Selasa, 12 Januari 2016

Surat Cinta Untuk Rasulullah



Dunya, 16 Desember 2015
Assalamu’alaykum ya Rasul…
Perkenalkan namaku Rizka. Wahai Rasulullah, perkenankan aku seorang umat akhir zaman menorehkan tinta untuk kuungkapkan rasa rindu yang terlalu dalam kepadamu, rasa rindu yang menggebu, kadang haru dan kadang beku yang hanya bisa kucurahkan dalam shalawat takzimku dan mencoba untuk mengikuti sunnahmu sebisaku. Wahai Rasul, sungguh engkau hadir ke dunia berabad-abad yang lalu namun namamu masih mengharum di bumi, shalawat cinta, salam takzim, dan pucuk-pucuk rindu masih mengaroma ke angkasa raya. Duhai yang dicinta, jangankan kami bahkan Allah dan para malaikatpun bershalawat kepadamu sebagaimana Allah firmankan dalam surat cintaNya Alqur’an yang mulia. Allahahumma shalli ‘ala Muhammad…
Ya habiby, tika aku kecil ibu dan ayah sering bercerita kepadaku tentang sesosok pemuda keren yang katanya terlahir dari keluarga mulia, mempunyai akhlak yang mulia, bergelarkan yang terpercaya, dan dimu’jizatkan Alqur’an yang mulia. Tidak hanya itu, aku tau namamu, kapan lahirmu, nama ayah dan ibumu, kakekmu, hingga pamanmu dan kisah engkau bersama bani sa’ad sungguh membuat anak kecil ini takjub dan penasaran bagaimanakah wajah yang mulia Muhammad Al musthafa. Lalu, tahun silih berganti, aku yang disekolahkan di madrasah dari MI, Mts, dan MA tentu tak pernah lepas dari mempelajari tentangmu. Namun wahai Rasul tak pernah sama sekali aku merasa bosan mendengar dan membaca kisahmu. Bertambah lagi ketika aku mulai beranjak dewasa, di kampus aku dikenalkan dengan sebuah buku oleh seorang kakak yang berjudul “Shirah Nabawiyah” , disitu aku semakin terpesona dengan akhlakmu. Bagaimana engkau mengadili bani-bani yang sedang berselisih siapakah yang akan memindahkan hajarul aswad ke tempatnya lalu engkau datang memberi solusi sehingga tidak ada yang merasa terdholimi, belum lagi kisah mu memberikan roti kepada yahudi buta yang terus menghinamu di pasar bahkan hingga engkau wafat dan pekerjaan ini digantikan oleh Abu bakar ia masih saja menghinamu hingga ia tersadar bahwa yang menyuapnya saat itu bukanlah dirimu, lalu Abu bakar bercerita bahwa yang memberikannya roti selama ini telah tiada. Maka dengan derai air mata ia memeluk islam yang mulia. Sungguh wahai rasul, aku tersedu mendengar cerita ini, betapa engkau mengajarkan kami berdakwah itu dengan ahsan meski yang didakwahi mencaci.
Wahai ke kasih Allah, baris perbaris shirahmu ku baca, aku semakin merasa cinta. Betapa perjuanganmu menyebarkan risalah Allah ini tidak mudah. Telah kubaca bagaimana engkau diejek, dicaci, dituduh penyihir dan di asingkan di negerimu sendiri. Telah ku dengar bagaimana mereka menyiksa awwalul muslimin saat itu, telah sampai kepadaku berita kemenangan badar dan kekalahan di Uhud, telah aku simak bagaimana perjalanan hijrah yang membiru, dan akhir hidupmu yang membuatku makin tersedu. terimakasih ya Rasul engkau telah mengenalkan kami kepada islam yang sempurna, maafkanlah kami umatmu yang sering alpa lagi lupa bagaimana perjuanganmu menyebar islam. Terimakasih ya Rasul untuk kalimat akhirmu yang begitu penuh cinta, kalimat “ummati…ummati…ummmati” yang menggetarkan hati siapa saja. Ya rasul bahkan di akhir hidupmu, engkau masih memikirkan bagaimana nasib umat ini. Tak engkau tanyakan dimana Aisyah, Fatimah, Hasan atau Husen tapi engkau memanggil dengan penuh cinta “ummati..ummati ..ummati”. Saat nyawamu sudah dikerongkonganpun engkau masih bertanya “ wahai jibril, beginikah rasanya sakaratul maut itu? Apakah umatku akan merasakan ini? Kalau iya, maka tumpahkan saja semua rasa sakit itu kepadaku, agar mereka tidak merasakannya lagi” wahai rasul, betapa mulia dirimu, Jibril pun tak sanggup berkata menyaksikan mu dengan Tanya seperti itu. Ya Allah, betapa aku rindu..rindu bertemu rasul, rindu bisa melihat dan mendengar langsung kekasih yang mulia berbicara kepadaku. Waha Rasul bisakah aku bertetangga denganmu di surga?  T_T aku takut ya Rasul kalau amal-amalku tak cukup untuk hanya bisa bertetangga denganmu disana. Aku ingin sekali wahai Rasul berjumpa denganmu meski hanya dalam mimpi. Maka wahai rasul, doakan aku agar bisa bertetangga denganmu disurga, berikan syafaat kepadaku, aku ingin nanti di surge engkau berkata “ oh ini ummatku Rizka yang dulu pernah menulis surat cinta untukku dan ia terus berusaha mengikuti sunnahku, mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya”, ah betapa aku bahagia saat itu.
Ya rasul, jika kutulis sungguh rinduku belum cukup kuuraikan di atas 2 lembar kertas ini, semoga kelak Allah memperjumpakan kita untukku bercerita bagaimana dunia sepeninggalmu terutama dimasaku. Sampai disini dulu ya Nabi…Allahumma shalli ‘ala Muhammad..
Wassalam, yang merindu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar