantu.

Duhai, kepadamu tanah airku!
Aku ingin diam-diam berbisik, “aku mencintaimu seperti mata mencintai cahaya, ianya tak dapat memandang tanpa salah satu darinya. Tanpa cahaya apalah arti mata, yang ada hanya gelap pekat dan suara-suara, begitupun cahaya tanpa mata adalah pemandangan kosong tanpa warna. Begitu aku padamu, Indonesia, engkau adalah mata kami memandang dunia, jika engkau indah duniapun terlihat indah, jika engkau aman dan nyaman, dunia kami pun terasa aman, jika engkau maju, makmur, hidup kamipu begitu”. Ya, engkau negeri ku adalah mata kami memandang dunia. Maka teruslah menjadi mata kami yang sempurna tanpa perlu kaca apalagi lensa.
Negeriku tercinta!
Terimakasih telah membaca suratku. Menerima sepucuk cinta dari gadismu di pelosok nusantara. Sekali lagi, ku ucapkan “ Dirgahayu Indonesiaku, semoga rakyatmu selalu bergotong royong saling bahu-membahu untuk terus memajukanmu, aku mencintaimu”