pagi itu , tepatnya jam 05.30 aku seperti biasa masih bergemul dalam selimutku, ibu telah beberapa kali membangunkan ku, namun dengan acuh tak acuh aku bangkit dari tidurku, duduk di atas ranjang dengan posisi mata masih tertutup, kemudian aku kembali terjatuh di atas kasur yang empuk itu, aku kembali bermimpi di ujung malam yang hamper berlalu, enak sekali rasnya tidur di subuh hari apa lagi dengan udara di desaku yang dekat pegunungan , udaranya dingin membuat aku semakin enggan melepaskan selimutku, apalagi untuk bergegas ke kamar mandi berwudhu’, subhanallah dingin sekali. Ya walaupun seperti kata ibu sih “ emang dasar kamu nya aja yang malas bangun”, aku hanya cengengesan kalau ibu mengatakan hal itu, paling ia hanya mengomel sebentar melihat putrinya yang malas bangun pagi ini, tapi nanti bentar lagi juga baiklagi. Itulah ibu, seperti pagi ini ia kembali melakonkan dramanya lagi.
“Rizka….ayo bangun, subuh mu udah lewat ne”
Ibu menarik selimutku dan menggoyang-goyangkan tubuhku, aku yang merasa kedinginan kembali menarik selimut dari tangan ibu.
“ah ibu, masih ngantuk ne, bentar lagi aja ya”
Tanpa melihat ke wajah ibu, aku kembali menikmati tidurku,. Aku tau ibuku tipenya paling cepat luluh kalau di bujuk sam anak-anaknya, ia paling tidak tega melihat putrinya ini merengek-rengek. Tapi ternyata pagi ini ibu berbeda, ia tetap bersikeras membangunkanku.
“ayolah rizka bangun, kalau gak ibu siram ne, subuh hamper lewat, kamu ne udah dewasa , gak boleh tinggal shalat lagi, cepat bangun…”
Bla..bla..bla…aku tak tau lagi apa yang ibu bilang , mataku betul-betul terasa begitu berat, karena semalaman aku nonton bola sama ayah dankedua adik-adikku. Melihat aku tak ada reaksi sama sekali ibu rupanya menyerah , ia keluar dari kamarku dan entah kemana , ah mungkinke dapur pikirku atau mungkin ke kamar mandi, tapi tiba-tiba..
“GEDUBRAAKKK…”
Suara itu mengejutkan ku, aku buru-buru bangun dan memanggil-manggil ibu.
“bu, kenapa bu? Suara apa itu?”
Tak ada jawaban, aku keluar dari kamarku menuju ke arah pintu belakang, kulihat di sudut-sudut dapur tak ada ibu di sana, lalu aku membuka pintu kamar mandi.
“astaghfirullah,ibu….”
Aku terkejut melihat ibu tergeletak di dekat bak mandi, ia jatuh dan tak sadarkan diri, lantai kamar mandi sangat licin, seperti nya ia mau membersihkan kamar mandi dan menguras bak, aku panic, aku mengangkat kepala ibu dan menyandarkannya di atas pahaku.
“ayah…ibu yah, ibu jatuh..”
Aku berteriak memanggil ayah, tak kalah dengan aku , ayah juga adalah salah satu dari keluargaku yang susah bangun pagi. Ia terkejut mendengar suaraku, ku dengar derap kakiny setengah berlari menuju kamar mandi, ayah mengangkat ibu dan membawanya ke kamar , aku mengikutinya dari belakng , adikku yang baru pulang lari pagi, bertanya-tanya apa yang terjadi, aku tak menjawab. Adikku yang paling bungsu menangis takut, ia memelukku.
“kenapa bisa jatuh ka?”
Tanya ayah padaku, aku tak menjawab seolah merasa bersalah , karena tadi ibu sudah beberapa kali membangunkanku untuk shalat dan membantunya.
“kamu ayah Tanya koq gak jawab sih? Kenapa ibu bisa jatuh?”
Ayah mulai marah, terlihat matanya sedikit melototiku.
“aku gak tau yah, tadi aku masih tidur tiba-tiba aku mendengar suara seperti ada yang jatuh, pas aku lihat egh rupanya ibu udah pingsan”
Jawabku hamper ingin menangis.
“kamu ini gimana, udah tau ibu kurang sehat malah kamu biarin dia bekerja sendiri pagi-pagi buta seperti ini”
Jawab ayah kesal, tiba-tiba tangan ibu bergerak, ia membukakan matanya. Alhamdulillah ibu sudah sadar kataku dalam hati.
“ibu gak apa-apa?”
Tanya aku berharap tak terjadi apa-apa sam ibu. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
“dimananya yang sakit war?”
Tanya ayah pada ibu, ibu memegang kepala dan tulang punggungnya, sepertinya meski tak keluar darah, kepala ibu terbentur susut bak mandi, terlihat dahinya sedikit lecet. Ayah pergi ke belakang entah untuk apa aku tidak tau, lalu aku duduk di dekat ibu sambil mengurut-ngurut kepalanya.
“aww..”
“aww..”
Ibu sedikit berteriak, sepertinya ia sangat kesakitan. Aku semakin merasa bersalah.
“sakit bu ya? maafin rizka bu ya..”
Ibu tak menjawab, ia hanya tersenyum ke arahku, senyumnya itulah yang membuat hatiku semakin merasa bersalah karena telah menyia-nyiakannya, meski dalam kesakitan sekalipun ia selalu memberikan senyum untukku, ah ibu kau begitu tegar menghadapi tingkah ku ini, kadang aku malu jadi anakmu , karena sering sekali menyakitimu baik dengan tingkah yang ku sengaja atau tidak ku sengaja, sering sekali kau menahan rasa sakit karena diriku, namun aku dalam segala keterbatasanku selalu saja membuatmu tak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua tingklah burukku, maafkan anakmu ini ibu.
Aku hanyut dalam pikiranku sendiri, tak terasa butiran bening itu jatuh dari mataku mengenai wajah ibu, ia menatapku dengan penuh cinta, teduh dan sangat teduh.
“kenapa nak? , jangan menangis, ibu tak ingin melihatmu menangis, sudah..sudah,..”
Tak sanggup lagi ku tahan, akhirnya pecah juga tangisan ku , dengan serta merta tubuhku berhambur memeluh ibu yang terbaring lemas di atas kasur tua itu.
“bu, maafin rizka, rizka bukan anak yang baik…maafin rizka bu”
Aku tersedu-sedu dalam dekapan ibu,ia membelai rambutku lembut.
“sudah jangan nangis lagi, rizka gak salah kok, tadi tu ibu gak hati-hati aja maknya jatuh, ibu gak apa-apa kok, bentar lagi juga bisa jalan lagi”
Aku tetap saja tidak percaya, aku malh semakin menangis , hingga tangisanku terhenti saat seorang dokter perempuan dan ayah masuk ke kamar ibu. Dokter itu adalah dokter langganan keluarga kami, ia tersenyum ramah pada ibu dan bertanya apa yang terjadi, ibu bercerita panjang lebar dan mengatakn bahwa ia susah untuk duduk karena tulang punggungnya terasa sakit, ternyata setelah di periksa tulang punggu ibu patah, dan harus di urut. Aku semakin merasa bersalah, gara-gara kejadian itu ibu tidak bisa pergi mengajar,ia harus berada di rumah selama seminggu, dan susah untuk berjalan dan dudu, namun tetap saja ia bersikeras untuk memasak dan melakukan pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan, sejak kejadian itu aku selalu membantu ibu dan tak pernah lagi banguntelat, itu pelajaran berharga untukku, terimakasih ibu telahmemberikan banyak pelajaran untukku, dan maafkan aku telah membuatmu sering terluka. I love you mom..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar